Home > Tafsir > Tafsir Surat Al Ikhlas

Tafsir Surat Al Ikhlas

22 February 2012 Leave a comment Go to comments

Makna Ahad
Hanya ada dua surat dalam Alquran yang judul atau namanya justru sama sekali tidak disebut di dalam suratnya. Kedua surat tersebut adalah Alfatihah (surat pertama) dan al-Ikhlas (surat ke 112). Selain keunikan tersebut, surat al-Ikhlas mengandung penjelasan pandangan Islam tentang ketuhanan, yaitu tauhid, yang juga unik atau berbeda dibandingkan pandangan agama-agama lain.

Berdasarkan keterangan Imam Qatadah, Dhahak dan Muqatil, surat ini turun atas pertanyaan beberapa orang Yahudi kepada Rasulullah SAW. Mereka berkata, “Terangkan kepada kami wujud Tuhan-mu, karena di dalam Taurat Dia hanya menerangkan sifat-Nya. Jelaskan kepada kami terbuat dari apa Dia? Dari jenis apa? Apakah dari emas atau perak? Apakah Dia makan dan minum? Dari siapa Dia mewarisi dunia dan kepada siapa Dia mewariskannya?” (Asbab Al-Nuzul lil Wahidi Al-Naisaburi).

Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, melalui riwayat Imam Ahmad, disebutkan bahwa kaum musyrikin datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya kepada Beliau, “Terangkan kepada kami bagaimana wujud Tuhanmu”. Lalu turunlah surat al-Ikhlas di Makkah untuk menjawab pertanyaan mereka. Masih banyak lagi riwayat yang secara redaksi hampir sama, berkisar pertanyaan orang-orang musyrik akan wujud Tuhannya Muhammad SAW.

Kata ikhlas berasal dari akar kata “khalasha” dalam bahasa Arab, yang berarti murni, atau pemurnian. Surat Al-Ikhlas ini memang berbicara soal pemurnian tauhid, pemurnian ketaatan kepada Allah SWT.

Ayat pertama dalam surat al-Ikhlas adalah Qul huwa l-laahu ahad. Terjemahan harfiahnya: “Katakanlah: Dia ALLAH Yang Esa.” Untuk menelusuri asal-usul istilah ALLAH sebagai nama Tuhan, kita harus menggali bahasa Mesopotamia purba, sebab bangsa Arab merupakan keturunan Nabi Ibrahim a.s. yang berasal dari Mesopotamia.

Tuhan dalam bahasa Mesopotamia disebut El atau Il (nama negeri Babilonia dari Bab-El atau Bab-Il berarti ‘Pintu Tuhan’). Anak cucu Nabi Ibrahim a.s. kelak, yaitu bangsa Ibrani dan bangsa Arab, memodifikasi nama ini dengan penambahan huruf Ha (‘Dia’), masing-masing menjadi Eloh dan Ilah. Ibrahim sendiri bukan bangsa Ibrani ataupun Arab, namun ia adalah bapak dari dua bangsa tersebut.

Nama yang terakhir ini kemudian diberi kata sandang (isim makrifat/artikel definitif) Al-, menjadi Al-Ilah atau Allah. Kata Allah ini dalam konsensus bahasa Arab merupakan isim mudzakar (menunjukkan maskulinitis), sedangkan ciptaannya  yaitu langit dan bumi, juga ruh menggunakan isim muannats (menunjukkan feminitas). Istilah El dan Il sebagai nama Tuhan masih dijumpai dalam bahasa Ibrani dan Arab pada nama-nama Gabriel (Jibril), Michael (Mikail), Yishma`el (Isma`il), Yisrael (Israil), dan sebagainya.

Jadi, orang-orang Arab sebelum Islam sudah menggunakan istilah ALLAH untuk menamai Sang Khaliq yang menciptakan langit dan bumi. Hal ini diterangkan dalam surat al-Ankabut 61:
Wa laïn saältahum man khalaqa s-samaawaati wa l-ardha wa sakhkhara sy-syamsa wa l-qamar, la yaquulunna l-laah, fa annaa yu’fakuun
(“Dan sekiranya engkau menanyai mereka: siapa yang menciptakan langit dan Bumi serta menyediakan Matahari dan Bulan, mereka pasti mengatakan ‘Allah’, maka betapa mereka dipalingkan”). Akan tetapi orang-orang Arab itu mempersekutukan Allah dengan berbagai ilah yang lain.

Itulah sebabnya ayat pertama ini menggunakan kata ahad. “Esa”, yang betul-betul satu, yang harus di’satu’kan, yang merupakan ‘satu-satunya’, bukan urutan bilangan. Bukan sekadar wahid  atau “satu” sebagai nama bilangan. Maksud bahwa “Ahad bukan bilangan” artinya Allah bukan merupakan hasil dari ½  + ½ atau dengan kata lain bukan hasil koalisi. Bukan pula bermakna 2 – 1 yang merupakan hasil dari perebutan kekuasaan. Jadi “Allahu Ahad” berarti Allah itu satu secara mutlak dalam segala hal: Esa dalam wujud-Nya, Esa dalam sifat-Nya, dan Esa dalam karya-Nya.

Kata “ahad” merupakan istilah untuk menegasikan keberadaan yang lain. Ahad juga bisa berarti tidak ada yang sebanding. Sedangkan kata “wahid” merupakan bilangan pertama dalam hitungan yang artinya “satu”. Tatkala disebutkan wahid (satu), ada kemungkinan berbilang menjadi dua atau tiga. Sehingga dari ayat ini kita dapat memahami bahwa Allah itu tunggal, tidak berbilang sebagaimana keyakinan orang-orang di luar Islam.

Kata Allah dalam Alquran, selalu disandingkan dengan kata ahad. Berbeda tatkala Allah mewakilkan diri-Nya dengan kata ilah (Tuhan) yang selalu bersandingan dengan kata wahid. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan manusia di dunia ini akan adanya Tuhan tidak hanya satu, tetapi berbilang tergantung keyakinan masing-masing orang.

Tanpa padanan, tanpa bandingan
Ayat kedua surat al-Ikhlas adalah: Allaahu sh-shamad. Terjemahan harfiahnya: “Allah tang tiada terbagi”. Ayat kedua merupakan khabar (yang menerangkan) dari mubtada (yang diterangkan) pada ayat pertama. Dalam istilah disiplin ilmu Alquran, hal ini dikenal sebagai tafsir Alquran bil Quran, maksudnya ayat Alquran ditafsirkan (dijelaskan) oleh ayat Alquran yang lainnya.

Tafsir “ash-shamad” pada umumnya adalah “tempat bergantung”. Tafsiran tersebut muncul dari (salah satu) makna kata “ash-shamad” yaitu menuju, sengaja, dan bisa juga diartikan berpegang pada sesuatu. Ibnu Abbas melalui riwayat Ikrimah mengatakan bahwa “ash-shamad” adalah “bermuaranya segala kebutuhan dan masalah makhluk kepada-Nya. Namun, tafsir ini tidak mampu menunjukkan hubungan (munasabah) dengan ayat sebelumnya yaitu Qul huwa l-laahu ahad, maupun ayat setelahnya Lam yalid wa lam yuulad.

Para ahli tafsir lainnya mengatakan bahwa “ash-shamad” adalah “Dzat yang tidak ada celah pada dirinya atau tidak berlubang (al-mushmat)”. Dinding yang tak berjendela disebut “haith mushmat” dan kuda yang tidak bercampur dengan warna lain disebut “farsun mushmat” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4 halaman 575).

Ash-shamad berasal dari kata kerja “shamida, yashmadu” yang artinya “memadatkan”, maka ayat ini memiliki arti “sesuatu yang padat, tidak berongga, tidak dapat dibagi-bagi”.  Mufassir termasyhur, Abu Ja`far Muhammad Ibn Jarir Ath-Thabari (wafat 310/ 922), dalam buku tafsirnya, Jaami`u l-Bayaan `an Ta’wili l-Qur’aan (sering disebut Tafsir Thabari saja), menegaskan bahwa arti ash-shamad adalah laa jawfa lahuu (“tiada rongga bagi-Nya”).

Ash-shamad pada ayat kedua ini lebih tepat diletakkan sebagai penjabaran dari sifat ahad pada ayat pertama. Allah itu Esa secara mutlak. Keesaan Allah itu sedemikian “padat”-nya sehingga tidak dapat dibagi-bagi lagi. Berbeda dengan ajaran Nasrani yang juga beriman kepada Tuhan Yang Esa, tetapi membagi-baginya menjadi “tiga pribadi” (Trinitas): Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Tuhan Ruh Kudus. Juga bukan seperti ajaran Hindu yang mengakui adanya Tuhan Yang Esa, tetapi membagi-baginya menjadi ‘tiga wajah’ (Trimurti): Tuhan Pencipta (Brahma), Tuhan Pemelihara (Wisnu), dan Tuhan Pembinasa (Syiwa).

Ash-shamad secara fisika dapat ditafsirkan sebagai “bebas dari ruang dan waktu”. Segala sesuatu di alam semesta ini berpasang-pasangan, setiap hal berbeda satu sama lain. Masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan namun saling membutuhkan dan melengkapi. Tidak demikian halnya dengan Allah yang bersifat ahad. Karena Dia tunggal, hanya ada satu-satunya, tidak memiliki pasangan, tidak memiliki kekurangan ataupun kelebihan, maka Dia tidak membutuhkan apapun. “Padat” atau tidak berongga dengan demikian bisa bermakna “tidak membutuhkan sesuatu yang lain untuk mengisi”.

Ayat ketiga surat al-Ikhlas adalah Lam yalid wa lam yuulad. Terjemahan harfiahnya: “Tidaklah Dia beranak dan tidaklah Dia diperanakkan.”
Karena Allah bersifat ahad (esa) dan shamad (tak terbagi), maka jelas Dia tidak pantas mempunyai anak (meskipun dalam arti kiasan), dan Dia tidaklah diperanakkan oleh sesuatu.

Ayat ketiga ini menegaskan sesatnya ajaran Nasrani yang menganggap adanya Tuhan Bapa (Allah), Tuhan Anak (Isa al-Masih, yang sering mereka latinkan menjadi ‘Jesus Kristus’), dan Tuhan Ruh Kudus (Jibril atau ‘Gabriel’)  Sebagaimana tercantum dalam Surat al-Ma’idah 73: Laqad kafara l-ladziina qaaluu inna l-laaha tsaalitsu tsalaatsah. Wa maa min ilaahin illaa ilaahun waahid (Sungguh benar-benar kafir mereka yang mengatakan ‘sesungguhnya Allah itu ketiga dari yang tiga’, padahal tiada Tuhan selain Tuhan Yang Esa).

Sekaligus Allah menegaskan sesatnya ajaran orang-orang Arab sebelum Islam yang mengatakan bahwa Lata, `Uzza dan Manat adalah anak-anak perempuan Allah, sebagaimana disindirkan Allah dalam surat an-Najm 19-21: Afa raäytumu l-laata wa l-`uzzaa, wa manaata ts-tsaalitsata l-ukhraa,  alakumu dz-dzakaru wa lahu l-untsaa (Maka apakah kamu menganggap Lata dan `Uzza, serta Manat yang ketiga lainnya, sehingga untuk kalian anak lelaki dan untuk-Nya anak perempuan?).

Kesimpulan Surat Al-Ikhlas terletak pada ayat keempatnya yaitu Wa lam yakun lahuu kufuwan ahad. Terjemahan harfiahnya: “Dan tidaklah ada bagi-Nya yang setara satupun!”.
Tidak ada yang sekutu (sebanding) dengan Allah. Hal ini dijabarkan oleh Allah sendiri dalam surat Al-Isra’ ayat 111: Wa quli l-hamdu li l-laahi l-ladzii lam yattakhidz waladaa, wa lam yakun lahuu syariikun fi l-mulk, wa lam yakun lahuu waliyyun mina dz-dzull, wa kabbirhu takbiiraa (“Dan katakanlah: Segala puji bagi Allah yang tidak pernah mengambil anak, dan tidaklah ada baginya sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidaklah perlu baginya penolong dari keterbatasan, serta agungkanlah Dia seagung-agungnya).

Categories: Tafsir
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: