Terpilihnya Muhammad Mursi, Gerakan Arab Spring, & Akhir Zaman

25 June 2012 1 comment

Pemilihan Presiden Mesir
Berita terakhir berkaitan dengan gerakan Arab Spring adalah terpilihnya Mohamed Mursi sebagai Presiden Mesir pengganti Presiden Hosni Mubarak yang digulingkan dalam revolusi pada awal tahun lalu, sesuai dengan keputusan Komisi Pemilihan Presiden yang diumumkan Ketua Komisi, Farouk Soltan.

Komisi Pemilihan Umum Mesir menyatakan Mursi meraih 51,73% suara, mengalahkan mantan perdana menteri Ahmed Shafiq. Mursi meraih 13.230.131 suara sementara Shafiq mendapat 12.347.380 dengan tingkat partisipasi pemilih mencapai 51,8% dari lebih 50 juta warga Mesir yang memiliki hak untuk memberikan suara. Muhammed Mursi merupakan calon presiden dari Partai Kebebasan dan Keadilan, yang merupakan partai bentukan Ikhwanul Muslimin.

Pengumuman kemenangan Mursi ini disambut dengan sorak sorai para pendukung Ikhwanul Muslimin yang berkumpul di Lapangan Tahrir, Kairo. Mereka sudah berkumpul di lapangan itu selama beberapa hari belakangan sebagai protes atas dekrit yang dikeluarkan oleh Dewan Agung Militer, SCAF, yang menurut mereka dibuat untuk mengurangi atau membatasi kekuatan presiden dan melindungi kekuasaan militer.

Pada tanggal 13 Juni, Kementrian Kehakiman memberi wewenang kepada tentara untuk menangkap para pegiat sipil dan diadili di pengadilan militer sampai konstitusi baru disahkan. Empat hari kemudian, ketika pemungutan suara untuk pemilihan presiden tahap kedua berlangsung, para jenderal mengeluarkan pernyataan konstitusional sementara yang memberi mereka semua kekuasan legislatif dan meningkatkan peran mereka dalam merancangan konstitusi.

Senin 18 Juni, Ketua SCAF, Jenderal Mohammed Hussein Tantawi, mengumumkan dibentuknya kembali Dewan Pertahanan Nasional, yang menempatkan para jenderal memegang kebijakan keamanan nasional Mesir. SCAF sudah berjanji akan mengalihkan kekuasaan kepada presiden terpilih pada 30 Juni namun keputusan mereka untuk membubarkan parlemen membuat Mohammed Mursi akan menduduki jabatan presiden tanpa adanya parlemen dan juga tanpa konstitusi yang menjamin wewenang kekuasaan maupun tugasnya.

Terpilihnya Muhammed Mursi menjadi presiden Mesir, tak lepas dari dukungan Majelis Syuro Ulama Mesir yang mengumumkan mendukung Dr. Muhammad Mursi, kandidat presiden Ikhwanul Muslimin dan Hizbul Hurriyah wal ‘Adalah untuk menjadi Presiden Mesir dan memperjuangkan pemenangannya. Dukungan itu diberikan setelah Majelis mengambil janji dan kesepakatan dengan Dr. Mursi agar beliau berijtihad dalam menegakkan hukum syariah sesuai manhaj ahlus sunnah wal jamaah sesuai kemampuannya, menjaga persatuan umat Islam dan menjahui fanatisme kepartaian, agar berjuang menyelamatkan orang-orang yang terzhalimi dan mengentaskan kemiskinan, membantu kaum lemah dan tidak menjauh dari rakyat.

Komitmen dengan dukungan Majelis Syuro tersebut, seperti dilansir dari stasiun televisi Al Arabiya, Muhammad Mursi berjanji jika ia terpilih menjadi presiden, Mesir tidak akan lagi tunduk kepada negara-negara Barat. “Kita tidak akan tunduk lagi pada Barat. Saya akan mengembalikan martabat dan kebanggaan sebagai rakyat Mesir.

Sepintas Tentang Muhammad Mursi
Mursi, lahir di Desa Adwah, Provinsi Syarqiyah, bagian timur Mesir, pada 20 Agustus 1951 dari keluarga petani sederhana. Saat ini, doktor teknik lulusan Amerika Serikat itu mengetuai Partai Kebebasan dan Keadilan atau Hizbul Hurriyah Wal Adalah, sayap politik Ikhwanul Muslimin. Mursi meraih doktor bidang teknik material pada University of Southern California pada 1982, dan pernah menjadi dosen atau profesor pembantu di universitas di AS itu pada 1982-1985.

Pada 1985-2010, Mursi mengetuai jurusan teknik material di Universitas Zakazik, Mesir, dan dosen teknik di Cairo University. Sejak 1977, Mursi mulai aktif di Ikhwanul Muslimin dan berulang kali masuk penjara, baik di masa Presiden Anwar Saddat (1970-1981) maupun di era Presiden Hosni Mubarak (1981-2011) atas tuduhan melakukan gerakan bawah tanah untuk menggulingkan pemerintah. Memang, sepanjang tiga rezim Mesir mulai dari Presiden Gamal Abdel Nasser (1953-1970), berlanjut rezim Presiden Anwar Saddat (1970-1981) hingga Presiden Mubarak (1981-2011), Ikhwanul Muslimin dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Jabatan terakhir di Ikhwanul Muslimin, sebagai anggota (Irsyad) atau dewan pimpinan tertinggi di jajaran organisasi berpengaruh tersebut. Dalam pemilihan umum pada 2000, Mursi terpilih sebagai anggota parlemen dan kemudian terpilih menjadi juru bicara kubu Ikhwanul Muslimin di dewan legislatif itu.

Sepintas Tentang Arab Spring
Arab Spring biasa dipahami sebagai kebangkitan dunia Arab atau musim semi Arab (bahasa Inggris: The Arab Spring; bahasa Arab: الثورات العربية, secara harafiah bisa juga didefinisikan sebagai pemberontakan Arab. Dengan demikian, Arab Spring dapat juga diterjemahkan gelombang revolusi unjuk rasa dan protes yang terjadi di dunia Arab.

Sejak 18 Desember 2010, telah terjadi revolusi di Tunisia dan Mesir; perang saudara di Libya; pemberontakan sipil di Bahrain,  Suriah, Yaman; protes besar di Aljazair, Irak, Yordania, Maroko, dan Oman, protes kecil di Kuwait, Lebanon, Mauritania, Arab Saudi, Sudan, dan Sahara Barat.

Kerusuhan di perbatasan Israel bulan Mei 2011 juga terinspirasi oleh kebangkitan dunia Arab ini. Protes ini menggunakan teknik “pemberontakan sipil” dalam kampanye yang melibatkan serangan, demonstrasi, pawai, dan pemanfaatan media sosial, seperti Facebook, Twitter, YouTube, dan Skype, untuk mengorganisir, berkomunikasi, dan meningkatkan kesadaran terhadap usaha-usaha penekanan dan penyensoran Internet oleh pemerintah. Banyak unjuk rasa ditanggapi keras oleh pihak berwajib, serta milisi dan pengunjuk rasa pro-pemerintah. Slogan pengunjuk rasa di dunia Arab yaitu Ash-sha`b yurid isqat an-nizam (“Rakyat ingin menumbangkan rezim ini”).

Pada Juli 2011, unjuk rasa ini telah mengakibatkan penggulingan dua kepala negara, yaitu Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali yang kabur ke Arab Saudi tanggal 14 Januari setelah protes revolusi Tunisia, dan di Mesir, Presiden Hosni Mubarak mengundurkan diri pada 11 Februari 2011, setelah 18 hari protes massal dan mengakhiri masa kepemimpinannya selama 30 tahun.

Selama periode kerusuhan regional ini, beberapa pemimpin negara mengumumkan keinginannya untuk tidak mencalonkan diri lagi setelah masa jabatannya berakhir. Presiden Sudan Omar al-Bashir mengumumkan ia tidak akan mencalonkan diri lagi pada 2015, begitu pula Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki, yang masa jabatannya berakhir tahun 2014, meski unjuk rasa semakin menjadi-jadi menuntut pengunduran dirinya sesegera mungkin.Protes di Yordania juga mengakibatkan pengunduran diri pemerintah sehingga mantan Perdana Menteri and Duta Besar Yordania untuk Israel Marouf al-Bakhit ditunjuk sebagai Perdana Menteri oleh Raja Abdullah dan ditugaskan membentuk pemerintahan baru.

Pemimpin lain, Presiden Ali Abdullah Saleh dari Yaman, mengumumkan pada 23 April bahwa ia akan mengundurkan diri dalam waktu 30 hari dengan imbalan kekebalan hukum, sebuah persetujuan yang diterima oposisi Yaman secara tidak formal pada 26 April; Saleh kemudian mengingkari persetujuan ini dan semakin memperpanjang pemberontakan di Yaman. Pemimpin Libya Muammar al-Gaddafi menolak mengundurkan diri dan mengakibatkan perang saudara antara pihak loyalis dan pemberontak yang berbasis di Benghazi.

Dampak protes ini secara geopolitik telah menarik perhatian global, termasuk usulan agar sejumlah pengunjuk rasa dicalonkan untuk menerima Hadiah Perdamaian Nobel 2011. Tawakel Karman dari Yaman merupakan salah satu penerima Hadiah Perdamaian Nobel 2011 sebagai salah seorang pemimpin penting dalam Musim Semi Arab.

Keterlibatan Uni Eropa
Arab Spring memang telah menjadi pusat perhatian dunia saat ini. Tidak terkecuali Uni Eropa dan Indonesia. Pada 28 Februari 2012, di Jakarta diselenggarakan Konferensi tentang Timur Tengah yang diselenggarakan oleh Uni Eropa (UE) dan Indonesian Council on World Affairs (ICWA) di Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia dan dihadiri oleh sekitar 200 peserta dari kementerian, lembaga riset, masyarakat madani, dan perwakilan diplomatik. Konferensi ini membahas tentang dampak dari perubahan-perubahan yang terjadi di beberapa negara Arab dan kontribusi yang diberikan oleh Indonesia dan Uni Eropa untuk transisi menuju demokrasi di kawasan tersebut.

Yang menarik dan patut kita perhatikan adalah adanya komitmen bantuan keuangan sebesar € 1 milyar telah didedikasikan oleh Uni Eropa untuk mendukung perubahan di Timur Tengah. Hingga dana bantuan yang telah di programkan menjadi € 5,7 milyar. Setelah pada bulan lalu telah setuju untuk menganggarkan € 4,8 juta untuk reformasi politik dan ekonomi di Tunisia dan Maroko.

Analisis Syaikh Imran Husein
Tidak ada sejarah yang betul-betul dikuasai Yahudi tanpa melalui jalur peperangan. Untuk menguasai Palestina, mereka berperang; untuk mendapatkan minyak, mereka berperang; untuk menghancurkan Islam, mereka pun bersusah payang melalui jalan peperangan. Meski harus memakai tangan orang lain. Tidak terkecuali di Timur Tengah.

Analisa ini lahir dari pakar konspirasi dan akhir zaman kawakan, Syaikh Imran Hussein, dalam sebuah ceramahnya di Lakemba. Beliau mengatakan bahwa Revolusi Timur Tengah (Arab Spring) tidak lepas dari skenario panjang kaum Yahudi. Hasil dari revolusi ini adalah munculnya beberapa pemerintah yang menyatakan dirinya sebagai “pemerintahan Islam” di Timur Tengah. Sebuah pemerintahan yang anti Amerika dan juga anti Israel. “Dan Yahudi akan selalu berdo’a jika itu terjadi,” ujar pakar akhir zaman ini.

Menariknya, Syaikh Imran Husein memprediksi Revolusi Timur Tengah ini jauh sebelum meletusnya Arab Spring di tahun 2011. Sejak tahun 2003, Syaikh Imran sudah memprediksi akan terjadi kekacauan di Timur Tengah yang menumbangkan rezim-rezim diktator.

Memang benar adanya, bahwa sejak tahun 2003, diam-diam George Bush sudah mengumumkan sebuah proyek besar yang akan mengubah peta baru dunia Timur Tengah. Ia menamakannya Great Middle East. Rencana tersebut kemudian kian dimatangkan Bush pada tahun 2004 dengan menggelontorkan uang 80 Juta Dolar yang dialokasikan bagi LSM Pro Demokrasi dan Jaringan Media di sejumlah negara Arab.

Lantas pertanyaannya adalah mengapa Yahudi justru melakukan konspirasi untuk menumbuhkan pemerintahan yang anti mereka? Jawabannya adalah karena dengan bermunculannya pemerintahan muslim di Timur Tengah, Yahudi memiliki legitimasi untuk memprovokasi warganya untuk bangkit dan berperang mengalahkan umat muslim. “Jika kita tidak melakukan sesuatu, kita semua akan disembelih oleh muslim fanatik,” ungkap Syekh Imran Husein menirukan seruan para Rabi Yahudi (Zionis).
Ketika pemerintahan-pemerintahan muslim ini mulai bermunculan, kita akan menyaksikan berita hangat yang akan disiarkan berhari-hari terkait serangan 11 september. Televisi-televisi yang sudah bekerja dalam jaringan Yahudi akan bergerak serempak menampilkan sisi buruk fundamentalisme Islam. Dalam hal ini kantor berita CNN akan berada pada garda terdepan. Dan media di seluruh dunia akan dimanfaatkan untuk menggambarkan skenario yang terjadi seperti efek domino.

Televisi-televisi ini akan menyiarkan bahwa bangkitnya dunia Islam adalah jalan untuk menyapu habis semua pemerintahan yang ada. Bahwa berdirinya pemerintahan muslim adalah lonceng berdentang bagi kematian kaum Yahudi. Dan para Rabbi Yahudi (Zionis) akan membangkitkan semangat perlawanan bangsanya untuk bangkit dan melawan tumbuhnya hegemoni Islam. “Kita harus melakukan sesutu jika hanya duduk berdiam diri. Israel akan dihancurkan dan semua Yahudi akan dipenggal,” kata mereka.

Syaikh Imran Husein menegaskan bahwa ketika hal ini terjadi ini maka pertunjukkan paling menakjubkan dalam sejarah Yahudi (Zionis) akan segera dimulai. Sebuah perang yang Paman Sam (AS) sebagai mitra Israel sendiripun belum pernah menyaksikannya. Karena Israel memiliki senjata yang tidak dimiliki oleh AS. “Mereka akan mengelaurkan segala senjatanya agar rakyat dunia tahu bahwa mereka akan menjadi negara adikuasa baru.

Maka tepatlah kata Vladimir Jabotinsky (1880-1940), seorang revisionis Zionis dan pemimpin organisasi teroris Betar sebelum berdirinya Israel, katanya: “Aku berperang maka aku ada”. Ya sebuah diktum Corgito Ergo Sum ala Descartes yang dirubah menjadi semangat perperangan. Dan kebutuhan perang ini tidak saja menjadi semangat Jabotinsky, karena perintah Taurat yang mendelegasikan bahwa Tanah Sungai Nil hingga Eufrat adalah hak kaum Yahudi mustahil bisa didapati jika Yahudi hanya berdiam diri dan melulu mengandalkan ghazwul fikri apalagi rekonsiliasi.

Arab Spring dan Akhir Zaman
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 157 dari Abu Hurairah secara marfu’ dengan lafazh:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرَ الْمَالُ وَيَفِيضَ حَتَّى يَخْرُجَ الرَّجُلُ بِزَكَاةِ مَالِهِ فَلَا يَجِدُ أَحَدًا يَقْبَلُهَا مِنْهُ وَحَتَّى تَعُودَ أَرْضُ الْعَرَبِ مُرُوجًا وَأَنْهَارًا

“Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya, tetapi dia tidak mendapatkan seorang pun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi murujan wa anharan.”
Sebagian menerjemahkan kata murujan wa anharan dengan: subur lagi makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai.”

Hanya saja Imam An-Nawawi berkata dalam menafsirkan kedua kata di atas (murujan wa anharan):

معناه والله أعلم أنهم يتركونها ويعرضون عنها فتبقى مهملة لا تزرع ولا يسقى من مياهها وذلك لقلة الرجال وكثرة الحروب وتراكم الفتن وقرب الساعة وقلة الآمال لذلك والاهتمام به

“Maknanya -wallahu a’lam- bahwa mereka (orang-orang Arab) tidak mengolahnya tanah mereka dan mereka berpaling darinya, sehingga jadilah tanah mereka terlantar, tidak ditanami, dan mata-mata airnya tidak diambil airnya untuk pengairan tanaman. Hal itu terjadi karena pada saat itu jumlah laki-laki sedikit, banyak terjadi peperangan, banyaknya tersebar fitnah, dan kiamat telah dekat. Harapan dan perhatian untuk itu (pengolahan tanah) menjadi sedikit.” (Syarh Muslim: 7/97)

Penjelasan Imam Nawawi di atas bersesuaian dengan keadaan yang terjadi saat ini. Ternyata murujan wa anharan yang dimaksud Rasulullah SAW bukanlah jaziran Arab yang hijau subur makmur, melainkan jazirah Arab yang penuh dengan pergolakan karena tersebarnya fitnah (konspirasi) pihak-pihak yang memusuhi Islam.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, Uni Eropa telah menggelontorkan uang sebesar € 5,7 milyar untuk mendukung perubahan di Timur Tengah. Di lain pihak, mantan presiden AS, George W. Bush, pada tanggal 15 Mei 2012 menyatakan, Amerika Serikat harus berada bersama para ‘reformis’ di Timur Tengah dan Afrika Utara bersamaan dengan euforia revolusi untuk membangun masyarakat demokratis.

“Saya tidak percaya pada penggunaan cara-cara yang menunjukkan kelemahan, seperti diplomasi, perundingan, dan sejenisnya,” tegas Ariel Sharon.
Jadi, jika Yahudi (Zionis) sudah menyiapkan segala upayanya untuk menaklukan umat muslim, sudahkah kita menyiapkan diri menjadi mujahid untuk melawan mereka? Inilah akhir zaman.

sumber:
Wikipedia Nasionalis Rakyat Merdeka Antara News BBC Indonesia Era Muslim
Al Atsariyyah Ar Rahmah Harakatuna

Categories: Akhir Zaman

Kartini & Theosofi (3)

20 April 2012 Leave a comment

Tepatkah jika Kartini, berpikiran Barat dan berpaham Theosofi, dijadikan ikon bagi perjuangan kaum wanita pribumi?

Sejarah mencatat, ada banyak perempuan yang hidup sezaman dengan Kartini yang namanya begitu saja dilupakan dalam perannya memajukan pendidikan kaum hawa di negeri ini. Di antara nama itu adalah Dewi Sartika (1884-1947) di Bandung yang juga berkiprah memajukan pendidikan kaum perempuan. Dewi Sartika tak hanya berwacana, tapi juga mendirikan lembaga pendidikan yang belakangan bernama Sakolah Kautamaan Istri (1910). Selain Dewi Sartika, ada Rohana Kudus, kakak perempuan Sutan Sjahrir, di Padang, Sumatera Barat, yang berhasil mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916).

Kartini, seperti yang tersirat dalam tulisan Prof Harsja W Bachtiar, adalah sosok yang diciptakan oleh Belanda untuk menunjukkan bahwa pemikiran Barat-lah yang menginspirasi kemajuan perempuan di Indonesia. Atau setidaknya, bahwa proses asimiliasi yang dilakukan kelompok humanis Belanda yang mengusung Gerakan Politik Etis pada masa kolonial, telah sukses melahirkan sosok yang Kartini yang ”tercerahkan” dengan pemikiran Barat

Karena itu, Harsja menilai, sejarah harus jujur dan secara terbuka melihat jika memang ada orang-orang yang juga mempunyai peran penting seperti Kartini, maka orang-orang tersebut juga layak mendapat penghargaan serupa, tanpa menihilkan peran yang dilakukan oleh Kartini.

Soal sosok Kartini yang diduga menjadi ”mitos dan rekayasa” yang diciptakan oleh kolonialis juga menjadi perhatian sejarawan senior Taufik Abdullah. Ia menulis:

”Tak banyak memang ”pahlawan” kita resmi atau tidak resmi yang dapat menggugah keluarnya sejarah dari selimut mitos yang mengitari dirinya. Sebagian besar dibiarkan aman tenteram berdiam di alam mitos—mereka adalah ”pahlawan” dan selesai masalahnya. R. A Kartini adalah pahlawan tanpa henti membiarkan dirinya menjadi medan laga antara mitos dan sejarah. Pertanyaan selalu dilontarkan kepada selimut makna yang menutupinya. Siapakah ia sesungguhnya? Apakah ia hanya sekadar hasil rekayasa politik etis pemerintah kolonial yang ingin menjalankan politik asosiasi?”

Perjuangan dan pemikiran Kartini, terutama yang berhubungan dengan pluralisme, memang mendapat perhatian dunia internasional. Ny Eleanor Roosevelt, istri Presiden AS Franklin D Roosevelt memberikan pernyataan tentang perjuangan Kartini:

”Saya senang sekali memperoleh pandangan-pandangan yang tajam yang diberikan oleh surat-surat ini. Satu catatan kecil dalam surat itu, menurut saya merupakan sesuatu yang patut kita semua ingat. Kartini katakan: Kami merasa bahwa inti dari semua agama sama adalah hidup yang benar, dan bahwa semua agama itu baik dan indah. Akan tetapi, wahai umat manusia, apa yang kalian perbuat dengan dia? Daripada mempersatukan kita, agama seringkali memaksa kita terpisah, dan sedangkan gadis yang muda ini, menyadari bahwa ia harus menjadi kekuatan pemersatu”.

Siapa Ny. Eleanor Roosevelt? Dalam buku Decoding the Lost Symbol, Simon Cox menyebut Eleanor Roosevelt adalah aktivis organisasi the Star of East, sebuah organisasi yang berada di bawah kendali Freemasonry, yang menerima perempuan sebagai anggotanya. Di Batavia, organisasi the Star of East (Bintang Timur), pada masa lalu sangat mengakar dengan berdirinya loge Freemasonry, De Ster in het Oosten (Bintang Timur) di kawasan Weltevreden, yang sekarang berada di jalan Boedi Oetomo.

Jadi, masih mengidolakan Kartini? [sumber]

Categories: Akhir Zaman

Kartini & Theosofi (2)

20 April 2012 Leave a comment

Pengaruh Theosofi dalam Pemikiran Kartini

Surat-surat Kartini kepada Ny. Abendanon, orang yang dianggap satu-satunya sosok yang boleh tahu soal kehidupan batinnya, dan surat-surat Kartini lainya para humanis Eropa keturunan Yahudi di era 1900-an sangat kental nuansa Theosofinya. Seperti ditulis dalam surat-suratnya, Kartini mengakui ada orang yang mengatakan bahwa dirinya tanpa sadar sudah masuk kedalam alam pemikiran Theosofi.

Bahkan, Kartini mengaku diperkenalkan kepada kepercayaan dengan ritual-ritual memanggil roh, seperti yang dilakukan oleh kelompok Theosofi. Selain itu, semangat pemikiran dan perjuangan Kartini juga sama sebangun dengan apa yang menjadi pemikiran kelompok Theosofi. Inilah yang kemudian, banyak para humanis yang menjadi sahabat karib Kartini begitu tertarik kepada sosok perempuan ini.

Kartini juga kerap mendapat kiriman buku-buku dari Ny Abendanon, yang di antaranya buku tentang humanisme, paham yang juga lekat dengan Theosofi dan Freemasonry. Diantara buku-buku yang dibaca Kartini adalah, Karaktervorming der Vrouw (Pembentukan Akhlak Perempuan) karya Helena Mercier, Modern Maagden (Gadis Modern) karya Marcel Prevost, De Vrouwen an Socialisme (Wanita dan Sosialisme) karya August Bebel dan Berthold Meryan karya seorang sosialis bernama Cornelie Huygens.

Berikut surat-surat Kartini yang sangat kental dengan doktrin-doktrin Theosofi:
”Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni. ” (Surat kepada Ny Abendanon, 14 Desember 1902).

Kami bernama orang Islam karena kami keturunan orang-orang Islam, dan kami adalah orang-orang Islam hanya pada sebutan belaka, tidak lebih. Tuhan, Allah, bagi kami adalah seruan, adalah seruan, adalah bunyi tanpa makna…” (Surat Kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902).

Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani, maupun Islam, dan lain-lain” (Surat 31 Januari 1903).

Kalau orang mau juga mengajarkan agama kepada orang Jawa, ajarkanlah kepada mereka Tuhan yang satu-satunya, yaitu Bapak Maha Pengasih, Bapak semua umat, baik Kristen maupun Islam, Buddha maupun Yahudi, dan lain-lain.” (Surat kepada E. C Abendanon, 31 Januari 1903).

Ia tidak seagama dengan kita, tetapi tidak mengapa, Tuhannya, Tuhan kita. Tuhan kita semua.” (Surat Kepada H. H Van Kol 10 Agustus 1902).

Betapapun jalan-jalan yang kita lalui berbeda, tetapi kesemuanya menuju kepada satu tujuan yang sama, yaitu Kebaikan. Kita juga mengabdi kepada Kebaikan, yang tuan sebut Tuhan, dan kami sendiri menyebutnya Allah.” (Surat kepada Dr N Adriani, 24 September 1902).

Dari surat-surat tersebut, sangat jelas bahwa corak pemikiran Kartini sangat Theosofis, yang di antara inti ajaran Theosofi adalah kebatinan dan pluralisme.

Mengenai keterkaitan dan hubungannya dengan Theosofi, Kartini mengatakan:

Orang yang tidak kami kenal secara pribadi hendak membuat kami mutlak penganut Theosofi, dia bersedia untuk memberi kami keterangan mengenai segala macam kegelapan di dalam pengetahuan itu. Orang lain yang juga tidak kami kenal menyatakan bahwa tanpa kami sadari sendiri, kami adalah penganut Theosofi.” (Surat Kepada Ny Abendanon, 24 Agustus 1902).

Hari berikutnya kami berbicara dengan Presiden Perkumpulan Theosofi, yang bersedia memberi penerangan kepada kami, lagi-lagi kami mendengar banyak yang membuat kami berpikir.” (Surat Kepada Nyonya Abendanon, 15 September 1902).

Sebagai orang Jawa yang hidup di dalam lingkungan kebatinan, gambaran Kartini tentang hubungan manusia dengan Tuhan juga sama: manunggaling kawula gusti. Karena itu, dalam surat-suratnya, Kartini menulis Tuhan dengan sebutan ”Bapak”. Selain itu, Kartini juga menyebut Tuhan dengan istilah ”Kebenaran”, ”Kebaikan”, ”Hati Nurani”, dan ”Cahaya”, seperti tercermin dalam surat-suratnya berikut ini:

”Tuhan kami adalah nurani, neraka dan surga kami adalah nurani. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami. Dengan melakukan kebajikan, nurani kamilah yang memberi kurnia.” (Surat kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902).

Kebaikan dan Tuhan adalah satu.” (Surat kepada Ny Nellie Van Kol, 20 Agustus 1902).

Alam spiritual Kartini tak hanya dipengaruhi oleh kepercayaan akan mistis Jawa, tetapi juga oleh pemikiran-pemikiran Barat. Inilah yang oleh kelompok Theosofi disebut sebagai upaya menyatukan antara ”Timur dan Barat”. Sebuah upaya yang banyak memikat para elit Jawa, terutama mereka yang sudah terbaratkan secara pemikiran.

Siti Soemandari, penulis biografi Kartini mengatakan, dalam beragama, Kartini kembali kepada akar-akar kejawennya atau apa yang disebut dengan ngelmu kejawen. Soemandari mempertegas, kepercayaan Kartini adalah gabungan antara iman Islam dan Kejawen. Atau dalam bahasa lain, keyakinan agama atau kepercayaan Kartini adalah sinkretisme yang berlandaskan pada pluralisme agama.

Belakangan, jaringan Theosofi di Indonesia juga mendirikan Kartini School (Sekolah Kartini) yang mulanya didirikan di Bandung oleh seorang Teosof bernama R. Musa dan kemudian menyebar di berabagai daerah di Jawa. Tercatat ada beberapa daerah yang berdiri Sekolah Kartini, yaitu Jatinegara (Jakarta), Semarang, Bogor, Madiun (1914), Cirebon, Malang (1916), dan Indramayu (1918).

Sebagai sekolah yang dikelola oleh para Teosof, ajaran tentang kebatinan, sinkretisme–atau sekarang lebih populer dengan istilah pluralisme– juga tentang pembentukan watak dan kepribadian, lebih menonjol dalam pelajaran di sekolah-sekolah tersebut. Sekolah lain yang didirikan di berbagai daerah oleh kelompok Theosofi adalah Arjuna School, dengan muatan nilai-nilai pendidikan yang sama dengan Kartini School.

Categories: Akhir Zaman

Kartini & Theosofi (1)

20 April 2012 Leave a comment

Kebanyakan orang yang menjadikan Kartini sebagai ikon perjuangan perempuan Indonesia, tak melihat sisi lain dari pemikirannya yang sangat berbau Theosofi dan kebatinan. Padahal, banyak tokoh wanita lain yang hidup semasa dengannya, yang berjuang secara nyata dalam dunia pendidikan, bukan dalam wacana surat menyurat seperti yang dilakukan Kartini.

Tanggal 21 April dikenal sebagai Hari Kartini. Hampir semua perempuan di Indonesia, termasuk kaum muslimah, yang ikut-ikutan memperingati hari tersebut tanpa mengetahui latar belakang sejarahnya yang jelas. Siapa sesungguhnya Kartini? Siapa orang-orang yang mempengaruhinya? Bagaimana corak pemikirannya?

Peringatan Hari Kartini sering diikuti beragam acara yang mengedepankan emansipasi perempuan, kesetaraan gender, perjuangan feminisme, dan lain-lain. Kartini, dianggap sebagai ikon bagi perjuangan perempuan dalam persoalan tersebut. Kartini sering disebut sebagai ikon pendobrak bagi kemajuan perempuan Indonesia dan diakui secara resmi oleh pemerintah sebagai Pahlawan Nasional dengan Keputusan Presiden (Keppres) RI No. 108 tahun 1964.

Kartini lahir di desa Mayong, sebelah barat Kota Kudus, Kabupaten Jepara. Sebagai anak seorang bupati, Kartini hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Saat kecil, Kartini dimasukkan ke sekolah elit orang-orang Eropa, Europese Lagere School (ELS) dari tahun 1885-1892. Di sekolah ini, Kartini banyak bergaul dengan anak-anak Eropa.

Sebagai keluarga priyayi Jawa, kultur mistis dan kebatinan begitu melekat di lingkungan tempat tinggalnya. Namun bagi Kartini, ikatan adat istiadat yang telah berurat akar dalam itu, dianggap mengekangnya sebagai perempuan. Setelah tamat dari sekolah ELS Kartini memasuki masa pingitan. Sementara itu, Kartini merasakan betul betapa haknya mendapatkan pendidikan secara utuh dibatasi. Di luar, ia melihat pendidikan Barat-Eropa begitu maju.

Kartini banyak bergaul dan melakukan korespondensi dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi, seperti J. H Abendanon dan istrinya Ny Abendanon Mandri, seorang humanis yang ditugaskan oleh Snouck Hurgronye untuk mendekati Kartini. Ny Abendanon Mandri adalah seorang wanita kelahiran Puerto Rico dan berdarah Yahudi.

Tokoh lain yang berhubungan dengan Kartini adalah, H. H Van Kol (Orang yang berwenang dalam urusan jajahan untuk Partai Sosial Demokrat di Belanda), Conrad Theodore van Daventer (Anggota Partai Radikal Demokrat Belanda), K. F Holle (Seorang Humanis), dan Christian Snouck Hurgronye (Orientalis yang juga menjabat sebagai Penasihat Pemerintahan Hindia Belanda), dan Estella H Zeehandelar, perempuan yang sering dipanggil Kartini dalam suratnya dengan nama Stella. Stella adalah wanita Yahudi pejuang feminisme radikal yang bermukim di Amsterdam. Selain sebagai pejuang feminisme, Estella juga aktif sebagai anggota Social Democratische Arbeiders Partij (SDAP).

Kartini berkorespondensi dengan Stella sejak 25 Mei 1899. Dengan perantara iklan yang di tempatkan dalam sebuah majalah di Belanda, Kartini berkenalan dengan Stella. Kemudian melalui surat menyurat, Stella memperkenalkan Kartini dengan berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme.

Dalam sebuah suratnya kepada Ny Nellie Van Koll pada 28 Juni 1902, Stella mengakui sebagai seorang Yahudi dan mengatakan antara dirinya dan Kartini mempunyai kesamaan pemikiran tentang Tuhan. Stella mengatakan,”Kartini dilahirkan sebagai seorang Muslim, dan saya dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Meskipun demikian, kami mempunyai pikiran yang sama tentang Tuhan. ”

Dr Th Sumarna dalam bukunya ”Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini” menyatakan ada surat-surat Kartini yang tak diterbitkan oleh Ny. Abendanon Mandri, terutama surat-surat yang berkaitan dengan pengalaman batin Kartini dalam dunia okultisme (kebatinan dan mistis). Entah dengan alasan apa, surat-surat tersebut tak diterbitkan. Ny Abendanon hanya menerbitkan kumpulan surat Kartini yang diberi judul ”Door Duisternis tot Licht” (Habis Gelap Terbitlah Terang). Keterangan mengenai kepercayaan Kartini terhadap okultisme hanya didapat dari surat-suratnya yang ditujukan kepada Stella dan keluarga Van Kol. Seperti diketahui, okultisme banyak diajarkan oleh jaringan Freemasonry dan Theosofi, sebagai bagian dari ritual perkumpulan mereka.

Nama-nama lain yang menjadi teman berkorespondensi Kartini adalah Tuan H. H Van Kol, Ny Nellie Van Kol, Ny M. C. E Ovink Soer, E. C Abendanon (anak J. H Abendanon), dan Dr N Adriani (orang Jerman yang diduga kuat sebagai evangelis di Sulawesi Utara). Kepada Kartini, Ny Van Kol banyak mengajarkan tentang Bibel, sedangkan kepada Dr N Adriani, Kartini banyak mengeritik soal zending Kristen, meskipun dalam pandangan Kartini semua agama sama saja.

Apakah korespondensi Kartini dengan para keturunan Yahudi penganut humanisme, yang juga diduga kuat sebagai aktivis jaringan Theosofi-Freemasonry, berperang penting dalam memengaruhi pemikiran Kartini? Ridwan Saidi dalam buku Fakta dan Data Yahudi di Indonesia menyebutkan, sebagai orang yang berasal dari keturunan priayi atau elit Jawa dan mempunyai bakat yang besar dalam pendidikan, maka Kartini menjadi bidikan kelompok Theosofi, sebuah kelompok yang juga banyak digerakkan oleh orang-orang Belanda saat itu.

Dalam catatan Ridwan Saidi, orang-orang Belanda gagal mengajak Kartini berangkat studi ke negeri Belanda. Karena gagal, maka mereka menyusupkan ke dalam kehidupan Kartini seorang gadis kader Zionis bernama Josephine Hartseen. Hartseen, menurut Ridwan adalah nama keluarga Yahudi.

Siapa yang berperan penting merekatkan hubungan Kartini dengan para elit Belanda? Adalah Christian Snouck Hurgronje orang yang mendorong J.H Abendanon agar memberikan perhatian lebih kepada Kartini bersaudara. Hurgronje adalah sahabat Abendanon yang dianggap oleh Kartini mengerti soal-soal hukum agama Islam. Atas saran Hurgronje agar Abendanon memperhatikan Kartini bersaudara, sampailah pertemuan antara Abendanon dan Kartini di Jepara.

Sebagai seorang orientalis, aktivis Gerakan Politik Etis, dan penasihat pemerintah Hindia Belanda, Snouck Hurgronje juga menaruh perhatian kepada kepada anak-anak dari keluarga priyayi Jawa lainnya. Hurgronje berperan mencari anak-anak dari keluarga terkemuka untuk mengikuti sistem pendidikan Eropa agar proses asimilasi berjalan lancar.

Langkah ini persis seperti yang dilakukan sebelumnya oleh gerakan Freemasonry lewat lembaga ”Dienaren van Indie” (Abdi Hindia) di Batavia yang menjaring anak-anak muda yang mempunyai bakat dan minat untuk memperoleh beasiswa. Kader-kader dari ”Dienaren van Indie” kemudian banyak yang menjadi anggota Theosofi dan Freemasonry.

Categories: Akhir Zaman

Theosofi part 3

17 April 2012 Leave a comment

Gerakan Theosofi di Indonesia meninggalkan jejak sejarah yang panjang di negeri ini. Beberapa tokoh yang dikemudian hari menjadi elit nasional di negeri ini, tak lepas dari persentuhannya dengan aliran kebatinan Yahudi ini. Baik sebagai anggota resmi, ataupun sekadar berinteraksi dengan kelompok ini. Pada masa lalu, untuk mengenang keberadaan Gerakan Theosofi, beberapa tempat di Jawa, menggunakan nama-nama dari tokoh Theosofi. Seperti Blavatsky Park di Batavia, Olcott Park di Bandung, dan Besant Square di Semarang. Nama-nama itu merujuk pada tokoh-tokoh Theosofi: Madame H.P Blavatsky, Henry Steel Olcott, dan Annie Besant.

Sejawaran Universitas Indonesia, Harsja W Bachtiar menggambarkan tentang apa dan siapa Gerakan Theosofi itu. Dalam sebuah tulisan mengenai Moh. Amir, tokoh Jong Sumatrenan Bond (JSB) yang juga anggota Theosofi, Harsja menulis, “Theosophical Society (Perkumpulan Theosofi), yang dicipta oleh Madame H.P Blavatsky, seorang bangsawan Rusia, dan Henry Steel Olcott, seorang penganut kebatinan, di New York tahun 1875, dan yang kemudian dipimpin oleh Annie Besant, berusaha mencari kearifan Tuhan, ajaran-ajaran kebatinan seperti Karma dan Reinkarnasi, menyatukan sekalian agama, dan menyatukan agama dan ilmu pengetahuan,”tulisnya.

Harsja W Bachtiar kemudian menuliskan bahwa beberapa orang yang dikemudian hari menjadi elit nasional masuk menjadi anggota perkumpulan Dienaren van Indie (Abdi Hindia), sebuah perkumpulan yang didirikan oleh Gerakan Theosofi. Mereka adalah Mohammad Hatta, Djamaluddin Adinegoro (tokoh pers Indonesia), Mohammad Jamin (tokoh Jong Sumatrenan Bond), dan Bahder Djohan (mantan menteri pendidikan dan kebudayaan pada kabinet Natsir dan Wilopo). Tokoh-tokoh lain yang menjadi anggota Dienaren van Indie selain yang disebutkan oleh sejarawan Harsja W Bachtiar tersebut adalah, Siti Soemandari (tokoh perempuan Indonesia), Ki Sarmidi Mangoensarkoro (tokoh pendidikan Indonesia), Prof. Soepomo (salah seorang perumus UUD 45), dan Prof. Soekanto (tokoh kepolisian Indonesia).

Perkumpulan Dienaren van Indie yang dipimpin oleh tokoh Theosofi Ir. A.J.H van Leeuwen memberikan beasiswa pendidikan (studie fond) kepada tokoh-tokoh tersebut. Untuk menyatakan keanggotaan mereka, pada nama belakang mereka harus dicantumkan huruf “DI” sebagai tanda dari perkumpulan ini.Anggota Dienaren van Indie yang paling mencolok kiprahnya diantaranya adalah Mohammad Tabrani, tokoh Jong Theosofen (Pemuda Theosofi) yang menjadi penggagas Kongres Pemuda Indonesia pertama pada 1926. Kongres ini diselenggarakan atas biaya kelompok Freemason dan diadakan di loge milik Freemason di Batavia. Loge ini juga sering dijadikan tempat berkumpul para anggota Theosofi, mengingat dua organisasi ini memiliki kesamaan tujuan, yaitu menjadikan paham humanisme sebagai doktrin tertinggi dalam kehidupan. Pada masa lalu, kebanyakan mereka yang menjadi anggota Theosofi, juga menjadi anggota Freemason.

Sosok yang paling menarik perhatian dari anggota perkumpulan Dienaren van Indie adalah Mohammad Hatta. Dalam buku “Gerakan Theosofi di Indonesia” penulis menyatakan, Hatta setidaknya pernah bersentuhan dengan organisasi ini atau setidaknya berusaha dijerat untuk masuk sebagai anggota Theosofi. Hatta bersentuhan dengan Theosofi dalam arti beliau pernah menjadi anggota Dienaren van Indie dan mendapat beasiswa dari perkumpulan ini. Persentuhan Hatta dengan Theosofi melalui tokoh bernama Ir. P Forunier dan Ir. A.J.H van Leeuwen. Sedangkan mengenai usaha menjerat Hatta masuk sebagai anggota Theosofi bisa dilihat dari buku otobiografinya. Dalam buku berjudul, “Mohammad Hatta untuk Negeri” ia menuliskan pengalamanya yang berusaha dibujuk masuk untuk menjadi anggota Theosofi.

Dalam buku biografinya, Mohammad Hatta menulis sub bab tersendiri, berjudul “Bujukan Theosofi”. Hatta menulis, “Hubunganku dengan Ir. Fournier dan Ir. Van Leeuwen ada pula sejarahnya. Selama aku belajar pada PHS (Prins Hendrick School) di Batavia dan menjadi anggota pengurus JSB (Jong Sumatrenan Bond), mereka berdua itu selalu mendekat pemuda-pemuda yang menjadi pengurus Jong Java dan Jong Sumatranen Bond. Mereka yang berdua itu banyak sekali menganjurkan supaya pergerakan pemuda yang bersifat kedaerahan perlu bersatu menjadi Jong Indie. Sebagai contoh dikemukakannya gerakan pemuda di India yang bernama Young India. Sekaligus mereka juga mengajak aku untuk menjadi anggota Theosofi. Sepanjang pengetahuanku, yang kena jerat mereka ialah Basuki dari Jong Java dan Amir dari Jong Sumatranen Bond. Mungkin juga Muhammad Yamin terkena. Aku menolak terus terang, dengan alasan aku taat kepada Islam.”demikian tulis Hatta dalam memoarnya.

Meski Hatta sudah menolak ajakan masuk sebagai anggota Theosofi, ia terus dibujuk dan diyakinkan agar bisa bergabung dalam organisasi ini. Ia menulis, “Ir. Fournier mengatakan, agama Islam tidak menjadi halangan untuk menjadi orang Theosofi. Theosofi bukan agama katanya, melainkan ajaran dan Theosofi memperkuat pendirian Islam untuk mencapai persaudaraan bangsa-bangsa di dunia ini. Tetapi aku terus menolak. Rupanya telah mendapat persetujuan, antara Ir. Fournier, Ir. Van Leeuwen, Amir dan Basuki untuk mengadakan suatu organisasi pemuda baru dengan nama Dienaren van Indie, disingkatkan dengan “DI””, tulisnya lagi.

Demikianlah, Gerakan Theosofi mempunyai beragam cara untuk bisa merekrut orang-orang pribumi. Mereka membentuk kelompok-kelompok diskusi, organisasi-organisasi kepemudaan, lembaga riset ilmu pengetahuan dan seni budaya, serta memberikan beasiswa. Tokoh-tokoh yang disebutkan di atas, pada perjalanan selanjutnya menjadi elit-elit nasional, yang merumuskan, membangun, dan menentukan arah perjalanan bangsa ini pada waktu itu. Ironisnya, elit-elit modern Indonesia pada masa lalu itu adalah mereka yang pernah bersentuhan bahkan bergabung menjadi anggota Gerakan Theosofi. Rekam jejak mereka yang memarginalkan kepentingan umat Islam pun sangat kentara. Tak heran, jika sampai saat ini, negeri ini masih berada dalam sistem pemerintahan sekular, karena sejak ratusan tahun lalu, doktrin-doktrin yang menihilkan peran agama dalam sistem pemerintahan sudah dijalankan melalui organisasi-organisasi pengusung humanisme sekular, diantaranya Theosofi.

sumber

Categories: Akhir Zaman

Theosofi part 2

17 April 2012 Leave a comment

Theosofi di Indonesia
Theosofi yang didirikan oleh Helena Petrovna Blavatsky, seorang wanita asal Rusia berdarah Yahudi, pada 1875 di New York, Amerika Serikat, ini memang memberikan pengaruh yang cukup besar bagi gerak nasionalisme di negeri ini. Banyak elit-elit nasional dan founding father negeri ini pada masa lalu yang terpengaruh dalam ajaran-ajaran Theosofi ini. Sebagian dari mereka bahkan menjadi anggota resmi dan memegang teguh keyakinan Theosofi. Kebanyakan dari para tokoh yang tergabung dalam Theosofi adalah mereka yang mengusung paham kebangsaan (nasionalisme), dan penganut kebatinan.Mereka umumnya tertarik dengan Theosofi karena jargon yang dikampanyekan oleh organisasi itu, diantaranya soal pluralisme, dimana semua agama pada intinya sama saja, selama menebarkan kebajikan, kasih sayang, toleransi, perdamaian, persamaan, dan sebagainya. Semua itu tercermin dalam motto organisasi ini, yaitu “There is no religion higher than truth”, tak ada agama yang lebih tinggi daripada kebajikan.

Jargon-jargon tersebut pada masa itu disuarakan oleh para humanis Eropa, yaitu mereka yang mengusung paham humanisme sebagai pokok tertinggi dalam kehidupan, yang mana kebanyakan dari mereka adalah para penganut Theosofi ataupun Freemasonry yang datang ketika Indonesia masih bernama Hindia Timur atau sering disebut Hindia Belanda.

Theosofi memberikan nuansa bagi cikal bakal pluralisme di Indonesia. Karena, disamping para anggotanya dari beragam etnis, bangsa, dan agama, Theosofi juga mengajarkan kesamaan semua agama-agama (trancendent unity of religion) dan kesamaan Tuhan (trancendent unity of God) sebagaimana tercermin dalam pemikiran para tokohnya seperti Madame Blavatsky dan Annie Besant. Ujungnya, mereka ingin membangun sebuah persaudaraan universal, dengan menghapus sekat-sekat agama. Ajaran-ajaran masing-masing agama dihapus dengan nilai-nilai universal yang berlandaskan pada paham humanisme.

Sejarawan Robert Van Niels dalam buku “Munculnya Elit Modern Indonesia” menyatakan bahwa orang-orang Eropa yang datang ke Hindia Timur pada masa lalu memiliki peranan penting bagi munculnya elit modern Indonesia. Orang-orang Eropa yang datang pada masa itu, adalah para humanis yang tak hanya bekerja sebagai pegawai kolonial, tetapi juga membawa serta pemikiran dan kebudayaan mereka. Sejak tahun 1870, kata Van Niels, kota-kota di Jawa tidak hanya menjadi pusat perdagangan orang-orang Eropa, namun juga menjadi tempat bersemainya kebudayaan dan pemikiran yang mereka bawa.

Selanjutnya pada masa 1900-an organisasi seperti Theosofi dan Freemason makin berkembang pesat, khususnya di Tanah Jawa dengan munculnya loge-loge tempat pertemuan mereka di berbagai daerah. Karena itu, tak berlebihan jika Theosofi dan Freemason disebut sebagai organisasi yang bergeliat bersama gerak laju kolonialisme di negeri ini, yang kemudian secara tidak langsung melalui elit-elit nasional yang direkrut menjadi anggotanya, mempengaruhi gerak laju nasionalisme negeri ini juga.

Theosofi dan Elit Politik Indonesia
Dalam kata pengantar buku “Teosofi, Nasionalisme dan Elit Modern” Prof. David Reeve dari Universitas New South Wales Australia menyatakan, “Dalam lingkaran orang-orang nasionalis yang sekular, begitu banyak orang-orang yang memiliki hubungan dengan Gerakan Theosofi, “tulisnya. Prof Reeve juga menyatakan, para aktifis Teosofi yang merupakan elit nasional pada masa lalu adalah orang-orang yang juga banyak terlibat dalam perumusan naskah UUD 1945, meskipun ia tak berani menyatakan bahwa prinsip-prinsip dasar Theosofi mempengaruhi pola pikir mereka dalam menyusun UUD tersebut.

Nama-nama seperti Mohammad Yamin, Prof. Soepono, dan Radjiman Wediodiningrat, adalah tokoh-tokoh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang banyak menyampaikan gagasan-gagasan soal prinsip-prinsip dasar negara ketika itu. Bahkan Radjiman, yang merupakan tokoh penting dalam Gerakan Theosofi dan anggota resmi kelompok Freemason, adalah ketua sidang BPUPKI, sidang yang kemudian menghasilkan Pancasila sebagai dasar negara. Sedangkan Mohammad Yamin termasuk orang yang berkontribusi besar dalam merumuskan lambang negara Pancasila.

Tokoh-tokoh nasional lain yang sangat dekat dengan Gerakan Theosofi adalah Mohammad Tabrani (Tokoh kongres Pemuda Pertama pada 1926′ Ketua Pemuda Theosofi), Ki Sarmidi Mangoensarkoro (Tokoh Taman Siswa), Ki Hadjar Dewantara (Tokoh Taman Siswa), Tjipto Mangoenkoesomo (Tokoh Boedi Oetomo), Goenawan Mangoenkoesoemo (Tokoh Boedi Oetomo), Armin Pane (Sastrawan), Sanoesi Pane (Sastrawan), Mohammad Amir (tokoh Jong Sumatrenan Bond), Datoek Soetan Maharadja (tokoh kaum adat Minangkabau), Siti Soemandari (pemimpin Majalah Bangoen), dan tokoh-tokoh nasional lainnya, terutama yang berasal dari Keraton Paku Alaman Yogyakarta, organisasi Tri Koro Dharmo, Jong Java, Boedi Oetomo, Perhimpoenan Goeroe Hindia Belanda (PGHB/cikal bakal PGRI), dan para alumnus Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (School tot Opleiding van Indische Artsen/STOVIA) di Batavia.

Theosofi dan Boedi Oetomo
Pada masa berkembangnya Gerakan Theosofi, gesekan-gesekan pemikiran dengan tokoh-tokoh Islam yang berasal dari Sarekat Islam berlangsung sengit. Bahkan rivalitas antara Boedi Oetomo dan Sarekat Islam, diantaranya juga berpangkal dari pemahaman soal keyakinan dan pemahaman Islam.

Tokoh Boedi Oetomo, seperti Goenawan Mangoenkoesomo dan Radjiman Wediodiningrat cenderung bersikap konfrontatif terhadap aspirasi Islam. Sehingga tak heran, jika Prof Reeve sebagai akademisi yang pernah meneliti Gerakan Theosofi, menyatakan, “Perkumpulan Teosofi mengaku terbuka untuk semua agama, namun tampaknya mereka menjalin sangat sedikit persentuhan dengan Islam,” jelasnya.

Bukti kedekatan Gerakan Theosofi dengan Boedi Oetomo terlihat dalam Perayaan 10 Tahun Organisasi Boedi Oetomo pada 1918 yang berlangsung di Loge Theosofi, di De Ruijstestraat 67 Den Haag, Belanda. Dalam perayaan tersebut, tokoh-tokoh Boedi Oetomo dan mahasiswa Indonesia, termasuk Ki Hadjar Dewantara dan Goenawan Mangoenkoesomo, menggelar perayaan dan peluncuran buku Soembangsih:Gedenkboek Boedi Oetomo 1908-20 Mei1918. Dalam buku itu, Goenawan Mangoenkoesomo menulis, “Bagaimanapun tinggi nilai kebudayaan Islam, ternyata tidak mampu menembus hati rakyat. Bapak penghulu boleh saja supaya kita mengucap syahadat, “Hanya ada satu Allah dan Muhammad-lah Nabi-Nya”, tetapi dia tidak akan bisa berbuat apa-apa bila cara hidup kita, jalan pikiran kita, masih tetap seperti sewaktu kekuasaan Majapahit dihancurkan secara kasar oleh Demak,” tulisnya.

sumber

Categories: Akhir Zaman

Theosofi part 1

16 April 2012 Leave a comment

Mari kita mulai pembahasan tentang theosofi dari pengertiannya. Dalam situs wikipedia disebutkan bahwa Teosofi adalah doktrin filsafat agama dan mistisisme. Teosofi merupakan pandangan bahwa semua agama merupakan upaya Occult Brotherhood agar manusia dapat mencapai kesempurnaan, sehingga setiap agama mempunyai kepingan kebenaran.

Helena Petrovna Blavatsky (1831–1891), Henry Steel Olcott (1832–1907), dan William Quan Judge (1851–1896), mendirikan Masyarakat Teosofi di New York City pada 17 November 1875. merupakan suatu badan internasional yang tujuan utamanya adalah persaudaraan universal berdasarkan realisasi bahwa hidup, dalam berbagai bentuk yang berbeda, manusia dan non-manusia, merupakan kesatuan yang tidak terbagi.

Perhimpunan Theosofi tidak memaksakan dogma/kepercayaan apapun pada anggota-anggotanya, yang disatukan karena pencarian kebenaran dan keinginan untuk belajar tentang makna dan tujuan eksistensi dengan melibatkan diri dalam studi perenungan, kemurnian hidup dan pengabdian dengan penuh kasih.

Theosofi menawarkan sebuah filsafat yang membuat hidup jadi lebih dimengerti dan menunjukkan bahwa keadilan dan cinta-kasih membimbing alam semesta ini. Ajaran-ajarannya membantu mengembangkan kodrat spiritual yang masih laten dalam diri manusia, tanpa ketergantungan dan rasa takut. 3 Tujuan Utama Perhimpuan Theosofi

  • Mengadakan inti persaudaraan antara sesama manusia tanpa memandang bangsa, kepercayaan, kelamin, kaum atau warna kulit.
  • Memajukan pelajaran dengan mencari persamaan dalam agama-agama, filsafat dan ilmu pengetahuan.
  • Menyelidiki hukum-hukum alam yang belum dapat diterangkan dan kekuatan-kekuatan dalam manusia yang masih terpendam.

Kebebasan Berpikir
Seiring dengan berkembangnya Perhimpunan Theosofi secara meluas dan menyebar ke berbagai penjuru dunia dan karena anggota-anggota Perhimpunan berasal dari berbagai macam latar belakang agama, tanpa melepaskan agama, ajaran-ajaran, keyakinan serta kepercayaan yang mereka anut, maka memang perlu ditegaskan secara factual bahwa tidak ada suatu doktrin maupun opini apapun yang diajarkan atau dibuat oleh siapapun juga yang dapat mengikat anggota Perhimpunan Theosofi. Penyetujuan terhadap Ketiga Tujuan Utama Perhimpunan Theosofi adalah satu-satunya syarat untuk menjadi anggota

Tak ada satu guru atau penulis siapapun, mulai dari H.P. Blavatsky dan seterusnya yang memiliki otoritas untuk memaksakan ajaran maupun pendapatnya kepada para anggota. Setiap anggota memiliki hak yang sama untuk mengikuti aliran pemikiran apapun, tetapi tidak memiliki hak untuk memaksakan pilihannya kepada orang lain. Juga, tidak ada seorang kandidat untuk jabatan apapun atau calon pemilih, dapat dibuat tidak sah untuk memilih atau dipilih, karena opini tertentu, atau karena keanggotaan di dalam suatu aliran pemikiran apapun. Opini-opini atau kepercayaan-kepercayaan tidak memberikan hak-hak istimewa atau menimbulkan hukuman atau sanksi-sanksi.

Para anggota General Council secara bersungguh-sungguh menghimbau agar setiap anggota Perhimpunan Theosofi memelihara, mempertahankan dan menerapkan prinsip-prinsip fundamental dari Perhimpunan, dan juga berani menggunakan hak kebebasan berpikir dan berekspresi, dalam batas-batas kesopanan serta rasa hormat terhadap orang lain. Resolusi ini disahkan oleh ‘General Council’ Perhimpunan Theosofi, pada tahun 1924.

Kebebasan Perhimpunan
Meskipun Perhimpunan Theosofi bersedia bekerja sama dengan perhimpunan-perhimpunan lainnya yang mempunyai tujuan dan pekerjaan yang memungkinkan kerjasama terlaksana, Perhimpunan Theosofi haruslah tetap tinggal sebagai Perhimpunan yang bebas sama sekali dari mereka. Perhimpunan Theosofi tidak tunduk kepada tujuan lain selain kepada tujuannya sendiri dan hendaknya memajukan pekerjaannya sendiri dalam garis-garis yang luas untuk menuju ke tujuannya sebagai yang diterangkan dalam maksud Perhimpunan Theosofi dan sebagainya, ternyata dalam usahanya untuk maksud dan Kebijaksanaan Illahi yang tercantum dalam artian abstrak dalam titel ‘Perhimpunan Theosofi’.

Karena Persaudaraan Universal dan Kebijaksanaan ini tidak terbatas dan tidak dapat digambarkan dan karena bagi tiap-tiap anggota ada kebebasan berpikir dan berbuat, maka Perhimpunan Theosofi berusaha tetap membina sifatnya yang jelas dan tersendiri dengan membebaskan diri dari penggabungan dengan perhimpunan-perhimpunan lainnya.

sumber: 1, 2

Categories: Akhir Zaman
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.