Home > Islam > Teologi Ulat Bulu

Teologi Ulat Bulu

Teror Ulat Bulu

Kompas edisi 5 April 2011 menurunkan berita bahwa sejak pertengahan Maret lalu, ulat bulu (desiciria inclusa) “meneror” warga Probolinggo hingga menjalar ke delapan kecamatan di Kabupaten Probolinggo dan dua kecamatan di Kota Probolinggo. Jutaan ulat bulu bisa membuat gatal itu terus meluas di sejumlah wilayah. Jika sebelumnya di tiga kecamatan yakni: Leces, Bantaran dan Tegal Siwalan. Saat ini meluas hingga di Kecamatan Wonomerto dan Sumberasih.

Fenomena ulat bulu di tahun 2011 ini serupa dengan serangan ulat bulu yang terjadi pada tahun 2009 lalu, tercatat dua kota yang terkena serangan ulat bulu ini, yaitu Bandung dan Lamongan. Di Bandung, pada penghujung Maret 2009, ulat bulu menyerang perumahan elit Setrasari, tepatnya di Jalan Setrasari Kulon Raya. Seorang warga menuturkan bahwa ulat-ulat itu merayap di dinding rumah, halaman rumah, bahkan masuk kamar tidur, sehingga sebagian warganya mengungsi ke hotel.

Setelah Bandung, giliran Lamongan terkena serangan ulat bulu ini. Warga di empat dusun, di Desa Sugio, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, diresahkan dengan mengganasnya serangan ulat bulu yang menyerang permukiman warga.

Penyebab

Apa sebenarnya penyebab kejadian aneh tersebut? Warga Probolinggo, Jawa Timur, sempat menduga bahwa ribuan ulat yang menyerang 11 desa di dua kecamatan terkait dengan letusan Gunung Bromo. Namun, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo Hasyim Ashari menjelaskan, ulat bulu tersebut muncul sebagai dampak perubahan cuaca.

Menurut Kepala Laboratorium Hama, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, Dr. Ir. Totok Himawan, hujan yang terus menerus mengakibatkan musuh alami ulat bulu, yakni sejenis predator bernama “Braconid” dan “Apanteles” tidak mampu bertahan hidup. Musuh alami itu tidak bisa mengontrol populasi ulat bulu yang semakin banyak dan berkembangbiak dengan cepat, hingga akhirnya menyebar ke lingkungan penduduk.

Yang menarik perhatian adalah pernyataan ahli ulat bulu dari IPB, Prof. Aunu Rauf, yang mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai serangan hama ulat bulu tahap kedua pascaserangan ulat bulu yang kini sudah menjadi kepompong dan kupu-kupu.

Misteri di Balik Serangan Ulat Bulu

Serangan jutaan ulat bulu ini adalah sebuah pelajaran yang ‘mahal’ bagi kita semua. Kita seakan “dipaksa” untuk mengingat kembali peristiwa besar dalam lembaran sejarah Firaun dan Nabi Musa.

Allah SWT berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami.” Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” (Q.S. Al A’raf, 7:130-131).

Dulu, Firaun diberi hukuman dengan kemarau yang panjang sehingga masyarakatnya mengalami kesulitan pangan. Allah menjelaskan bahwa hal itu sebagai peringatan agar pemimpin (Firaun) dan rakyatnya segera bertaubat. Namun ketika Allah  mengembalikan keadaan mereka seperti semula, sehingga rakyatnya kembali makmur, mereka malah mengatakan bahwa semua itu terjadi karena usaha dan kerja keras mereka. Malahan dengan sombong mereka berkata: “Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu (Q.S. Al A’raf, 7:132).

Karena segala kesombongan dan kekafiran Firaun dan kaumnya, maka Allah memberikan hukuman:

Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa (Q.S. Al A’raf, 7:133).

Pelajaran yang kita petik dari peristiwa Firaun yaitu Allah mengirimkan peringatan-peringatan agar manusia menyadari segala kesalahannya dan segera bertaubat. Maka perhatikanlah malapetaka yang terjadi pada tahun 2009 setelah serangan ulat bulu di Bandung (26 Maret 2009) dan Lamongan (15 Mei 2009).

1.       27 Maret 2009, tragedi Situ Gintung.
2.       Senin (06/04/2009), Pesawat Fokker TNI AU Jatuh di Bandara Hussein Sastranegara.
3.       Rabu (20/05/2009), Pesawat Hercules Jatuh dan Terbakar di Magetan.
4.       Senin (08/06/2009), Heli TNI AD Jatuh di Cianjur.
5.       Senin (07/09/2009), Pesawat TNI AL Nomad P837 Jatuh.
6.       13 Juli 2009, Restoran Soto Lamongan Dilalap Si Jago Merah, Tujuh Karyawan Tewas.
7.       Kamis, (17/09/2009), Pesawat TNI Jatuh di Sragen.
8.       2 September 2009, gempa mengguncang Tasikmalaya.
9.       30 September 2009, gempa mengguncang Padang.

Mari Bercermin

Mengapa bencana demi bencana tak henti-hentinya mendera negeri ini? Bukankah katanya negeri ini dihuni penduduk yang mayoritas muslim? Bukankah pula dari sekian banyak muslim di neger ini setiap tahun tak kurang dari 200 ribu orang menunaikan ibadah haji?

Apakah karena pemimpin dan wakil rakyat di negeri ini sudah terlalu banyak dosa karena korupsi dan sudah tidak peduli pada rakyatnya? Mungkinkah ini semua terjadi karena lama sekarang ini sudah tak menjadi ulama lagi, dan lebih tertarik rebutan kekuasaan politik? Atau, jangan-jangan karena mubaligh dan mubalighatnya yang terpesona oleh berbagai pujian, tampil di TV-TV dan berbagai media dengan baju indah dan merdu-merduan suara? Dan agama tak lebih hanya sebagai hiburan belaka? Berebut rating dan kue iklan semata …

Harus berapa lama lagi kita menyadari bahwa bangsa ini lebih senang menikmati pornografi daripada mendidik generasi muda menjadi orang-orang yang sopan dan berakhlak mulia? Bukankah banyak penegak hukum di negeri sudah tak kenal hukum, dan lebih suka menjual perkara? Mereka lebih senang melindungi koruptor dan praktik korupsi daripada melibasnya; lebih senang menghukum pencuri ayam yang mencuri karena lapar daripada pengedar narkoba; lebih senang melegalkan prostitusi daripada menghukum mati para pemerkosa dan pelaku woman trafficking …

Ingatlah firman Tuhan, “Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah (Alquran), maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (Q.S. Al Maidah, 5:44). Ingat pula sabda Baginda Rasul, “Bila zina dan riba telah beredar di masyarakat, maka halal bagi Allah untuk mengirim azab pada masyarakat tersebut”.

Categories: Islam
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: