Home > Islam > Bersiap Menghadapi Maut

Bersiap Menghadapi Maut

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah, yang dengan maut telah mematahkan leher para tiran, menghancurkan tulang punggung raja-raja,memupus ambisi  para kaisar yang hatinya telah lama jauh dari ingatan terhadap kematian, hingga tiba janji kebenaran itu kepada mereka dan menghempaskan mereka ke liang kubur. Mereka tercampak dari  istana-istana yang megah, ke dalam liang-liang lahat yang paling dalam. Dari cahaya buaian ke dalam gelapnya kubur, dari asyiknya bermain dengan dayang-dayang kepada serangga dan cacing pemangsa, dari kelezatan makanan dan minuman beralih menjadi tertelungkup di perut bumi, dari keramaian persahabatan ke senyapnya penyendirian, dan dari singgasana empuk kepada nestapa yang menyengsarakan.

Segala puji bagi Allah, satu-satunya penggenggam kekuasaan dan kewenangan, yang telah mengklaim bagi-Nya kekekalan, merendahkan segala makhluk dengan kefanaan yang telah ditaqdirkannya atas mereka. Kuburan dijadikan-Nya sebagai penjara yang akan membelenggu orang yang celaka sampai tibanya Hari Keputusan dan Pengadilan. Dialah pemilik kekuasaan  untuk menganugerahkan rahmat atau untuk melakukan pembalasan yang tidak bisa ditolak.

Shalawat serta kesejahteraan semoga Allah limpahkan kepada Junjunan Alam Nabi Muhammad SAW yang telah mengingatkan umatnya untuk senantiasa mengingat kematian dan mempersiapkan diri serta bekal untuk menyambut datangnya kematian.

Ketahuilah, hati orang yang terlena dan tenggelam dalam urusan duniawi dan menghambakan diri kepada kelezatannya yang palsu akan lalai  dari mengingat kematian. Ia malah membenci bahkan sengaja melupakannya. Tipe orang seperti ini Allah gambarkan dalam AlQur’an surat Al Jumu’ah (62) : 8 :

Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kalian lari dari padanya, pasti akan mendapati kalian, lalu kalian semua akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui segala yang gaib dan yang nyata. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada kalian apa yang telah kalian perbuat.

Sungguh, siapapun orang yang beriman atau orang kafir, tahu bahwa mereka akan mati. Perbedaannya adalah pada pengambilan sikap dan tindakan mengenai kematian itu sendiri.

Menurut Imam Al-Ghazali ada tiga golongan manusia: orang yang sibuk dengan dunia, orang yang pemula bertobat dan orang yang telah mencapai tingkat ‘arifin. Orang yang sibuk dengan dunia tidak akan mengingat maut. Kalaupun dia mengingatnya, itu dilakukan sambil meratapi dunianya dan mencaci maut. Bagi golongan ini, ingatan akan kematian hanya aka semakin menjauhkan dia dari Tuhan.

Orang yang bertobat seringkali mengingat kematian sehngga rasa takut  dan gentar mungkin slalu hadir dalam hatnya dan ini akan lebih menyempurnakan tobatnya. Golongan kedua ini mungkin tidak tajut berjumpa dengan kematian. Mereka hanya takut jika saat kematian mereka masih dalam keadaan kurang atau lalai.

Adapun golongan ‘arifin adalah mereka yang senantiasa mengingat kematian sebab bagi mereka kematian adalah pintu untuk bertmu dengan Kekasihnya, Allah Ar-Rahim.

Rasulullah Saw bersabda, “Sering-seringlah mengingat si penutup segala kelezatan (kematian). (HR Tirmizi).

Seorang sahabat Anshar bertanya kepada Rasulullah, “Siapakan orang yang paling cerdas dan pemurah, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,”Yaitu orang yang sering mengingat mati dan orang yang paling baik persiapannya dalam menghadapi kematian. Itula orang yang paling cerdas, yang akan memperoleh kehormatan (kebahagiaan) dan di dunia ini dan kemuliaan di akhirat kelak” (HR Tirmizi).

Berdasarkan kedua hadits di atas, sepatutnya seorang muslim untuk selalu mengingat kematian karena dengan mengingat kematian seseorang akan:

  • Mendapatkan kehormatan dan kebahagiaan yang hakiki dalam kehidupan dunianya.
  • Mendapatkan kemuliaan di dalam kehidupan akherat kelak.
  • Terhindar dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar karena meyakini bahwa semua perbuatan harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Yang Maha Perkasa.
  • Terhindar dari kesusahan dan kerisauan dunia karena mereka meyakini bahwa penderiaan dunia yang paling pedih ialah kematian dan tak seorang pun manusia bisa lari dari kematian. Oleh sebab itu, melihat penderitaan dunia, apapun bentuknya, dianggap ringan. Lebih jauh lagi penderitaan dunia mereka jadikan sebagai sarana untuk berbekal dengan menguatkan kesabaran.
  • Cerdas, IQ, EQ dan SQ.
Categories: Islam
  1. nanda
    18 October 2011 at 11:55 AM

    masya Allah ……

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: