Home > Realita > In Memoriam KH Zainuddin MZ

In Memoriam KH Zainuddin MZ

Biografi Singkat

Zainuddin Muhammad Zein atau dikenal sebagai KH Zainuddin MZ lahir di Jakarta, 2 Maret 1951, adalah seorang pemuka agama Islam di Indonesia yang populer melalui ceramah-ceramahnya di televisi. Julukannya adalah “Da’i Sejuta Umat” karena dakwahnya yang dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

Zainuddin merupakan anak tunggal buah cinta pasangan Turmudzi dan Zainabun dari keluarga Betawi asli. Sejak kecil memang sudah nampak mahir berpidato. Udin -nama panggilan keluarganya- suka naik ke atas meja untuk berpidato di depan tamu yang berkunjung ke rumah kakeknya. ‘Kenakalan’ berpidatonya itu tersalurkan ketika mulai masuk Madrasah Tsanawiyah hingga tamat Madrasah Aliyah di Darul Ma’arif, Jakarta. Di sekolah ini ia belajar pidato dalam forum Ta’limul Muhadharah (belajar berpidato). Kebiasaannya membanyol dan mendongeng terus berkembang. Setiap kali tampil, ia memukau teman-temannya. Kemampuannya itu terus terasah, berbarengan permintaan ceramah yang terus mengalir.

 

Ceramah Terakhir

Hari Ahad (3/7) adalah saat-saat terakhir bagi warga Bekasi di Perumahan Bumi Suzuki Permai, Kecamatan Rawalumbu. Pasalnya, ceramah yang disampaikan KH Zainuddin MZ yang mengangkat tema Isra’ Mikraj itu adalah ceramah terakhir sang dai kondang.

Zainuddin berpesan pada umat agar menjaga persatuan umat Islam untuk menciptakan generasi yang mujahid, berani memberantas kemaksiatan dan memerangi korupsi. “Setiap Muslim harus memilik semangat mujahid yang siap berjuang untuk menegakkan syiar Islam, memberantas kemaksiatan dan memerangi korupsi,” ujarnya.

Ia juga mengajak umat Islam untuk sama-sama memberantas kemaksiatan. ”Umat muslim harus bisa bersatu memberantas kemaksiatan, apalagi menjelang datangnya bulan suci Ramadhan,” ujarnya.

 

Saat Itupun Datang

Dua hari kemudian, usai shalat Shubuh, tiba-tiba Zainuddin MZ jatuh pingsan. Luthfi Manfaluti, putra keduanya, menuturkan sang ayah hanya mengeluh sakit kepala ringan. “Sebelumnya, beliau tidak mengeluh sakit apa pun,” ujarnya, Selasa (5/7).

Tanpa menunggu lama, pihak keluarga langsung membawanya ke Rumas Sakit Pusat Pertamina (RSPP). ”Tepat pukul 09.20 WIB, ayah menghembuskan nafas terakhir akibat serangan jantung,” kata Luthfi.

 

Untuk Kita Renungkan

Al-Bukhari meriwayatkan dari Syaqiiq, ia berkata : “Aku pernah bersama ‘Abdullah dan Abu Musa. Mereka berkata : Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :
إن بين يدي الساعة لأيَّاماً يُنزَلُ فيها الجهلُ، ويُرْفَعُ العلم.

“Sesungguhnya menjelang hari kiamat kelak, akan ada hari-hari yang diturunkanya kebodohan dan diangkatnya ilmu”.

Dan dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia bekata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
يتقارَبُ الزَّمان، ويُقْبَضُ العلم، وتَظْهَرُ الفِتَنُ، ويُلقى الشُّحُّ، ويَكْثر الهَرْج.

“Telah semakin dekat jaman dimana akan diangkat ilmu, fitnah merajalela, penyakit kikir akan dijatuhkan (dalam hati manusia), dan banyaknya ‘harj’ (pembunuhan)”.

Diangkatnya ilmu terjadi dengan diangkatnya (diwafatkannya) para ulama, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radliyallaahu ‘anhuma, ia berkata : Aku telah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إن الله لا يَقْبِضُ العلمَ انتزاعاً ينتزعُه من العباد، ولكنْ يقبِضُ العلم بقبض العلماء، حتى إذا لم يبقَ عالماً؛ اتَّخذ الناس رؤوساًَ جُهَّالا، فسُئِلوا ؟ فأفتوا بغير العلم، فضلّوا وأضلوا.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari manusia. Namun Allah akan mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa lagi seorang berilmu (di tengah mereka), manusia mengangkat para pemimpin yang jahil. Mereka ditanya, dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Hingga akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (orang lain)”.

An-Nawawiy berkata : “Hadits ini memberikan penjelasan akan maksud ‘diangkatnya ilmu’ – sebagaimana tertera dalam hadits-hadits secara mutlak – bukanlah menghapuskannya dari dada para penghapalnya. Namun maknanya adalah : wafatnya para pemilik ilmu tersebut. Manusia kemudian mengambil orang-orang bodoh yang menghukumi sesuatu dengan kebodohan mereka. Akhirnya mereka pun sesat dan menyesatkan orang lain”.

Dan yang dimaksud dengan ‘ilmu’ di sini adalah ilmu mengenai Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah, yang itu merupakan ilmu warisan para nabi ‘alaihis-salaam. Dan ulama adalah pewaris para nabi. Oleh karena itu, kepergian mereka sama dengan perginya ilmu, matinya sunnah, berkembangnya bid’ah, dan meratanya kebodohan.

Sungguh, wafatnya KH Zainuddin MZ sangat memilukan, wafatnya seorang ulama jauh lebih berat bagi umat daripada ditinggalkan para penguasa. Kita tidak pernah tahu, apakah dalam waktu 5 atau 10 tahun yang akan datang atau bahkan lebih daripada itu akan lahir Zainuddin-Zainuddin baru yang memberikan pencerahan dan pengajaran kepada umat.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un … kami sangat kehilangan …. semoga beliau diampuni segala khilafnya, ditempatkan di tempat yang layak, dan mendapat ridha Allah SWT. Amin.

Categories: Realita
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: