Home > Realita > 8 Tahun Tinggal Dalam Got

8 Tahun Tinggal Dalam Got

Saat para pengembang di bisnis properti gencar membangun dan mempromosikan apartemen mewah untuk memuaskan nafsu hedonis warga kota, kita dibuat miris dan teriris, karena ternyata masih ada di antara kita yang harus hidup di bawah batas kewajaran.

Nenek Minah (68 tahun), warga Jalan Mustika Sari, Kampung Babakan Bekasi Timur, tinggal sebarang kara selama 8 tahun di dalam got padahal tak jauh dari tempatnya itu berdiri bangunan megah dan mewah.

Kegiatan sehari-hari Nenek Minah adalah membersihkan sampah dan daun-daunan yang terdapat di dalam got tersebut. Beliau membersihkannya dengan sapu lidi hingga tempat nenek Minah tinggal terlihat bersih, berbeda dengan got pada umumnya.Untuk memenuhi kebutuhannya, Nenek Minah mendapatkan uang dari pemberian orang-orang sekitar yang lewat di depan got tempat beliau tinggal.

Mari menghela nafas sejenak ….
Tidakkah kita ingat catatan sejarah Umar ibn Khattab, penguasa imperium Islam yang dengan tangannya sendiri, memikul karung gandum dari Madinah karena tahu ada perempuan tua di pelosok negerinya yang merebus batu demi menidurkan anak-anaknya yang kelaparan. Bahkan ketika Aslam menawarkan diri untuk membantu Sang Khalifah memikulkan gandum itu, wajah Umar Ibn Khattab menjadi merah dan berkata, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”

Baginda Rasul SAW mengingatkan, “Tiada beriman kepadaku orang yang bermalam (tidur) dengan perut kenyang, sementara tetangganya merintih karena lapar padahal dia mengetahui hal itu” (HR. Al Bazzaar).

Nenek Minah jelas bukan saja lapar, tetapi dinginnya angin malam pasti mencabik-cabik kulit keriputnya karena harus menghabiskan malam-malamnya hanya beratapkan langit, belum lagi jika terjadi hujan…

Masih lekat pula dalam ingatan kita, Maret 2008, Dg Base (35 tahun) yang tengah hamil 7 bulan dan anaknya Bahir (5 tahun) harus meregang nyawa karena kelaparan. Tidak itu saja, Bahri (37 tahun) suami Dg Base, harus mengebumikan keduanya dalam satu liang lahat di kebun garapannya, bukan di tempat pemakaman umum, karena ketiadaan biaya.

Semoga masih tersisa sedikit kepedulian dalam nurani kita, agar tak ada lagi saudara-saudara kita yang harus menanggung derita seperti Nenek Minah dan Ibu Dg Base.

Categories: Realita
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: