Home > Islam > Khutbah Idul Fitri 1432 H – Evaluasi Ramadhan

Khutbah Idul Fitri 1432 H – Evaluasi Ramadhan

الله أكبر, الله أكبر , الله أكبر كبيرا , و الحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة وأصيلا ,لا اله الا الله وحده ,صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده , لا أله الا الله والله أكبر , الله أكبر و لله الحمد.

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْراً وَنَذِيْراً بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ مَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ رَشَدَ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَضُرُّ إَلاَّ نَفْسَهُ وَلاَ يَضُرُّ اللهَ شَيْئاً .

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

أَمَّا بَعْدُ ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ .

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,
La Ilaha Illallah Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Mengawali khutbah ini, terlebih dahulu marilah kita memuji kebesaran Illahi yang telah melimpahkan hidayah dan karunia-Nya, sehingga pada hari ini kita dapat melaksanakan perintah agama, shalat Idul Fithri di tempat ini. Kita bersyukur kepada Allah SWT yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk jalan bagi makhluk ciptaan-Nya dalam mengarugi kehidupan dunia ini. Semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan kesejahteraan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, para shahabat, tabi’it-tabi’in serta seluruh kaum Muslimin yang setia mengikuti beliau hingga hari kiamat.

Kemudian, sebagai khatib, perkenankan kami mengingatkan diri pribadi dan segenap jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah SWT. Marilah peningkatan takwa ini kita jadikan sebagai agenda hidup yang utama, agar kita menjadi manusia ideal menurut Islam. Yakni, menjadi manusia mulia dan dimuliakan oleh Allah SWT sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di hadapan Allah adalah orang yang paling bertakwa” (Q.S. Al-Hujurat, 49:13)

Sebagian sifat orang yang bertakwa dijelaskan dalam AlQuran:

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Dewasa ini, sedikit orang yang menjadikan takwa sebagai agenda hidupnya, yaitu menjalani hidup di bawah naungan syari’at Allah. Kebanyakan manusia, program hidupnya adalah hal-hal duniawiah: bisnisnya lancar, anak-anaknya dapat bersekolah tinggi, deposito bank terus bertambah, rumah dan kendaraan tercukupi, dan semacamnya. Tidak berupaya, bagaimana menjadikan hidupnya bermakna untuk dunia-akhiratnya, dan menjadikan anak-anaknya hidup dewasa dalam ketaatan pada Allah SWT. Maka marilah kita bersungguh-sungguh melaksanakan ketaatan kepada Allah,  semoga amalan kita di bulan Ramadhan yang baru saja berlalu, kelak menjadi saksi yang menguntungkan dan meringankan beban kita di akhirat.

Derajat takwa merupakan capaian tertinggi dalam tangga pengabdian seorang hamba kepada Sang Khaliq, karena takwa merupakan sifat ubudiyah yang hakiki, di dalamnya tercakup semua aspek kehidupan beragama. Manusia bertakwa adalah yang salalu menghadirkan Allah dalam dirinya (Dzikrullah), ia merasa bahwa pengawasan Allah selalu melekat pada setiap aktivitas hidupnya (Muraqabatullah) sehingga ia senantiasa berada di atas jalan ketaatan kepadaNya dan tidak melanggar aturan-aturan-Nya (Imtitsalul-Awamir wa ijtinabun-Nawahi). Takwa mencakup aspek keimanan, aspek ibadah, aspek akhlak, baik yang terkait dengan kehidupan sosial, politik, ekonomi, hukum; pidana dan perdata. Sifat Takwa tetap harus menjadi landasan dalam kehidupan setiap individu, keluarga, maupun masyarakat; berbangsa dan bernegara.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Hari ini lebih dari 1,3 milyar penghuni bumi bersujud mensyukuri kemenangan dalam kepasrahan, menyatakan kegembiraan dalam derma, menabur kebajikan untuk menciptakan taman kehidupan yang damai dan sejahtera. Pembinaan dan penempaan jiwa dalam siklus spiritual selama sebulan penuh semoga menjadi bekal untuk berjuang, dengan energi jiwa yang terbarukan, membangun masyarakat, memakmurkan bumi, dan menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi kita semua. Kita berharap semua ibadah yang kita lakukan, mulai dari puasa, taraweh, tahajjud, tilawah, i’tikaf, membayar zakat, diterima di sisi Allah SWT. Semoga Allah SWT berkenan memberi kita semua berkah Ramadhan, dari pengampunan, rahmat, hingga pembebasan dari neraka. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

Allah Akbar..Allah Akbar..Allah Akbar..Walillahilhamd..

Sesungguhnya, Ramadhan yang telah kita jalani, merupakan sarana pendidikan rabbani, kurikulumnya adalah kurikulum Illahi, dan manhajnya adalah manhaj rabbani yang bersumber dari Sang Pemilik dan Pengatur jagad raya alam semesta dan seluruh makhluk yang ada di dalamnya, sehingga diharapkan setelah keluar dari madrasah Ramadhan lahir sosok pribadi muslim yang mumpuni, memiliki syakhshiyah islamiyah mutakamilah mutawazinah  (sosok pribadi Islami yang komprehensif dan seimbang) tidak hanya berjiwa bersih, berbadan sehat, dan berakhlaq mulia, namun juga memberikan pelajaran dan pendidikan sosial dan berperadaban, serta tidak hanya memberikan kebaikan kepada dirinya sendiri namun juga memberikan kebaikan dan perbaikan kepada lingkungan dan masyarakat sekitar.

Ramadhan adalah juga bulan alQur’an, bulan shabar, bulan jihad, bulan perjuangan, bulan pembersih jiwa, pencuci hati, dan bulan perlombaan guna meraih takwa dan kebebasan dari siksa.

Kini dia telah pergi meninggalkan kita. Tapi dia pasti akan kembali menemui kita manakala hari kesaksian telah tiba. Dia akan menjadi saksi pembela atau penuntut. Pembela bagi yang sukses meraih takwa dan penuntut atas orang yang membiarkannya pergi tanpa meninggalkan bekas yang berarti.

Ramadhan akan menyaksikan seperti apa sikap kita terhadap Al-Quran; apa yang telah kita perjuangkan untuk menegakan ajarannya? Langkah apa yang telah kita ambil untuk membela haq dan menghancurkan kebatilan?

Ramadhan juga akan menyaksikan bagaimana kita mengisi bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini, apakah telah kita nikmati dengan qiyamullail dan tadabbur al-Quran, merintih sambil berdiri di hadapan Yang Maha Tinggi, menunduk dengan ruku’ dan sujud hingga mencapai nikmat khusyu, mengikuti akhlak ibadurrahman terdahulu; ataukah kita hanya menghabiskan waktu tanpa membekas pada qalbu?

Hamba-hamba Allah yang tengah mempersiapkan diri untuk berjuang !!!
Kesempatan untuk pembekalan diri dengan menggunakan bulan suci telah berlalu. Kini tibalah saatnya untuk melangkah guna menghadapi tantangan baru. Tiada kesempatan bagi kita untuk berjuang kecuali sekarang. Tiada kesempatan yang tersisa untuk thaat kepada Allah selain hari ini, sementara besok masih dalam khayalan. Kesempatan menggunakan segala fasilitas hidup demi meraih kehidupan masa depan yang abadi, tidak lama lagi akan berakhir. Karena itu, manfaatkan semua fasilitas hidup demi meraih kebahagiaan pada masa depan yang tidak akan berkesudahan.

Janganlah sampai lupa hakikat nasibmu dari dunia, jabatanmu tidak lama lagi akan berakhir, usiamu sebentar lagi dijemput ajal, sebanyak apapun kekayaanmu tidaklah kamu nikmati kecuali hanya sebentar nian. Setinggi apapun statusmu saat ini boleh jadi besok kamu sudah menjadi mayit yang tak berdaya.

Sungguh banyak orang yang ikut berhari raya bersama kita pada tahun lalu, kini mereka sudah berada di alam gaib. Pada hari raya mendatang boleh jadi kulit kita sudah terkelupas, daging kita sudah menyatu dengan tanah, dan tulang belulang kita sudah berserakan. Dan hari ini merupakan hari raya yang terakhir.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!
Kedatangan hari raya empat belas abad yang silam telah mendapat sambutan hangat dari para shahabat Rasul, shalihin, dan mujahidin, karena dengan meningkatnya kualitas ibadah pada bulan Ramadhan, mereka telah memiliki semangat baru untuk berdakwah, melanjutkan perjuangan menengakkan haq dan menghancurkan kebatilan, melawan musuh Allah di mana saja berada.

Mujahidin ahli Badar patut berbahagia dengan datangannya Hari Raya, karena mereka telah sukses melawan kafir Quraisy. Dengan kesuksesan itu perjalanan dakwah terbuka lebar di hadapan mereka, yang membuat mereka semakin yakin akan berkibarnya panji agama yang haq di muka bumi dan terhinanya aturan manusia yang bertentangan dengan kemanusiaan. Kedatangan hari raya telah membuat pasukan Shalahuddin merasa bahagia, karena pada bulan Ramadhan mereka telah mampu menyelamatkan tanah suci al Quds dari tangan-tangan kotor musyrikin. Dengan kemenangan ini suara al-Qur’an terdengar di semua penjuru dunia, dan fatwa ulama menjadi solusi bagi semua problema yang dihadapi umat.

Ikhwatal imani wal Islam rahimakumullah
Setelah Ramadhan pergi, patutkah kita tersenyum, berpuas hati dan merasa telah meraih kemenangan? Lihatlah: persekongkolan kaum musyrikin masih mendapat dukungan dari berbagai pihak termasuk dari kaum yang mengaku muslim; agama diperalat untuk mencari harta; al-Quran diperalat untuk mencari kepercayaan sesaat; terma-terma dalam Islam telah tercemar karena sering disalahgunakan; akhirnya orang miskin tetap miskin dan dibiarkan kelaparan hingga ada yang berani meninggalkan iman; rakyat bodoh tetap bodoh karena dibiarkan jauh dari bimbingan hingga ada yang terpaksa melakukan kejahatan; pengangguran dari hari kehari semakin bertambah dan berkeliaran di setiap persimpangan jalan.

Mana penerus ahli Badar, sementara takhayul, khurafat, kemusyrikan, dan penyembahan kepada selain Allah semakin leluasa melebarkan sayapnya di setiap penjuru tanah air hingga masuk dan tersebar ke setiap lapisan masyarakat. Mana pelanjut pasukan Badar yang gagah berani melawan kuffar? Mana pelanjut Shalahuddin al-Ayyubi, sementara masjid al Aqsha masih berada dalam genggaman Yahudi? Mana pelanjut Pangeran Diponegoro yang telah berani berkata haq meski berada diujung tombak? Mana penerus Bung Tomo yang telah mengumandangkan takbir di tengah kepungan dan kejahatan orang kafir?

Hadirin sidang ‘Ied rahimakumullah !
Sungguh Allah Maha Mengetahui dan menyaksikan apa yang telah kita lakukan pada bulan suci yang telah pergi meninggalkan kita. Apakah kita akan bertemu kembali pada tahun berikutnya atau kita akan dipangil untuk menghadap keharibaan Yang Mahatinggi sebelum dia kembali? Tak ada seorangpun di antara kita yang dapat mengetahui kalau dirinya akan hidup sampai esok lusa, apatah lagi hidup sampai bulan Ramadan tahun depan.

Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu (Q.S. 58:6).

Sekiranya kita belum meraih rahmat dan ampunan, apa yang akan kita lakukan bila kita sudah berada di ruang sidang untuk menghadap Hakim Yang Maha Adil dan Maha Mengetahui, mengetahui terhadap semua perilaku insan. Saat itu, semua kesalahan manusia akan tampak, semua dosa akan jelas, dan semua maksiat yang telah dilakukan akan tersingkap. Rekaman suara hati tidak dapat dipungkiri meski saat ini terus ditutupi. Ketika itulah datangnya rasa takut yang tidak akan berujung, rasa malu yang tidak akan berakhir, dan rasa ngeri yang tidak akan berhenti. Semua akan kita alami bila kita tidak mendapat ampunan Illahi akibat gagal dalam mengisi bulan suci.

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Q.S. 67:1-2).

Sungguh beruntung orang yang melanjutkan qiyamullail setelah ramadhan berakhir. Sungguh berbahagia orang yang melanjutkan tadarus al-Quran hingga ajal tiba. Sungguh sukses orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu di manpun dia berada. Sungguh sukses orang yang hidup berjamaah hingga berakhir kesempatan ibadah.

Sungguh rugi orang yang berhenti qiyamullail dengan berakhirnya Ramadhan. Sungguh celaka orang kembali kepada kebiasaan lama tanpa melihat aturan agama. Tidak akan kita capai derajat orang bertakwa, jika kita menjadikan Ramadhan sebagai bulan ibadah musiman yang berakhir dengan datangnya hari raya.

Marilah kita tutup khutbah singkat ini dengan doa, memohon kepada Allah SWT, Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang karena hanya Dialah Yang Maha Pengabul atas segala doa.

Ya Allah, berilah kami rasa takut pada-Mu hingga kami menjauh dari maksiat. Ya Allah, hanya dengan takut pada-Mu kami akan dapat menghidar dari perbuatan maksiat, maka tanankanlah dalam qalbu kami rasa takut hanya pada-Mu.

Ya Allah, berilah kami nikmat taat pada-Mu yang mengantarkan kami menuju surga-Mu.

Ya Allah, telah Engkau sediakan surga bagi orang-orang yang Engkau cintai, berilah kami nikmat ibadah dan taat yang mengantarkan kami mendapat cinta-Mu hingga Engkau masukan kami dengan rahmatMu kedalam surga. Tanamkanlah dalam qalbu kami keyakinan yang meringankan kami menghadapi ujian dunia.

Ya Allah bimbinglah kami dalam menggunakan pendengaran, penglihatan dan kekuatan untuk beralam shaleh. Janganlah Engkau biarkan kami menyalahgunakan nikmat-Mu.

Ya Allah berilah kami kenikamatan menghayati firmanMu, menjiwai ayat-ayat-Mu dan menggunakan semua kekuatan untuk berjuang membela agama-Mu dengan istiqamah hingga ajal menjemput kami.

Ya Allah jika kami dihadapkan kepada musibat, janganlah Engkau biarkan musibat itu menimpa agama kami. Ya Allah bimbinglah kami dengan musibat itu menuju kemuliaan di sisiMu.

Janganlah Engkau biarkan kami sibuk dengan urusan dunia Ya Allah. Engkau-lah Penguasa alam semesta dan Engkau-lah Pemilik kekayaan dunia. Janganlah Engkau biarkan kami menjadi hamba dunia yang sibuk menjadi pelayannya. Janganlah Engkau biarkan kami sibuk dengan kedudukan sesaat dan tertipu dengan kenikmatan sementara. Janganlah Engkau biarkan kami terhina karena dikuasai dunia.

Categories: Islam
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: