Home > Uncategorized > The Beatles, Jai Guru Deva Om, dan Humanisme

The Beatles, Jai Guru Deva Om, dan Humanisme

Salah satu alat yang digunakan Freemasons untuk mentransfer misinya adalah doktrin sigil. Sigil secara sederhana bisa dikatakan sebuah mantra yang diselipkan dalam media visual untuk menyihir objek yang dituju lewat gelombang alam bawah sadar dan tipu muslihat.

Sigil sendiri banyak dipakai melalui media hiburan seperti musik dan film. Sayangnya, salah satu usnur sigil juga terselip dalam lirik-lirik lagu, salah satunya tertuang dalam lagu The Beatles Across The Universe, yang liris tahun 1969. Lagu ini pada dasarnya lahir dari meditasi John Lennon pada guru-guru spiritual-kalau tidak mau disebut theosofi- pada medio 1968-1969.

Jai guru deva om Nothing’s gonna change my world Nothing’s gonna change my world Nothing’s gonna change my world Nothing’s gonna change my world“.

“Jai guru deva om” (Dalam Bahasa Sansekerta: जय गुरुदेव) adalah sebuah ungkapan Sansekerta yang bemakna sebagai “kemuliaan bagi Sang Pemberi Sinar dalam kegelapan,” Secara garis besar juga berarti keaguangan bagi “Sang Ilahi”. “Illahi” yang dimaksud John Lennon adalah Tuhan dalam manifestasi masonik yang tidak mengikat satu aliran pada agama tertentu. Cenderung abstrak dan pastinya penuh dengan dunia mistik.

Pamor tenar The Beatles akhirnya mengantarkan Across the Universe ke layar lebar pada tahun 2007 dan disutradarai oleh Julie Taymor di bawah bendera jaringan Kabbalah Holywood bernama Columbian Druglord Pictures.

Jika pada “Across The Universe” konsep Tuhan yang ditawarkan John Lenon masih abstrak, satu tahun kemudian John Lennon kembali merilis lagu Imagine yang terang-terangan menjelaskan apa sebenarnya yang diinginkan John Lennon.

Dalam lagu Imagine-nya, John Lennon bercita-cita tentang ketiadaan agama sebagai prasyarat hadirnya dunia yang penuh damai, toleran, dan berada pada track menuju satu dunia atau dalam bahasa Freemason akrab kita dengar lewat sebutan “New World Order“.

Imagine there’s no countries. It isn’t hard to do. Nothing to kill or die for. And no religion too . Imagine all the people. Living life in peace. You may say that I’m a dreamer. But I’m not the only one. I hope someday you’ll join us. And the world will be as one“.

Yang artinya: Bayangkan jika tiada negara. Tak sukar untuk dilakukan. Tak perlu membunuh atau terbunuh. Dan juga tiada agama. Mungkin kau sebut aku pemimpi. Tetapi aku bukan satu-satunya. Kuharap suatu hari kau bergabung dengan kami. Dan dunia akan menjadi satu.

Lagu Imagine sebenarnya lahir dari konsep Kabbalah yang meminta agar tidak ada lagi sekat dalam tiap agama. Menurut John Lennon, agama adalah biang perpecahan. Agama menjadi sarang dari pertikaian global dimana banyak manusia menderita karenanya. Oleh karenanya gagasan yang ditawarkan Lennon adalah humanisme kalau tidak amu disebut atheisme.

Namun alih-alih Lennon ingin menciptakan perdamaian dunia, humanisme dan atheisme sendiri menjadi biang kerusakan. Humanisme mengajarkan manusia untuk hidup tanpa Tuhan dan aturan. Inilah pangkal Perang Salib dimana Gereja mengambil peran Tuhan dan memaksa manusia untuk menyembah mereka. Termasuk juga Perang Dunia I dan II ketika manusia digerakkan oleh kekuasaan dan misi politik.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: