Home > Islam > Kisah Kaum Tsamud

Kisah Kaum Tsamud

12 November 2011 Leave a comment Go to comments

Dalam Alquran diceritakan kisah-kisah kaum yang diazab dan dibinasakan oleh Allah SWT. Salah satunya adalah kaum Nabi Saleh A.S. Mereka dibinasakan karena membangkang terhadap ajakan Nabi Saleh dan mengingkari kekuasaan Allah. Mereka sengaja membunuh unta betina yang dikirimkan kepada mereka untuk dipelihara. Kaum Nabi Saleh ini, dalam Alquran, disebut dengan nama Tsamud.

Kisah pengingkaran dan pembangkangan kaum Tsamud ini terekam dalam surah Alqamar [54] ayat 23-26. Kaum Tsamud pun telah mendustakan ancaman-ancaman (itu). Maka, mereka berkata, “Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita? Sesungguhnya, kalau kita begitu, benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila.” Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong. Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong. Sesungguhnya, Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah (tindakan) mereka dan bersabarlah.

Azab yang diberikan kepada kaum Nabi Tsamud ini disebabkan mereka membunuh unta betina. Kisah serupa juga terdapat dalam surah Hud [11] 61-62, Ibrahim [14] 9, Al-Araf [7] 72-76, Annaml [27] 47-50, dan Asysyuara [26] 141-157.Perkampungan tempat kaum Tsamud itu bernama Al-Hijr (batu-batu) karena rumah mereka terbuat dari tanah yang dipahat. Kaum Tsamud dikenal pula sebagai entrepreneur yang sangat hebat karena mampu membuat rumah berukir di bukit-bukit, gunung, gua, dan lainnya. Hingga kini, perkampungan mereka itu terkenal dengan sebutan Madain Saleh.

Ibnu Katsir menjelaskan, awalnyamereka menginginkan Nabi Saleh agar menunjukkan sebuah mukjizatnya sebagai utusan Allah. Karena itu, Allah lalu mengirimkan unta kepada Nabi Saleh yang keluar dari sebongkah batu. Allah lalu memerintahkan kaum Tsamud untuk memeliharanya dan anak yang ada dalam perut unta betina tersebut. Allah juga mengingatkan mereka akan azab yang menimpa bila mereka memperlakukan unta tersebut dengan buruk. Allah juga mengabarkan bahwa orang yang membunuh unta betina itu berwarna kemerah-merahan, biru, dan kuning.

Awalnya, mereka mematuhi perintah tersebut hingga beberapa generasi. Mereka senantiasa berhati-hati. Mereka juga mencari orang yang membunuh unta itu dengan ciri fisik sebagaimana diterangkan Allah melalui Nabi Saleh itu. Pada suatu masa, seorang pemimpin dari mereka melamar putri salah seorag pemimpin yang lain untuk anaknya dan menikahkannya. Maka, dari pernikahan ini, lahirlah seorang anak yang diberi nama Qidar bin Salif. Dialah sang pembunuh unta tersebut. Mengetahui fisik anak yang berwarna sebagaimana dijelaskan Nabi Saleh adalah anak seorang pemimpin, mereka pun tidak berani membunuhnya. Apalagi, orang tuanya terpandang. Maka, Qidar pun tumbuh dengan cepat. Menurut riwayat, pertumbuhannya selama satu minggu sama dengan pertumbuhan seorang anak dalam sebulan.

Hingga akhirnya, pada suatu waktu, anak ini pun ditunjuk menjadi pemimpin. Ia tergoda untuk membunuh unta betina. Bersama delapan orang terpandang lainnya, mereka kemudian mendatangi unta tersebut dan akhirnya membunuhnya.Setelah itu, mereka menantang Nabi Saleh untuk menunjukkan azab yang akan menimpa mereka. Nabi Saleh tetap mengingatkan mereka agar segera bertobat. Nabi Saleh juga memerintahkan mereka untuk memelihara anak unta itu dengan baik sebagai ganti perlakuan mereka terhadap induknya.

Mereka, lalu mengajarnya, namun anak unta itu terus berlari hingga ke arah gunung dan naik. Mereka juga menaikinya. Tetapi, setiap kali mendaki, gunung itu mereka rasakan juga bertambah tinggi. Anak unta itu lalu menangis dan mengalirlah air matanya. Kepada orang-orang yang membunuh itu, Nabi Saleh menyindir mereka. “Bergembiralah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itulah janji yang tidak dapat didustakan.” (QS Hud [11] 65).

Nabi Saleh lalu memberitahukan mereka bahwa wajah mereka akan berubah menjadi kuning. Pada hari kedua, wajah mereka akan berwarna merah. Lalu, pada hari ketiga, akan berwarna hitam. Pada hari keempat, azab pun datang menimpa mereka dengan suara guntur yang sangat keras sehingga mereka menjadi bangkai di dalam rumah-rumah mereka. Mereka mendapatkan murka dari Allah pada pagi hari saat matahari akan terbit. “Maka, mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur pada waktu pagi hari.” (QS Alhijr [15] 83).

Tinjauan Ilmiah

Pertanyaan yang mungkin muncul di benak kita berkenaan dengan kisah kaum Tsamud adalah: mungkinkan suara dapat mengakibatkan kematian? Berikut ini uraian singkat yang semoga dapat menjadi jawabannya.

Manusia mampu mendengar suara pada rentang 15-20 KHz. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), umumnya suara 60 dB dapat mengakibatkan ketulian sementara, dan suara 100 dB menyebabkan ketulian permanen.Suara di jalanan yang bising antara 60-80 dB, suara pesawat 95 dB, suara dari pengeras suara 90-100 dB, suara di pabrik 80-90 dB, suara di restoran dan bioskop 75-90 dB, suara pada pertunjukan musik 85-90 dB, suara sepeda motor 87-92 dB, suara truk/bus 92-94 dB, suara di kamar tidur rata-rata 25 dB, suara di ruang makan 40 dB, suara di kantor 30-40 dB.

Polusi suara terjadi jika suara yang didengar melebihi ambang batas. Polusi suara dapat mengganggu pendengaran, bahkan menyebabkan kehilangan keseimbangan mental seseorang. Polusi suara juga menyebabkan naiknya temperamen, mempengaruhi paru-paru, dan menghambat kecerdasan anak.

Menurut survey Departemen Lingkungan Amerika, kebisingan menyebabkan menyakit fisik dan mental berupa tekanan darah tinggi, takikardia, sakit kepala, gangguan pencernaan, ulkus peptikum, dan juga mempengaruhi nyenyaknya tidur. Hasil survey juga menunjukkan bahwa ibu hamil yang tinggal di dekat bandar udara besar biasanya melahirkan anak yang lumpuh, cacat, dan mengalami gangguan mental dibanding ibu-ibu hamil yang tinggal di tempat lain.

Suara berupa gelombang kejut misalnya suara ledakan,  pada tingkat 140 dB dapat mengakibatkan kehilangan kemampuan pendengaran sementara yang dapat berubah menjadi permanen pada tingkat frekuensi yang lebih tinggi. Suara dengan frekuensi 200 dB (tiga kali tekanan atmosfer) dapat mengakibatkan paru-paru pecah, dan frekuensi di atas 210 dB dapat mengakibatkan kematian.

Categories: Islam
  1. 3 October 2013 at 2:57 PM

    SYUKRAN tulisannya bagus , lengkap dan mudah dimengerti ……

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: