Home > Uncategorized > Memaknai Tahun Baru 1433 H

Memaknai Tahun Baru 1433 H

26 November 2011 Leave a comment Go to comments

Siapakah sesungguhnya pewaris peradaban majusi? Jawabannya adalah: kita; yang senantiasa membusungkan keislaman justru tanpa disadari menjadi pewaris kebudayaan dan peradaban non-Islam; kita, yang lebih familiar menghitung hari dengan menggunakan kalender masehi; bahkan banyak lagi produk budaya Barat – yang menjadi representasi peradaban non-Islam – karib dengan kehidupan kita.

Padahal peradaban Islam pernah berjaya; berbagai penemuan di bidang kedokteran, matematika dan fisika, bermula dari kejeniusan cendekiawan Islam. Namun, perebutan kekuasaan – yang hingga kini menjadi virus yang menggerus nilai-nilai keagungan Islam – menyebabkan peradaban Islam yang agung berkubur.

Kita menerima kebudayaan asing merasuki atmosfer kehidupan kita. Kita dapat menghibur diri, di tengah era globalisasi, tak lazim mempertikaikan kepemilikan budaya. Globalisasi berarti berbaurnya berbagai bentuk budaya menjelma bentuk budaya baru. Tapal-batas menjadi tak berarti. Mungkin masih pantas tak terlampau menyesali diri jika kita familiar dengan perhitungan waktu melalui tarikh masehi.

Maka, sebagai komunitas dengan peradaban gado-gado, kita pun turut hanyut pada perayaan ria tahun baru masehi. Seperti penduduk di Amerika ataupun Eropa, kita begadang semalam suntuk pada 31 Desember, turun ke jalan-jalan: di tengah gemerlap kembang api yang menawarkan warna-warni, kita hanyut pada histeria massal. Mungkin kita memiliki kelebihan uang sehingga turut hanyut pada keriaan pesta melepas tahun lama dan menyongsong tahun baru. Keriaan seringkali menawarkan kemabukan. Maka di puncak kemabukan, kita saling berpelukan, mengangsurkan pipi untuk dikecup, seusai histeria perhitungan mundur.

Perlukah histeria demikian? Kita memang gampang dihanyutkan histeria massal. Secara psikologis, mereka yang terhanyut pada lautan histeria massal, memang tak memiliki jati diri yang kukuh. Dengan demikian, integritas diri menjadi hablur, ketika memasuki histeria massal.

Namun tak demikian bagi mereka yang senantiasa mempertahankan jati dirinya. Di tengah lautan histeria, mereka masih berusaha mempertahankan keagungan jati dirinya. Mereka, bahkan, masih menyisakan ruang betapa Islam bersama peradabannya merupakan keagungan hidup.

Maka, di tengah keriaan histeria melepas tahun lama dan menyongsong tahun baru, mereka menyisih ke lorong sunyi kehidupan. Mereka, para pejalan ruhani itu, memilih melakukan perenungan: hakikat sang waktu. Bukankah Allah melalui surah Al Ashr – yang merupakan simbol keagungan Islam tentang sang waktu – telah mengingatkan manusia menjadi sosok yang merugi jika tak pandai memanfaatkan waktu?

Maka, di tengah keriaan histeria massal, para pejalan ruhani menemukan kesejatian sang waktu. Betapa tarikh yang terus berganti, seperti pergantian siang pada malam, bukan sekadar penanda ukuran kesuksesan manusia di dunia. Kesejatian pergantian waktu justru penanda berkurangnya usia manusia di bumi. Tahun yang berganti, bagaikan keranda yang berjingkat, mengantar kita ke liang lahat.

Bila kita sebagai pejalan ruhani, memahami hakikat sang waktu, patutkah hanyut pada histeria massal? Kita justru semestinya terisak, ketika memahami betapa sang waktu detik demi detik menggiring kita ke liang lahat, sementara masih lalai melaksanakan amanah Allah di muka bumi.

Maka, saat menghitung hari, ketika tarikh terus berganti, selaiknya membuat kita berlomba untuk membuat amal kebajikan. Amal kebajikan itu merupakan jalan menghampiri-Nya. Ini agar kita tak menjadi insan yang merugi. Bukankah Allah telah mengingatkan, demi masa, sesungguhnya manusia itu merugi!

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: