Home > Realita > Seksualitas Otak

Seksualitas Otak

Perempuan yang cerewet mungkin patut bersyukur karena ternyata cerewet adalah ciri khas perempuan dan memiliki kaitan biologis dengan otaknya. Perempuan juga tidak usah kecewa atau kaget ketika ia begitu lihai membahasakan emosi dengan tutur kata yang lancar. Liku-liku emosi mampu diuraikannya dengan terperinci, dengan bahasa yang mudah dipahami. Tidak seperti kaum lelaki yang pelit dengan kata-kata.

Perbedaan Laki-laki dan Perempuan
Ada tiga hal yang membedakan laki-laki dan perempuan: (1) struktur fisik, (2) organ reproduksi, dan (3) cara berpikir (bukan level of intelligence). Struktur otak dan pengaruh hormonal diketahui sebagai penyebab perbedaan tersebut. Dalam struktur otak, terlihat perbedaan pada: (1) korpus kolosum, (2) hipotalamus, (3) lobus parietal bawah, dan (4) kehilangan sel-sel saraf pada hipokampus dan lobus parietal.

Perbedaan Ukuran Otak
Sandra Witelson dari hasil penelitiannya menemukan bahwa otak perempuan secara keseluruhan lebih kecil daripada otak laki-laki. Ia menyebut korpus kolosum (jembatan saraf antara dua belahan otak) terutama bagian isthmus dan splenium sebagai komponen yang cenderung lebih besar pada perempuan. Bagian-bagian ini bertanggung jawab dalam hubungan antarbelahan otak yang menjamin ketepatan dan kecepatan pertukaran informasi antarbelahan otak.

Dalam proses penuaan, jaringan otak laki-laki terutama lobus temporal (di sekitar telinga) dan frontal (di belakang dahi) lebih dahulu hilang dan memberi efek dramatis pada pola pikir kaum laki-laki. Ketika sel-sel saraf di daerah ini hilang, laki-laki juga hilang kepekaannya. Pada perempuan, sel-sel lobus parietal dan hipokampus lebih cepat menghilang ketika mereka menjadi tua. Pada saat-saat seperti itu, perempuan akan banyak kehilangan memori dan kemampuan mengenal ruang (spasial).

Perbedaan Emosi
Haier, dengan alat bantu PET (positron emission tomography) menemukan kenyataan bahwa ketika menganggur, aktivitas otak laki-laki banyak terjadi pada daerah lymbic temporal. Daerah ini adalah pengatur emosi yang berhubungan dengan aksi motorik, terutama perilaku “yang suka memukul jika sedang marah”. Laki-laki yang sedang marah ketika emosi tidak terkontrol akan disalurkan melalui pukulan tangan, tendangan kaki, dan makian. Tidak usah heran, daerah lymbic temporal adalah sisa otak reptil sehingga ada fakta yang menarik bahwa istilah “buaya darat” (buaya adalah salah satu jenis reptil) dialamatkan pada laki-laki yang hidungnya “belang-belang”. Sebaliknya, pada perempuan, saat istirahat, aktivitas otaknya lebih banyak terjadi pada cyngulata gyrus. Daerah ini merupakan turunan otak mamalia yang bertanggung jawab mengontrol ekspresi emosi. Ketika marah, perempuan cenderung membelalakkan matanya daripada memukul, menendang, atau memaki. Ketika sedih, otak perempuan lebih aktif daripada otak laki-laki; lymbic system pada otak perempuan bekerja 8 kali lebih keras.

Perbedaan Kemampuan Berbahasa
Saat beranjak dewasa, perkembangan bahasa lebih cepat terjadi pada perempuan. Mereka lebih ceapt berbicara dan lebih cepat belajar membaca. Menurut ahli saraf Sally Shaywitz dan Bennet Shaywitz, ini terjadi karena anak perempuan memakai dua belahan otaknya saat membaca atau melakukan kegiatan berbahasa lainnya. Oleh karena itu, menakjubkan, sifat cerewet perempuan ternyata memiliki dasar biologis. Hal ini juga karena korpus kolossum perempuan lebih tebal daripada laki-laki. Dengan itu, aliran informasi mejadi lebih cepat dan lebih banyak.

Perbedaan Kemampuan Pengenalan Ruang (Spasial)
Lobus parietal bawah di otak adalah bagian yang bertanggung jawab dalam pengenalan spasial. Analisis Mellisa Frederikse dari University of Medicine and Dentistry in Newark pada 15 orang anak perempuan dan 15 orang anak laki-laki, dengan pantuan otak oleh MRI, ditemukan bahwa lobus parietal itu 6% lebih besar pada laki-laki sedangkan perempuan menampakkan asimetri antara lobus kiri dan lobus kanan.

Kesimpulan
Uraian di atas pada prinsipnya menunjukkan satu hal: bahwa laki-laki dan perempuan memang berbeda. Perjuangan para feminis tentang kesetaraan gender dan emansipasi dalam kehidupan sehari-hari akan berimplikasi besar jika disadari adanya perbedaan itu. Berbagai riset tentang otak menemukan titik perbedaan tersebut. Namun perbedaan itu sendiri tetaplah sebuah “gua yang gelap” dan salah satu isi “gua yang gelap” itu bahwa manusia tetaplah sebuah misteri. Sekalipun para ahli yang terlibat dalam Human Genome Project berhasil memetakan hampir 90% gen pembentuk manusia, tapi manusia tetaplah sebuah misteri.

Keberadaan Hawa (Eva) yang menemani Adam sebagaimana diceritakan dalam kitab-kitab suci, juga sebuah misteri. Apa perlunya Hawa diciptakan bila otak Adam sanggup mengatasi semua masalah? Akan lain halnya jika perbedaan itu dilihat dari irama kehidupan yang bergulir dan bergerak dalam keseimbangan. Untuk mengetahui malam, maka harus ada siang; seperti juga untuk mengetahui putih, harus ada hitam. Keseimbangan dan harmoni itu telah ditetapkan sedemikian rupa oleh Sang Maha Pencipta. Maka menjaga keseimbangan jauh lebih penting daripada mencoba melahirkan keseimbangan-keseimbangan baru.

Categories: Realita
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: