Home > Uncategorized > Demi Esok yang Melewati Ruang dan Waktu

Demi Esok yang Melewati Ruang dan Waktu

Sesuatu yang baru selalu memberi nuansa harapan, baik itu barang baru ataupun momen baru. Sadar atau tidak, momen baru seringkali direspon dengan sebuah keinginan dan optimisme bahwa masa yang akan kita masuki dapat memberi lebih banyak kebaikan. Momen baru bisa berupa hari baru, tahun baru, ataupun umur baru.

Ya, misalnya, tahun baru yang selalu diperingati di mana-mana. Tetapi di lain sisi, tahun baru sering juga dipandang sebagai momen untuk menengok ke belakang, “Sebetulnya apa saja yang sudah kita lakukan selama ini?” Dengan mengutarakan pertanyaan itu kepada diri sendiri, kita jadi tahu seberapa banyak capaian kita dan seberapa besar usaha kita. Harapannya, kita menyadari di titik mana kita berada dan mengerti betul usaha macam apa yang harus kita lakukan untuk merealisasikan mimpi akan hari baru yang lebih baik.

Begitulah yang banyak dilakukan manusia di seluruh penjuru dunia. Memang yang lebih nampak adalah harapan agar tahun baru membawa keberkahan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya sehingga diperingati dalam bentuk hura-hura dan tidak mencerminkan pentingnya evaluasi. Bisa jadi di bawah sadarnya manusia mencoba untuk melupakan kesedihan tahun-tahun sebelumnya dan hal itu diungkapkan ke dalam bentuk pesta.

Sesungguhnya tahun baru merupakan milestone dalam kerangka waktu, yang mengingatkan bahwa kita semakin mendekati akhir perjalanan. Bahasa lugasnya, usia kita semakin berkurang. Kesadaran akan hal ini seharusnya dapat mendorong peningkatan dan akselerasi kita dalam beramal soleh. Tentunya, akselerasi membutuhkan usaha yang lebih keras. Lalu apa deskripsi nyata ‘usaha yang lebih keras’ itu?

Islam mengajarkan kita untuk senantiasa menyempatkan diri bertanya: sudah sejauh apakah kita melakukan sesuatu agar hari esok lebih baik dari hari ini. Dan bagi kita hari esok sesungguhnya tidak terbatas di dunia, karena kita diajarkan untuk melihat jauh ke depan, melewati batas ruang dan waktu di dunia ini. Terbukti dengan doa sapu jagad yang menjadi pegangan kita sehari-hari: Ya Tuhan, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta hindarkanlah kami dari azab neraka. Alhasil, kedatangan momen baru pun diperingati sebagai kesempatan untuk berkontemplasi, “Apakah yang kita lakukan selama ini sudah cukup menjadi bekal kita?” Sehingga ketika tiba saatnya kita menengok ke belakang secara keseluruhan, kita tidak akan mempunyai penyesalan dan Allah pun ridho dengan kita.

Pemahaman akan nilai waktu adalah hal mutlak. Kita ingat, Q.S Al-Ashr, dimana Allah bersumpah demi waktu. Waktu yang hilang tidak tergantikan. Karena itu, sebaiknya kita tidak berani bermain-main dengan waktu. Hal kedua adalah menyadari bahwa kualitas ketaqwaan tidak berbatas. Jika kita menyandingkan pemahaman mengenai sempitnya waktu dan tidak berbatasnya kualitas ketaqwaan, kita tidak akan berani membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak terkait dengan peningkatan kualitas itu. Kesadaran bahwa kualitas taqwa itu tidak mengenal batas atas maka kita tidak akan pernah merasa telah berada di puncak dan tidak pula merasa lebih tinggi dibanding yang lain.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: