Home > Islam > Pernyataan Para Imam Mazhab

Pernyataan Para Imam Mazhab

Al Hafizh Ibnu Rajab berkata, “Wajib bagi setiap orang yang telah sampai kepadanya perintah Rasulullah SAW dan dia telah mengetahuinya, untuk menerangkannya kepada umat, menasihati mereka, dan memerintahkan mereka untuk mengikuti perintahnya, walaupun hal itu bertentangan dengan pendapat ulama yang diagungkan. Karena perintah Rasulullah SAW lebih berhak untuk diagungkan dan diikuti daripada pendapat ulama besar manapun yang menyalahi perintah beliau dalam beberapa perkara, dimana pendapat ulama itu terkadang keliru.

Berkenaan dengan seringnya timbul perbedaan pendapat (ihtilaf) di kalangan umat, berikut ini disampaikan pernyataan para imam mazhab, semoga berguna sebagai nasihat dan pelajaran bagi mereka yang taklid kepada para imam tersebut.

Abu Hanifah
Imam Abu Hanifah an Nu’man bin Tsabit, perkataannya telah banyak diriwayatkan oleh para sahabatnya. Semuanya melahirkan satu kesimpulan, bahwa kewajiban untuk berpegang teguh kepada hadits dan meninggalkan pendapat para imam yang bertentangan dengannya. Imam Abu Hanifah menegaskan:

  • Apabila hadits itu shahih, maka hadits itu adalah mazhabku.
  • Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang kepada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya. Dalam sebuah riwayat dikatakan, “Haram bagi orang yang tidak mengetahui dalil peganganku lantas memberikan fatwa dengan perkataanku”.
  • Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah dan kabar Rasulullah, maka tinggalkanlah perkataanku.

Malik bin Anas
Imam Malik berkata:

  • Sesungguhnya saya hanyalah seorang manusia biasa yang bisa salah dan bisa benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan al Kitab dan as Sunnah, ambillah. Dan yang tidak sesuai dengan al Kitab dan as Sunnah, maka tinggalkanlah.
  • Tidak ada seorang pun selain Nabi SAW, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan ditinggalkan.
  • Ibnu Wahb berkata, “Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang menyela-nyela jari kaki ketia berwudhu”. Beliau menjawab, “Amalan itu tidak disyariatkan bagi kaum muslimin”. Ibnu Wahb berkata, “Maka aku meninggalkannya (tidak memberi komentar) hingga manusia berkurang”. Kemudian aku berkata kepadanya, “Kami mempunyai sunnah yang menerangkan hal itu”. Beliau berkata, “Apakah itu?” Saya berkata, “Al Laits bn Sa’ad dan Ibnu Lahi’ah dan Amr bin al Harits menceritakan kepada kami dari Yazid bin Amr al Ma’afiri, dari Abu Abdirrahman al Hubuly, dari al Mustaurid bin Syaddad al Quraisy, dia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW menyela-nyela jari-jari kedua kaki beliau dengan jari kelingkingnya”. Maka Malik bin Anas berkata, “Hadits ini derajatnya hasan dan saya belum pernah mendengar hadits ini kecuali saat ini”. Setelah itu saat beliau ditanya tentang hal itu, maka beliau memerintahkan untuk menyela-nyela jari-jari kaki.

Asy Syafi’i
Di antara beberapa pernyataan Imam Syafi’i antara lain:

  • Tidak seorang pun, kecuali dia harus bermazhab dengan sunnah Rasulullah dan mengikutinya. Adapun yang saya ucapkan atau saya tetapkan tentang sebuah kaidah dasar sedangkan sunnah Rasulullah bertentangan dengan ucapanku, maka yang diambil adalah sabda Rasulullah SAW dan pendapatku juga seperti itu.
  • Kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang telah terang baginya sunnah Rasulullah SAW, maka tidak halal baginya untuk meninggalkan sunnah tersebut, hanya karena ingin mengikuti perkataan seseorang.
  • Apabila kalian mendapatkan dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW, maka jadikanlah sunnah Rasulullah SAW sebagai dasar pendapat kalian dan tinggalkanlah apa yang aku katakan.
  • Apabila hadits itu shahih, maka dia adalah mazhabku.
  • Engkau lebih tahu dariku tentang hadits dan orang-orangnya (rijalul hadits). Apabila hadits itu shahih, maka ajarkanlah ia kepadaku apapun adanya, baik ia dari Kufah, Basrah, maupun Syam. Apabila ia shahih, aku akan bermazhab dengannya.
  • Setiap masalah yang shahih dari Rasulullah SAW bagi ahlu naqli dan bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku meralatnya di dalam hidupku dan setelah aku mati.
  • Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan sedangkan hadits Nabi yang shahih bertentangan dengannya, maka ketahuilah, sesungguhnya akalku telah bermazhab dengannya.
  • Apapun yang aku katakan, kemudian terdapat hadits shahih dari Nabi SAW yang bertentangan dengan perkataanku, maka hadits Nabi adalah lebih utama. Olehnya, janganlah kalian taklid padaku.
  • Setiap hadits dari Nabi SAW, maka dia adalah pendapatku, walaupun kalian belum pernah mendengarnya dariku.

Ahmad bin Hanbal
Imam Ahmad adalah salah seorang imam yang paling banyak mengumpulkan sunnah dan paling berpegang teguh kepadanya. Sehingga beliau paling membenci penulisan buku-buku yang memuat masalah-masalah fiqh furu’iyah dan ar ra’yi. Beliau berkata:

  • Janganlah engkau taklid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Asy Syafi’i, al Auza’i, maupun ats Tsauri. Tapi ambillah dari mana mereka mengambil. Pada riwayat lainnya beliau berkata, “Janganlah engkau taklid dalam perkara agamamu kepada salah seorang dari mereka. Setiap perkara yang sandarannya kepada Nabi SAW dan para sahabat beliau, maka ambillah. Jika berasal dari tabi’in, maka seseorang dapat memilih.
  • Pendapat al Auza’i, Malik, serta Abu Hanifah, semuanya adalah pendapat. Bagiku semuanya sama adanya. Adapun al Hujjah hanya ada pada atsar-atsar Nabawiyah.
  • Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah SAW, maka sesungguhnya ia telah berada di tepi kehancuran.

Demikianlah perkataan para imam yang memerintahkan berpegang teguh kepada hadits Nabi SAW dan melarang taklid kepada mereka tanpa adanya penelitian yang seksama. Perkataan mereka sudah demikian terang dan jelas, sehingga tidak bisa didebat dan diputarbalikkan lagi. Dengan demikian, jika ada yang berpegang teguh dengan sunnah yang shahih, walaupun bertentangan dengan perkataan para imam mazhab, maka sebenarnya dia tidak menyelisihi mazhab mereka dan tidak pula keluar dari metode mereka. Bahkan sikap demikianlah yang dikatakan telah mengikuti mereka dan berpegang teguh pada ikatan kokoh yang tidak dapat diceraikan.

Berbeda halnya dengan orang yang meninggalkan as sunnah yang shahih hanya karena bertentangan dengan perkataan para imam mazhab. Dia telah melakukan kedurhakaan kepada mereka, menyalahi, dan bertentangan dengan perkataan para imam tersebut.

sumber: Ashlu Shifati Shalatin Nabiy, Muhammad Nashiruddin al Albani

Categories: Islam
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: