Home > Islam > Siapakah Thagut?

Siapakah Thagut?

Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yag kafir (ingkar) kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang sangat kuat (Q.S. Al Baqarah, 2:256).

Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab menyatakan bahwa ayat ini merupakan tafsir dari syahadat La Ilaha Illallah yang berisi an-nafyi (peniadaan) dan itsbat (penetapan).

  • An Nafyi yaitu peniadaan uluhiyah dari setiap yang diibadahi selain Allah dan seorang hamba merealisaskannya dengan: (1) meyakini kebatilan beribadah kepada selain Allah, (2) meninggalkan peribadan semacam itu, (3) membencinya, (4) mengkafirkan pelakunya, (5) memusuhi mereka.
  • Al Itsbat yaitu penetapan uluhiyah bagi Allah semata dengan menunjukkan seluruh macam ibadah hanya kepada Allah saja.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip beberapa pendapat sebagai berikut.

  • Menurut Umar bin Khattab bahwa thagut adalah syaithan, mencakup segala kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah seperti penyembahan berhala, berhakim kepadanya, dan meminta pertolongan dengannya.
  • Menurut Jabir, thagut adalah dukun-dukun yang mana syaithan turun kepada mereka.
  • Menurut Mujahid, thagut adalah syaithan dalam bentuk manusia yang mana mereka berhakim kepadanya sedangkan dia pemegang urusan mereka.
  • Menurut Imam Malik thagut adalah setiap yang diibadahi selain Allah Azza wa Jalla.


Ibnul Qayyim berpendapat, “Thagut adalah segala sesuatu yang dilampaui batasnya oleh seoranghamba, baik yang diibadahi atau ditaati. Thagut setiap kaum adalah orang yang mana mereka berhakim kepada selain Allah dan Rasul-Nya, atau mereka mengibadahinya selain Allah atau mereka mengikutinya tanpa bashirah (penerang) dari Allah, atau mereka menaati dalam hal yang tidak mereka ketahui bahwa itu adalah ketaatan kepada Allah. Inilah thagut dunia, bila engkau mengamatinya dan mengamati keadaan manusia bersamanya, maka engkau melihat mayoritas mereka berpaling dari menyembah Allah kepada menyembah thagut; dan dari berhakim kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi berhakim kepada thagut, serta dari menaati Allah serta mengikuti Rasul-Nya menjadi menaati thagut dan mengikutinya” (I’lamu Al Muwaqqi’in, I/50).

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, “Thagut itu luas, setiap orang yang diibadahi selain Allah dan dia ridha dengan peribadatan itu, baik yang diibadahi atau diikuti atau ditaati bukan ada ketaatan terhadap Allah dan Rasul-Nya, maka ia adalah thagut. Dan thagut itu banyak, sedangkan pimpinan mereka ada lima, yaitu:

  • Pertama: syaithan, yang mengajak beribadah kepada selain Allah. Dalilnya adalah firman Allah SWT, “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaithan? Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu” (Q.S. Yasin, 36:60).
  • Kedua, penguasa yang aniaya, yang mengubah ketentuan-ketentuan Allah SWT. Dalilnya yaitu, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thagut, padahal mereka telah dperintah mengingkari thagut itu. Dan syaithan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya” (Q.s. An Nisa, 4:60).
  • Ketiga: yang memutuskan perkara (hukum) dengan selain yang telah ditentukan Allah. Dalilnya adalah, “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka itu adalah orang-orang yang kafir”, (Q.S. Al Maidah, 5:44).
  • Keempat: yang mengaku mengetahui hal-hal yang gaib. Dalilnya yaitu, “Dia adalah Tuhan Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu kecual kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya” (Q.S. Al Jin, 72:26-27).
  • Kelima: yang diibadahi selain Allah sedang ia ridha dengan peribadatan itu. Dalilnya yaitu, “Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya aku adalah tuhan selain daripada Allah’, maka orang itu Kami beri balasan dengan jahannam. Demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim”, (Q.S. Al Anbiya, 21:29), (Majmu’ah at Tauhid. Muhammad bin Abdul Wahhab. Maktabah ar Riyadh al Haditsah. Hal. 260).

Syaikh Muhammad Hamid al Faqiy berkata, “Yang bisa disimpulkan dari ucapan salaf radiyallahu anhum adalah bahwa thagut yaitu setiap yang memalingkan seorang hamba dan menghalanginya dari ibadah kepada Allah, pengikhlasan, ketundukan, serta ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, baik dalam hal itu syaithan dari jin maupun manusia, pepohonan, bebatuan, dan yang lainnya. Dan masuk dalam hal itu tanpa diragukan: penerapan undang-undang di luar Islam, ajaran-ajarannya, dan yang lainnya berupa apa yang diletakkan oleh manusia untuk memutuskan dengannya darah, kemaluan, dan harta. Dan agar dengannya dia menggugurkan ajaran Allah berupa penegakkan hudud, pengharaman riba, zina, khamr, dan yang lainnya, yaitu undang-undang buatan (qawanin) ini menghalalkannya dan melindunginya dengan kekuasaannya dan para pelaksananya. Qawanin itu sendiri adalah thagut, orang-orang yang membuatnya dan mensosialisasikannya adalah thagut juga. Dan serupa dengannya, setiap buku (kitab) yang diletakkan akal manusia dalam rangka memalingkan dari al-haq yang dibawa Rasulullah SAW, baik itu sengaja atau tidak sengaja dari pembuatnya, maka ia adalah thagut (catatan kaki hal. 287 dalam kitab Fathul Majid, karya Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Alu Asy Syaikh, terbitan Darul Fikri, 1399).

Syaikh Sulaiman ibnu Sahman an Najdiy berkata, “Thagut ada tiga macam, yaitu: (1) thagut hukum, (2) thagut ibadah, (3) thagut tha’at dan mutaba’ah (ketaatan dan keteladanan), (Ad Duror As Suniyyah, Juz 8, hal. 272).

Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz menegaskan, “Sesungguhnya ucapan yang paling mencakup tentang makna thagut adalah ucapan orang yang mengatakan bahwa thagut adalah setiap yang diibadahi selain Allah; dan ini adalah perkataan Imam Malik, dan ucapan orang yang mengatakan bahwa thagut adalah syaithan (pendapat jumhur sahabat dan thabi’in). Sedangkan selain dari dua pendapat ini adalah cabang dari keduanya. Dan kedua pendapat ini kembali kepada satu inti yang memiliki dhahir dan hakikat. Orang yang melihat kepada dhahir maka ia berkata, ‘Thagut adalah setiap yang diibadahi selain Allah’. Dan orang yang melihat kepada hakikat akan mengatakan, ‘Thagut adalah syaithan’ (Al Jami Fi Thalabil ‘Ilmi Asy Syarif, Juz 10).

Categories: Islam
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: