Home > Islam > Romantisme ala Rasulallah SAW

Romantisme ala Rasulallah SAW

11 February 2012 Leave a comment Go to comments

Kenabian Rasulullah tidak lantas menghilangkan sisi manusiawi beliau, bahkan ditampakkannya sisi manusiawi yang begitu cemerlang dan patut diteladani bukan hanya oleh kaum muslimin akan tetapi oleh seluruh umat manusia, sesuai dengan misi beliau sebagai uswah hasanah dan rahmatan lil ‘alamin. Romantisme Rasulullah SAW terhadap istrinya dapat kita temukan dalam hadits-hadits yang diriwayatkan para sahabat.

1. Mengantar isteri saat pergi
Salah seorang isteri beliau, Shafiyyah binti Huyay menuturkan,”Suatu ketika Rasulullah sedang beri’tikaf. Kemudian aku mendatangi dan menjenguknya pada malam hari, dan berbincang-bincang dengan beliau. Ketika aku berdiri hendak kembali, beliau berdiri bersamaku untuk mengantarku (sampai pintu), sembari berkata, “jangan terburu-buru hingga aku mengantarmu.” H.R. Bukhari, no. 2033.
Jadikan saat mengantar isteri pergi sebagai  momen kecil untuk menyuburkan cinta kita. sadari juga saat itu bahwa sang isteri adalah living partner dan belahan jiwa yang harus disayang, dipelihara, dan didoakan keselamatannya.

2. Membelai isteri dengan sepenuh hati
Diceritakan dalam suatu hadist, seperti diriwayatkan oleh Imam Ahmad Rahimahullah, “Adalah Rasulullah tidak pernah melewati hari, melainkan beliau mesti mengelilingi kami (isteri-isterinya) seorang demi seorang. Beliau menghampiri dan membelai kami, tetapi tidak bersama, sehingga beliau sampai ke tempat isteri yang menjadi gilirannya dan bermalam di tempat tersebut.”
Membelai adalah bahasa tubuh untuk mengungkapkan rasa kasih sayang kepada yang dibelai. Lewat belaian mengalirlah perasaan sayang itu sehingga menumbuhkan perasaan cinta yang bertambah-tambah.

3. Memupuk cinta dengan hadiah
Suatu hari, Rasulullah pernah memberikan hadiah berupa seorang penyanyi (biduanita) kepada Aisyah Ra. untuk menyenangkan hati isterinya tersebut. dari Said bid Zaid Ra., bahwa ada seorang wanita menghadap Rasulullah. Beliau berkata,”wahai Aisyah, tahukah engkau siapakah orang ini?” Aisyah berkata, “Tidak, wahai Nabi Allah.”
Kemudian beliau berkata, “Ini budak yang pandai bernyanyi dari bani fulan. Sukakah bila dia bernyanyi untukku?” Aisyah menjawab, “Ya.” Kemudian beliau memberi wanita itu sebuah talam dan biduan itu pun menyanyi. (Isnadnya shahih, H.R. Ahmad (3/449) dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (7/158)

4. Bersandar di pangkuan isteri
Aisyah Ra menuturkan, Nabi SAW membaca Al Qur’an (mengulang hapalan) dan kepala beliau berada di pangkuanku sedangkan aku dalam keadaan haid.” H.R. Al Bukhari, No. 7945
Jangan ragu menyandarkan kepala Anda di pangkuan isteri atau sebaliknya karena saat seperti itu kenyamanan, kebersamaan, kemesraan dan keromantisan akan menyelimuti. Sambil bersandar lakukan hal-hal yang dapat menambah kemesraan seperti obrolan kecil, candaan ringan, atau bahkan saling mengecek hafalan Al Qur’an.
Kalau Anda malu melakukan ini karena dianggap seperti anak kecil, maka lakukanlah ditempat dan waktu yang tepat karena sesungguhnya kebutuhan akan kenyamanan bukan cuma untuk anak kecil saja.

5. Membersihkan noda merah isteri
Aisyah menuturkan, “Aku pernah tidur bersama Rasulullah di atas satu tikar. Saat itu aku sedang haid. Apabila darahku menetes di atas tikar itu, Rasulullah mencucinya pada bagian yang terkena tetesan darah dan Rasulullah tidak berpindah dari tempat itu, kemudian beliau shalat di tempat itu pula, lalu Rasulullah berbaring kembali di sisiku. Apabila darahku menetes lagi di atas tikar itu, Rasulullah mencuci pada bagian yang terkena tetesan darah itu saja dan tidak berpindah dari tempat itu, kemudian Rasulullah pun shalat di atas tikar itu.” (HR. Ahmad)
Wanita yang sedang haid cenderung mengalami ketidakstabilan secara fisik dan psikologis. Isteri berada dalam keadaan yang tidak optimal sehingga perlu banyak dilakukan pemakluman. Bantulah isteri dalam kondisinya tersebut. rasul mencontohkan dengan senantiasa menjaga kemesraan bahkan bersedia membersihkan noda darah haid isterinya. Pada sebagian wanita saat haid justru saat dirinya membutuhkan lebih banyak kasih sayang dari suaminya.

6. Membonceng dengan mesra
Anas bin Malik Ra pernah menuturkan, “Kami bersama Rasulullah SAW pulang dari Khaibar. Aku membonceng Abu Thalhah, sedangkan beliau mengendarai tunggangannya sendiri. Saat itu, salah seorang isteri Rasulullah membonceng di belakang beliau.” (HR Bukhari)

7.  Membantu isteri naik kendaraan
Suatu hari isteri Rasulullah SAW, Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab, ingin menaiki seekor unta. Dengan sangat bersahaja dan memuliakan sang isteri, Rasulullah kemudian duduk di sisi unta beliau. Kemudian beliau menekuk lututnya. Lalu, isteri beliau Shafiyyah Ra meletakkan kakinya di atas lutut Nabi hingga naik ke atas unta (Diriwayatkan oleh Bukhari Muslim).

8.   Beri kecupan sepenuh cinta
Suatu hari Rasulullah SAW ingin berangkat ke mesjid. Sebelum melangkah ke luar, beliau sempatkan untuk mencium mesra Siti Aisyah Ra. Aisyah menceritakan, “Rasulullah menciumku, kemudian beliau pergi (ke mesjid) untuk shalat tanpa memperbarui wudhu.” (HR. Abdul Razaq)

9.   Jalan-jalan romantis di malam hari
“Rasulullah apabila datang waktu malam, beliau berjalan bersama Aisyah dan berbincang-bincang dengannya.” (HR Bukhari, No. 5211 dan Muslim, No. 2445)

10.  Lomba lari dengan isteri
Suatu ketika dalam sebuah rombongan, Rasulullah menyuruh para sahabatnya untuk berjalan terlebih dahulu. Kemudian beliau berkata kepada Aisyah, “Ayo kemarilah. Kuajak kamu adu cepat lari.” Lalu Aisyah dan berhasil mengalahkan Nabi. Saat itu tubuh Aisyah masih terlihat kurus.
Pada kesempatan lainnya, Aisyah kembali menemani perjalanan Rasulullah. Lagi-lagi beliau meminta para sahabatnya untuk berjalan terlebih dahulu. Lalu beliau berkata kepada Aisyah, “Ayo kemarilah! Kuajak kamu adu cepat (lari).” Saat itu badan Aisyah sudah tidak sekurus dahulu pada saat perlombaan pertama, lalu Aisyah berkata, “Bagaimana aku bisa beradu cepat denganmu ya Rasulullah sedangkan badanku begini?” Rasulullah bersabda, “Ayolah lakukan!” Lomba lari pun dilakukan dan Rasulullah memenangkan perlombaan lalu dengan riangnya berkata, “Ini balasan atas kekalahanku yang dulu.”  Kisah ini di dapat dari HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad dalam riwayat Ibnu Majah, sanad hadist ini sahih menurut syarat Bukhari.

Agak mengejutkan bagi orang awam mengetahui fakta bahwa seorang pemimpin besar seperti Rasulullah melakukan hal yang sangat kekanak-kanakan seperti ini, namun justru inilah sisi terhebat dari teladan kita. Beliau tidak pernah melupakan fitrah manusia untuk bermain-main dengan pasangan hidup yang dicintainya untuk kemudian terus berkutat dalam urusan-urusan besarnya.

11.  Redam amarah dengan memegang hidung isteri
Diriwayatkan oleh Ibnu Sunni, Nabi SAW pernah memegang hidung Aisyah jika dia marah, dan Rasulullah berkata, “Wahai Uwaisy, bacalah do’a, ‘Wahai Tuhanku, Tuhan yang mengutus Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan.”
Inilah cara Rasul me-menej amarah isterinya. Anda tentu tidak perlu memegang hidung isteri untuk meredam amarahnya, karena inti dari tindakan Rasul di atas adalah untuk menimbulkan rasa relaks pada diri Aisyah. Alih-alih ikut terpengaruh marah, kenapa Anda tidak menjadi penyejuk jiwa isteri ketika dia marah? Syaratnya, anda jangan terpengaruh ikut marah juga (di sinilah tantangannya).

12. Layani dengan penuh cinta
Diriwayatkan oleh Aisyah ra ketika ditanya apa saja yang dilakukan Nabi ketika berada di rumahnya, Aisyah menjawab, “Ia melayani keluarganya” (HR Tirmizi).
Melayani isteri dicontohkan oleh Rasul SAW. Jadi kenapa kita tidak melakukannya ketika ada kesempatan. Bukankah isteri layak untuk dilayani setelah selama ini dia melayani kita dan hal ini sama sekali tidak akan menurunkan derajat suami.

Sungguh, contoh-contoh yang diberikan Rasulullah ini menjadi teladan bagi kita untuk lebih menjaga dan memupuk cinta kepada isteri. Sekali lagi, kepada istri, bukan pada wanita yang bukan mahram, yang terlarang kita melakukannya. Romantisme Rasul benar-benar romantisme yang jarang dilakukan oleh suami-suami jaman sekarang.

Categories: Islam
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: