Home > Tafsir > Tafsir Surat At Tiin

Tafsir Surat At Tiin

16 February 2012 Leave a comment Go to comments

Dua pohon, dua tempat
Surat At-Tiin adalah surat yang ke-95 di dalam mushaf Al-Qur’an. Surat ini diwahyukan di Makkah, sebagai wahyu yang ke-28, turun sesudah Surat Al-Buruuj dan sebelum Surat Al-Quraisy. Surat ini terdiri atas 8 ayat.

(1) Wa At-Tiini Wa Az-Zaytuuni “Demi At-Tiin dan Az-Zaytuun”. (2) Wa Thuuri Siiniina “dan Thuuri Siiniina”, (3) Wa Hadhaa Al-Baladi Al-’Amiini “dan negeri yang aman ini”.
Dalam ayat-ayat 1-3, Allah SWT bersumpah dengan empat kata benda. Keempatnya untuk menyatakan paradigma penciptaan (dalam ayat ke-4): bahwa Dia telah menciptakan manusia dalam “sebaik-baik bentuk“.

Keempat benda tersebut mencakup 2 pohon/buah-buahan dan 2 tempat. Dari keempatnya, yang disepakati oleh semua mufassir adalah yang benda yang ke-4, yaitu bahwa yang dimaksud dengan “negeri yang aman ini” adalah Makkah Al-Mukarramah. Thur Sina jelaslah nama suatu bukit yaitu Bukit Sinai. “Yang masih menimbulkan perbedaan pendapat, di manakah bukit itu gerangan?”

Tiin dan zaytuun adalah nama pohon sekaligus buahnya. Wajarlah bila sebagian mufassir menjelaskan keutamaan buah tiin dan buah zaytuun, terkait dengan penggunaannya di dalam sumpah-sumpah Allah  tersebut. Namun mengingat runtutan sumpah tersebut sampai ke Makkah Al-Mukarramah, negeri tempat pengutusan Rasulullah Muhammad SAW, At-Tiin dan Az-Zaytuun itu juga menunjukan nama-nama tempat.

Sebagian besar mufassir menunjukkan tempat yang dimaksud dengan At-Tiin dan Az-Zaituun itu adalah Palestina, tempat di utusnya Rasulullah Isa as. Tafsiran ini mungkin muncul karena kedua jenis tanaman tersebut banyak terdapat di Palestina. Sementara Bukit Sinai adalah bukit di antara Teluk Suez dan Teluk Aqaba, tempat Rasulullah Musa AS menjumpai Allah SWT. untuk menerima wahyu Taurat. Taurat juga lazim dinamai Tabut Perjanjian, atau Sepuluh Perintah Tuhan (The Ten Commandments).

Adapun “negeri yang aman ini” pastilah Makkah Al-Mukarramah, tempat diutusnya Rasulullah Muhammad saw. Jadi, Allah SWT bersumpah dengan tiga tempat yang menjadi tempat diutusnya tiga nabi besar: ’Isa AS, Musa AS, dan Muhammad SAW, untuk menegaskan bahwa manusia diciptakan-Nya dalam sebaik-baik bentuk.

Keistimewaan buah tiin dan zaytuun
Buah tiin  di Indonesia dikenal sebagai buah ara. Dalam bahasa Inggris buah ini disebut buah figs. Sebenarnya kedua buah ini tidak persis betul, namun mereka berada dalam genus yang sama. Kadang-kadang tanaman ini tumbuh di tembok, bahkan di dinding pinggiran selokan. Berdaun lebar, tanaman ini berbuah mirip beringin, hanya saja ukurannya lebih besar.

Tanaman tiin, ara dan beringin (ficus benjamina) memang satu keluarga, yaitu keluarga beringin (ficus). Keluarga beringin yang juga dikenal luas adalah tanaman karet (ficus elastica). Pohon tiin juga satu keluarga dengan ficus religiosa atau populer sebagai pohon kalpataru. Pohon kalpataru adalah pohon bodhi yang menjadi tempat Pangeran Sidharta tercerahkan dan menjadi Budha Gautama. Pohon kalpataru ini banyak tumbuh di Candi Mendut dan juga di Pulau Bali.

Kehebatan tanaman ini adalah kekokohannya, sebagaimana dapat kita saksikan pada batang-batang beringin. Selain itu, kemampuannya bertahan hidup juga mengagumkan. Bagaimana mungkin tanaman berdaun serimbun itu tumbuh di tanah Timur Tengah yang kering? Karena dia menarik air dari tempat yang jauh, sehingga bahkan di sekitarnya muncul kolam atau kubangan air.

Buah tiin adalah sumber pangan yang disiapkan ketika makanan lain belum ada, bisa hidup di mana-mana. Banyak spesies hewan dan manusia yang terbantu penyebarannya dengan adanya buah ini.  Karbohidratnya sangat tinggi, manis ketika matang. Karena itu, di Timur Tengah buah tiin sering dibuat manisan.

Adapun buah zaytuun, banyak tumbuh di daerah pinggiran Laut Mediterania (Spanyol, Italia, Yunani, Maroko dll.). Ada dua varian, satunya warna kehitaman, satunya lagi hijau. Sebenarnya buah zaytuun yang asli sangat pahit dan pekat, membuat lidah mengerut karena beracun. Karena itu buah ini perlu diasinkan. Pizza Italia yang asli biasanya juga diberi potongan-potongan zaitun yang kecil di atasnya. Selain menjadi teman makan, buah zaytuun juga diambil minyaknya untuk keperluan kosmetik dan diet.

Penafsiran lain mengenai tiin dan zaytuun dari Abdullah Yusuf Ali yang menyatakan bahwa penyebutan buah tiin dan zaytuun dimaksudkan sebagai perumpamaan jiwa manusia. Buah tiin dari luar kelihatannya bagus, namun di dalam biasanya berulat. Ini perumpamaan tentang manusia yang dari luar kelihatannya baik, namun di dalam jiwanya busuk. Lawannya adalah buah zaytuun yang sering diambil minyaknya dan melambangkan kemurnian jiwa.

Keagungan dan kejatuhan manusia
Sumpah dengan tiin dan zaytuun pada ayat-ayat sebelumnya adalah untuk menunjukkan keagungan penciptaan manusia.
(4) Laqad Khalaqnaa Al-’Insaana Fii ‘Ahsani Taqwiimin “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk”. (5) Thumma Radadnaahu ‘Asfala Saafiliina “Kemudian kami kembalikan dia lebih rendah ketimbang tempat-tempat yang rendah”. (6) ‘Illaa Al-Ladhiina ‘Aamanuu Wa `Amiluu Ash-Shaalihaati Falahum ‘Ajrun Ghayru Mamnuunin “kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh; maka bagi mereka imbalan yang tiada putus-putusnya”.

Dalam ayat 4 Allah SWT menggunakan ungkapan Al-’Insaana dan ‘Ahsani Taqwiimin. Kata Al-’Insaan muncul dalam Al-Qur’an sebanyak 65 kali di dalam 63 ayat. Sebanyak 14 di antaranya membicarakan  tentang penciptaan manusia, termasuk ayat yang sedang kita bahas ini. Ayat ini menegaskan bahwa Allah telah menciptakan manusia dalam ‘Ahsani Taqwiimin, bentuk yang sebaik-baiknya.

Pada umumnya, para mufassir menyatakan bahwa ungkapan ’sebaik-baik bentuk’ itu tidak semata-mata merujuk kepada dimensi fisikal saja. Kesempurnaan tubuh  manusia hanyalah salah satu yang dikaruniakan Allah SWT kepadanya. Namun keistimewaan yang lebih utama adalah dimensi nonfisikalnya, berupa tiupan ruh (Q.S. 15 ayat 29, Q.S. 32 ayat 9). Dengan perkataan lain, dimensi mental dan spiritual manusialah karunia Allah SWT yang tak ada tolak bandingnya. Potensi dan fakultas spirituallah yang memungkinkan manusia mengemban akal, diajari Qur’an, dan asma (Q.S. 55 ayat 1-4, Q.S. 2 ayat 31).

Potensi mental dan spiritual manusia, berdasarkan temuan modern ilmu-ilmu kedokteran khususnya neurologi dan fsiologi, seolah-olah mencerminkan betapa luar biasanya makhluk ciptaan Allah yang satu ini. Namun segera ayat 5 mengingatkan, “Kemudian kami kembalikan dia lebih rendah ketimbang tempat-tempat yang rendah.”

Dramatik sekali. Apa sebenarnya makna ayat ke-5 ini? Ada tiga pendapat mufassir tentang ‘Asfala Saafiliin, yaitu :
1. Neraka dan kesengsaraan di dalamnya,
2. Keadaan kelemahan fisik dan psikis manusia di masa tuanya,
3. Keadaan ketika manusia belum diberi tiupan ruh oleh Allah SWT.

Makna ke-2 kurang relevan, makna ke-1 dan ke-3 lah yang lebih tepat. Makna ke-1 dikuatkan oleh Q.S. 7:179, sementara makna ke-3 disandarkan kepada Q.S. 76:1. Menarik untuk dikutip, pendapat dua cendekiawan muslim kontemporer dari Sunni dan Syi’i yang secara otonom satu  sama lain sampai kepada kesimpulan yang sama. Muhammad Quthb dalam buku Jahiliyyah Abad Dua Puluh, dan Ali Syari’ati  dalam buku Tentang Sosiologi Islam, menyimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang bertabiat kembar.

Manusia diciptakan dari “tanah” dan tiupan ruh ciptaan Allah, dua unsur yang berpadu, berjalan dan tak terpisahkan. Manusia tidak semata-mata diciptakan dari “tanah” sehingga kedudukannya merosot setaraf dengan benda atau binatang. Tidak pula ia diciptakan dari tiupan ruh semata-mata,  sehingga ia akan dipertuhan atau mempertuhankan diri sendiri. Perpaduan ruh dan “tanah” itulah yang membuat manusia menjadi makhluk yang istimewa, lebih mulia ketimbang makhluk apapun juga. Namun, pada saat yang sama, ia dapat merosot ke tempat yang paling rendah, bahkan lebih rendah ketimbang binatang. Makna ‘Asfala Saafiliin, yaitu kejatuhan manusia ke tempat yang lebih rendah dari yang rendah.

Bentuk terbaik dan tempat terendah
(4) Laqad Khalaqnaa Al-’Insaana Fii ‘Ahsani Taqwiimin “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk”. (5) Thumma Radadnaahu ‘Asfala Saafiliina “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”, (6) ‘Illaa Al-Ladhiina ‘AAmanuu Wa `Amiluu Ash-Shaalihaati Falahum ‘Ajrun Ghayru Mamnuunin “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”.

Makna potongan ayat (4) di atas, berkaitan erat dengan konsep ‘Asfala Saafiliina atau “tempat serendah-rendahnya”, dan ‘Illaa Al-Ladhiina ‘AAmanuu Wa `Amiluu Ash-Shaalihaati “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh” pada ayat-ayat berikutnya.

Selain keistimewaan manusia dari dimensi nonfisiknya, bentuk tubuh manusia pun adalah batas imajinasi manusia tentang kesempurnaan.  Coba lihat bentuk dewa-dewa Yunani dan India. Dalam mitologi Yunani atau Hindu, dewa-dewa tersebut memiliki bentuk seperti manusia. Bahkan Zeus sekalipun yang merupakan rajanya para dewa, tetap berbentuk manusia. Sedang dalam kepercayaan Hindu, meskipun Ganesha mengandung bentuk gajah, tetap serupa dengan manusia karena memiliki tangan.

Karena itu, yang diungkap dalam kalimat Al-’Insaana Fii ‘Ahsani Taqwiimin manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” dapat pula dipahami sebagai keistimewaan bentuk fisik manusia. Salah satu bentuk keistimewaan tersebut adalah kemampuan manusia menggunakan kedua tangannya untuk memegang dan memakai berbagai jenis alat. Beberapa kerabat terdekat manusia secara genetis, seperti simpanse dan gorila, memang mampu menggunakan batu-batuan untuk memecahkan biji. Namun hanya manusia yang mampu dengan sempurna menggunakan alat karena struktur telapak tangannya yang mampu mengggenggam.

Menurut penelitian, perbedaan manusia dengan kera terletak pada bentuk jempol atau ibu jarinya. Kera memiliki jempol yang lebih pendek sehingga sulit digunakan untuk menggenggam. Kera mengunakan tangannya lebih banyak untuk berjalan.

Tangan manusia mampu menggenggam dan menggunakan perkakas. Kemampuan yang tidak dimiliki hewan lain ini, disebabkan adanya jari jempol. Jika seseorang kehilangan jari-jari selain jempol, tangannya masih bisa dipergunakan untuk menggenggam. Namun bila jempol hilang maka tangan tidak bisa lagi dipergunakan menggenggam. Kekuatan jempol bahkan setara dengan empat jari lainnya. Inilah sebabnya mengapa jempol disebut ibu jari.

Penafsiran “manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” yang mengacu pada bentuk fisik manusia, akan berpengaruh pada penafsiran ayat berikutnya yaitu ayat (5). Dalam ayat Thumma Radadnaahu ‘Asfala Saafiliina “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”, yang dimaksud dengan ‘Asfala Saafiliina adalah kelemahan fisik dan psikis manusia di masa tuanya.

Dalam sudut pandang biologi, ada dua jenis orang tua. Pertama, orang jompo, yaitu orang yang pikun dan juga lemah fisiknya. Hal ini karena ketika masa muda, ia kurang melatih kerja otak dan fisiknya. Jenis yang kedua adalah orang bijak. Orang ini ketika masa tuanya menjadi bijak karena ketika muda terbiasa menggunakan otaknya. Dengan banyak berpikir, sel-sel otak menjadi terus beregenerasi.

Penafsiran lain berkaitan dengan ‘Asfala Saafiliina adalah neraka, berdasarkan surat Al-A’raf ayat 179:
Wa Laqad Dhara’naa Lijahannama Kathiiraaan Mina Al-Jinni Wa Al-’Insi Lahum Quluubun Laa Yafqahuuna Bihaa Wa Lahum ‘A`yunun Laa Yubshiruuna Bihaa Wa Lahum ‘Aadhaanun Laa Yasma`uuna Bihaa ‘Uulaa’ika Kaal’an`aami Bal Hum ‘A?allu ‘Uulaa’ika Humu Al-Ghaafiluuna
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Ayat tersebut bisa mengakomodasi  penafsiran ‘Asfala Saafiliina, baik sebagai kelemahan fisik di hari tua maupun keterjerumusan ke dalam neraka. Ayat di atas dapat ditafsirkan bahwa jika seseorang tidak menggunakan mata, telinga, dan pikirannya untuk mengolah informasi apapun, maka lama kelamaan ia akan menjadi pikun. Secara khusus, jika informasi yang dimaksud adalah ayat-ayat Allah, maka ia pun juga akan terjerumus ke dalam neraka.

Amal yang baik, benar dan indah
Ayat 4  dan 5 bersambung dengan ayat 6 yaitu ‘Illaa Al-Ladhiina ‘AAmanuu Wa `Amiluu Ash-Shaalihaati Falahum ‘Ajrun Ghayru Mamnuunin “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. Jika dibaca bersambung, maka cara agar masa tua menjadi mulia dan tidak pikun adalah dengan memperbanyak ibadah.

Amalan seperti shalat, dzikir, dan puasa diyakini dapat memperpanjang usia seseorang tanpa mengalami kepikunan atau kejompoan. Begitu pula dengan membaca Al-Qur’an. Secara ilmu qiraah, ketika membaca Al-Qur’an, ada huruf yang mengharuskan kita menghembuskan nafas dan ada huruf yang mengharuskan kita menahannya. Karena itu, membaca Al-Qur’an juga merupakan latihan pengolahan nafas. Seorang ulama menyatakan, “Apa yang dilakukan pada masa muda akan membekas di masa tua”.

Dari sisi lain, dalam ayat 6 tersebut, Allah SWT menegaskan bahwa ada segolongan manusia yang tidak dikembalikan ke posisi yang sangat hina dan rendah tersebut. Mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Iman artinya membenarkan semua yang dibawa oleh Rasulullah SAW, baik berupa Al-Qur’an maupun berupa sunnah Rasul Muhammad SAW.

Sedangkan ‘amal shalih ialah amal yang benar, baik, dan indah menurut Allah SWT dan Rasul-Nya. Amal shalih juga berarti amal yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan Sunnah Rasul-Nya, serasi dengan titik tolak ikhlas dan titik tujuan ridha Allah SWT secara generik. ’Amal shalih ialah amal yang selaras dengan ayat-ayat Allah, baik yang Kauniyah maupun yang Qur’aniyah. Bagi mereka inilah pahala dan ganjaran yang tiada henti-hentinya.

Surat At-Tiin ini ditutup dengan pertanyaan retoris: (7) Famaa Yukadhdhibuka Ba`du Bid-Diini “Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?” (8) ‘Alaysa Allaahu Bi’ahkami Al-Haakimiina “Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?”

Telah demikian jelas dan gamblang posisi dan peran yang diamanatkan kepada manusia oleh Allah SWT. Karena itu wajar jika dalam ayat (7), Allah menggugat manusia, “Maka sesudah itu, (setelah begitu  jelasnya posisi kamu), apa sebabnya kamu dustakan  ad-Diin?” Mengapa kamu dustakan Musa AS, mengapa kamu dustakan Isa AS, dan juga mengapa kamu dustakan utusan terakhir-Ku, Muhammad SAW? Padahal kalian tahu, Allah SWT adalah hakim yang seadil-adilnya. Lalu mengapa kalian tetap mendustakan utusan-utusan-Ku?

Categories: Tafsir
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: