Home > Tafsir > Tafsir Surat Al Muthaffifin

Tafsir Surat Al Muthaffifin

19 February 2012 Leave a comment Go to comments

Dalam tinjauan Mushaf Utsmani, surat ini berada pada urutan 83. Akan tetapi dari segi tarikh nuzulil ayat atau sejarah turunnya ayat, surat ini berada pada urutan ke-68, setelah Surat Al-Ankabut dan sebelum Al-Baqarah. Menurut pendapat yang paling masyhur, ayat 29-36 surat ini diturunkan pada tahun ke-13 kenabian (fase terakhir dakwah Rasulullah di Makkah). Sebaliknya, ayat 1-28 diturunkan di Madinah.

Dalam hadits Imam An-Nasa’i dan Ibnu Majah, disebutkan bahwa asbabun nuzul surat ini terkait kondisi ketika Nabi SAW. hijrah ke Madinah. Beliau melihat, di pasar Madinah para pedagang terbiasa melakukan penipuan dan kecurangan. Dalam sebuah hadits diceritakan bagaimana beliau menemukan seorang pedagang yang barang dagangannya di bagian atas terlihat bagus. Namun ketika Rasulullah memasukan tangannya sampai ke tengah hingga bawah, ternyata barang dagangan itu busuk.

Melihat hal tersebut Rasulullah SAW bersabda: “Ada lima perkara yang biasa membawa kecelakaan. Pertama, seseorang atau suatu kaum yang sering melanggar perjanjian atau kesepakatan, maka akan timbul ketidakpercayaan di antara mereka. Akibatnya musuh dapat masuk memecah belah dan kemudian menguasai mereka. Kedua, apabila manusia berpaling dari hukum Allah, maka ia akan ditimpa musibah.”

Rasul melanjutkan, “Ketiga, apabila manusia terang-terangan berbuat maksiat dan dosa maka akan banyak nyawa melayang, manusia mudah membunuh sesamanya. Keempat, apabila manusia melakukan kecurangan dalam timbangan dan takaran, maka akan terjadi musim paceklik yang berkepanjangan dan tumbuh-tumbuhan akan sulit tumbuh. Kelima, apabila manusia menahan zakat maka hujan akan ditahan olehAllah SWT”. Akhirnya Allah SWT menurunkan Surat Al-Muthaffifin.

Kitab yang ditandai
Surat ini dimulai dengan peringatan bagi orang-orang yang curang.
1. Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.
2. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.
3. dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.
4. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.
5. pada suatu hari yang besar.
6. (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam.
7. Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin.
8. Tahukah kamu apakah sijjin itu?
9. (Ialah) kitab yang bertulis.

Dari segi akar kata, sijjinin berasal dari “sijnun” yang artinya penjara, seolah-olah Allah menggambarkan bahwa kitab catatan amal perbuatan orang-orang yang berbuat durhaka, betul-betul dipenjara, tidak ada makhluk lain yang mengubah catatan tersebut.

Ada pula yang mengartikan sijjinin berasal dari “sijjil” atau lumpur, seolah-olah Allah ingin mengatakan bahwa amal perbuatan orang-orang yang durhaka itu lebih layak ditulis dengan tinta dari lumpur, berbeda dengan amal perbuatan orang-orang yang baik, yang dicatat seolah-olah dengan tinta emas.

Terlepas dari penafsiran-penafsiran tersebut, sijjinin dapat dipahami sebagai nama salah satu kitab catatan. Hal ini dijelaskan dalam ayat 8 bahwa sijjinin itu adalah “kitabun marqumun” atau kitab yang ditulis. Kata “marqumun” itu sendiri artinya menurut Imam Al-Biqa’i dalam Nazmud Dhurar, adalah “yang ditandai atau yang dicirikan”.

Ayat 7 dan 8 terkait erat dengan ayat 18-21:
18. Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu tersimpan dalam ‘Illiyyiin”
19. Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu?
20. (yaitu) kitab yang bertulis
21. yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah).

Ayat 18 menggunakan kata `Illiyina, yang akar katanya berasal dari kata a’la yang berarti “sesuatu yang tinggi”. Ayat 19 menjelaskan bahwa kata `Illiyina adalah juga kitabun marqumun atau kitab yang ditandai. Dalam ayat 21 disebutkan bahwa kitab yang ditandai tersebut disaksikan oleh para al-Muqarrabuna. Kembali terdapat dua tafsiran;  pertama, al-Muqarrabuna adalah orang-orang yang beriman, mereka akan didekatkan ke sisi Allah SWT. Kedua, mereka adalah para malaikat, yang memang berada lebih dekat dengan Allah SWT.

Rekaman yang jujur
Penafsiran lain dari Istilah “kitabun marqumun” secara harfiyah adalah “kitab rekaman”. Tafsiran “kitab rekaman” tersebut bisa didapat dengan mengorelasikan ayat 9 dan 20 surat al-Mutaffifin dengan ayat ke-13 surat al-Isra yaitu “kitaban yalqahu mansyura”.

Ayat tersebut ditafsirkan oleh mufassir-mufassir kontemporer sebagai berikut:
1. a record which he will find wide open (Muhammad Asad, The Message of The Qur’an)
2. a scroll which he will see spread open (Abdullah Yusuf Ali, The Holy Qur’an)
3. “berupa buku yang akan kita jumpai terbuka lebar” (Maulana Muhammad Ali, The Holy Qur’an)

Penafsiran-penafsiran para mufassir kontemporer ini mengantarkan asosiasi Taufiq Pasiak, seorang ahli neurologi, kepada bentuk fisik “kulit otak” (neokorteks). Kulit otak ini tergulung dan terlipat-lipat sedemikian rupa agar dapat menempati dan menutup kedua belahan otak besar (serebrum).

Fungsi terpenting neokorteks ini antara lain adalah berpikir, merasa, dan mengingat. Kulit otak mengingat melalui rekaman pada sel-sel sarafnya. Ia merekam aktivitas manusia yang bersangkutan, baik kegiatan motorik, kegiatan sensorik, maupun kegiatan asosiatif. Pembagian kerja untuk kegiatan-kegiatan ini disebut homunculus otak. Jadi, ketika tampil utuh di pengadilan Padang Mahsyar nanti, boleh jadi homunculus otak kita itulah yang akan menjadi bukti seluruh rekaman aktivitas kita di dunia.

Senada dengan pendapat Taufik Pasiak, pakar fisiologi ITB, Lulu Lusianti Fitri menyatakan bahwa lembaran yang bergulung-gulung itu memang ada di dalam bagian otak yang disebut gyrus. Bagian tersebut memang berlipat-lipat dan jumlah sel sarafnya jauh lebih banyak dibandingkan bagian otak lain. Jumlah sel saraf otak sendiri menurut sebuah penelitian adalah 1012 – 1014 sel.

Penafsiran “kitabun marqumun” sebagai lembaran kulit otak terkait dengan proses pembelajaran yang terekam dalam otak; memori disimpan di dalam synaps; synaps adalah hubungan antara satu sel saraf dengan sel saraf lain. Dalam satu sel saraf bisa terdapat puluhan synaps. Selain membuat suatu hubungan, sel saraf juga membuat networking. Otak mengambil ingatan dari informasi-informasi yang disimpan sebelumnya.

Yang menarik, otak sebenarnya tidak pernah melupakan apapun. Kita mungkin bisa lupa karena ada berbagai peristiwa yang terjadi secara bersamaan. Atau mungkin ada yang kita anggap tidak perlu. Tetapi hal itu dilupakan karena kita tidak mau menyadarinya. Otak merekam segala sesuatu, namun yang kita ingat hanyalah yang ingin kita ambil.

Keberadaan`illiyina dan sijjinin dalam otak memang masih harus dibuktikan. Kita tidak tahu tempatnya khusus atau tidak, tapi diyakini ada di synaps. Dengan EEG (electro echephalograph), sekarang baru diteliti 20 tempat di dalam otak, padahal sebenarnya ada 328 kumpulan synaps.

Berkaitan dengan pandangan yang menyatakan bahwa perbuatan baik dan buruk manusia dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid dan nantinya akan diberikan kepada kita, sebagian tafsir menyatakan bahwa malaikat itu tidak selalu harus berarti sesosok makhluk. Aparat Allah seperti gaya, momentum, partikel, dan lain-lain bisa saja tergolong malaikat. Jadi penafsiran tersebut tidak bertentangan dengan keberadaan malaikat.

Categories: Tafsir
  1. rohiq
    10 April 2012 at 11:34 AM

    i like

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: