Home > Tafsir > Tafsir Surat Al Zalzalah

Tafsir Surat Al Zalzalah

Pengantar
Kamis siang waktu setempat (8/3/2012), gempa berkekuatan 5,8 Skala Richter (SR) mengguncang China. Dalam situs resminya Kementerian Urusan Sipil China menyebutkan, 25 orang tewas akibat gempa di wilayah Yingjiang, Provinsi Yunnan. Sedang 250 orang lainnya menderita luka. Sebanyak 134 di antaranya dalam kondisi kritis. Lebih dari 127.000 orang telah dievakuasi dari lokasi gempa ke penampungan terdekat. Kepala Humas Pemerintah Yingjiang, Zhao Yunshan mengatakan sekira 1.200 rumah atau apartemen ambruk akibat gempa.

Gempa adalah Simulasi Kiamat
Surat Az-Zalzalah (keguncangan) menggambarkan gempa sebagai salah satu event kiamat. Ayat 1-5 surat ini berbunyi:
1. Idzaa zulzilati l-ardhu zilzaalahaa.
2. Wa akhrajati l-ardhu atsqaalahaa.
3. Wa qaala l-insaanu maa lahaa.
4. Yaumaïdzin tuhadditsu akhbaaraha,
5. bi anna rabbaka awhaa lahaa.

Terjemahan harfiahnya:
1. Apabila diguncangkan Bumi seguncang-guncangnya.
2. Dan mengeluarkan Bumi beban-beban beratnya.
3. Dan berkatalah manusia: ada apa dengannya?
4. Hari itu Bumi memberitakan kabar-kabarnya.
5. Bahwa Tuhanmu mewahyukan baginya.

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa guncangan yang terjadi ketika gempa, bukan hanya bersifat fisik. Gempa juga mengguncang jiwa dan iman manusia. Betapa menakutkannya melihat bumi bergoyang dengan hebat. Di Padang dan Aceh, ketika gempa, orang-orang sampai terduduk dan merangkak di jalanan. Tidak bisa berdiri, tidak sedikit pengungsi yang akhirnya bunuh diri karena frustrasi kehilangan harta dan keluarga.

Gempa umumnya terjadi karena proses pertumbuhan dan pelumatan lempeng lewat mekanisme tektonik lempeng. Kepulauan Indonesia duduk di sepanjang pertemuan tiga lempeng (triple junction) yang terus tumbuh berdesakan. Lempeng tersebut adalah Lempeng Pasifik, Indo-Australia dan Eurasia. Desakan ini menimbun energi stress di pertemuan lempeng-lempeng tersebut. Karena itu, potensi gempa di negeri ini sangat tinggi.

Gempa dapat diibaratkan seperti seorang wanita yang hendak melahirkan. Kontraksinya sudah sangat kuat sewaktu si jabang bayi akan keluar. Tapi kita tidak tahu persis kapan keluarnya. Para ahli seismologi telah mendeteksi tingginya stress di zona subduksi (penunjaman lempeng) sepanjang Sumatera dan Jawa, sebelum gempa Nias, Jogja, dan Padang. Namun mereka tetap tidak mampu memastikan bulan, pekan, apalagi tanggal kejadian gempanya.

Meski belum bisa diperkirakan, besarnya magnitudo gempa dapat diukur dengan seismograf, yang dinyatakan dalam skala richter. Magnitudo gempa tektonik umumnya di atas 7 skala richter (SR). Gempa vulkanik antara 5-7 SR. Gempa ini disebabkan karena gerakan magma ke permukaan menjelang meletusnya gunung berapi. Gempa lokal, karena longsoran atau runtuhnya tebing, biasanya di bawah 5 SR.

Intensitas kerusakan gempa dinyatakan dalam skala Mercalli. Intensitas ini bergantung pada jarak dan kedalaman suatu wilayah dari pusat gempa. Skala I (Instrumental) hanya bisa dideteksi seismograf. Skala V (Kuat) bisa dirasakan semua orang, barang-barang berjatuhan, pintu maupun jendela rusak. Pada skala tertinggi yaitu XII (Kataklismik), terjadi kehancuran total, benda-benda terlempar ke udara dan permukaan tanah tampak bergelombang. Gempa di atas 7 SR biasanya menimbulkan kerusakan di atas Skala VIII Mercalli.

Gempa dalam Skenario Kiamat
Ayat pertama Surat Az-Zalzalah bukan memberitakan gempa biasa. Yang dimaksud dengan zulzilat menurut Ibnu Abbas adalah digoncangkan dari dasar Bumi. Setelah itu, tidak akan pernah ada lagi guncangan. Dengan kata lain, guncangan yang diceritakan adalah peristiwa Hari Kiamat.

Gempa pada saat kiamat, berbeda dengan gempa yang pernah kita rasakan. Pada gempa bumi yang terjadi sekarang, yang berguncang hanyalah lapisan kulit bumi. Akan tetapi pada hari kiamat nanti, bumi akan diguncangkan seguncang-guncangnya. Tidak akan terukur oleh skala mana pun. Saat itu, bumi akan mengeluarkan beban-beban beratnya. Bukan hanya lapisan kulit bumi saja, selimut bumi dan pusat bumi pun akan ikut dimuntahkan.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Insyiqaq 3-4: Wa idzaa l-ardhu muddat, wa alqat maa fiihaa wa takhallat.
“Dan apabila Bumi dikempeskan, dan melemparkan segala yang di dalamnya sampai kosong!” Hal tersebut dapat saja terjadi, namun belum diketahui mekanisme apa yang mampu memuntahkan mantel, apalagi inti, sampai ke permukaan bumi.

Mekanisme gempa yang mungkin terjadi ketika kiamat adalah percepatan pergerakan lempeng. Lempeng-lempeng di muka bumi saat ini bergerak dengan kecepatan 7-12 cm per tahun. Gempa-gempa besar sekalipun seperti di Aceh tahun 2004 lalu, terjadi karena pergerakan lempeng dengan kecepatan tersebut.

Bagaimana percepatan tersebut mungkin terjadi? Konveksi di mantel yang menggerakkan lempeng-lempeng tektonik mungkin saja berjalan lebih cepat. Suhu inti bumi bisa saja meningkat tajam sehingga material mantel memanas dan memutar konveksi lebih cepat. Bagaimana suhu inti bumi dapat melonjak, belum dapat dijelaskan.

Mengenai apa yang dikeluarkan bumi pada saat kiamat, kata “atsqola” adalah bentuk plural dari “tsaqil” yang menurut Ibnu Manzhur berarti barang tambang seperti emas dan perak. Bisa juga berarti orang-orang yang mati (al-mauta) sebagaimana pendapat para ulama salaf.

Hal ini senada dengan ayat Alquran lainnya, “Wa idzal ardhu muddat wa alqot ma fiha wa takhollat” (Al-Insyiqaq: 3-4). Ayat ini dikomentari Rasulullah SAW melalui riwayat Imam Muslim. Beliau berkata bahwa nanti pada hari kiamat semua barang tambang seperti emas dan perak dikeluarkan untuk menjadi saksi bahwa manusia saling membunuh, mencuri, dan memutuskan silaturahmi.

Hal lain yang menarik dari surat ini, adalah pernyataan ayat 4 bahwa ketika gempa, bumi “mengabarkan beritanya”. Para ahli seismologi, memang mendapat banyak sekali informasi mengenai bumi dari gelombang gempa. Model bumi yang berlapis-lapis mulai dari kerak sampai inti, lahir dari penafsiran atas perbedaan cepat rambat gelombang gempa. Sifat-sifat masing-masing lapisan pun ditafsirkan berdasarkan perbedaan cepat rambat tersebut.

Terkait makna kata “akhbaroha” dalam ayat ke-4, menurut riwayat Imam Ahmad, tatkala Rasulullah SAW membaca ayat ini, beliau bertanya kepada para sahabatnya, “Apa yang kalian ketahui tentang maksud ‘akhbaroha’? Para sahabat menjawab, “Allahu wa rasuluhu a’lamu” (Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui). Lalu Rasulullah berkata, “Bahwa yang dimaksud akhbaroha adalah bumi nanti pada hari kiamat akan menjadi saksi atas apa yang dilakukan oleh setiap hamba di atas punggungnya dengan mengatakan: ‘Kamu telah melakukan A pada hari A”. Hadits dengan redaksi hampir sama juga diriwayatkan oleh Imam At-Thabrani dalam kitabnya Al-Mu’jam.

Pada ayat kelima, kata “bianna robbaka” berarti “karena sesungguhnya Tuhanmu”. Selanjutnya, kata “auha laha” menurut penafsiran Imam Bukhari, semakna dengan “auha ilaha” yang mempunyai pengertian ‘adzina laha’. Artinya, Allah mengizinkan atau memerintahkan kepadanya. Seakan-akan ayat ini menginformasikan kepada manusia bahwa bumi tidak akan bergoncang melainkan atas izin atau perintah Allah SWT.

Gempa: Antara Iptek dan Imtak
Selain mengakibakan kerusakan, gempa juga memberikan manfaat. Mekanisme tektonik lempeng membentuk basin (cekungan) di bagian back arc, yaitu di balik zona subduksi (penunjaman lempeng). Basin ini menjadi tempat penimbunan sedimen yang menjadi batuan reservoar minyak bumi dan gas alam. Gaya-gaya tektonik juga membentuk struktur patahan dan lipatan yang memerangkap minyak bumi atau gas di satu tempat. Bahkan gempa mendorong minyak mengisi struktur perangkap tersebut.

Selain minyak dan gas alam, tektonik lempeng juga mendorong beraneka mineral keluar dari perut bumi. Di lautan, mineral yang terbentuk di rekahan tengah samudera umumnya berada di sebelah kiri sistem periodik. Rekahan tersebut akibat pergerakan divergen lempeng. Sementara di daratan, mineral yang terbentuk dari letusan gunung api, umumnya berada di sebelah kanan sistem periodik.

Yaumaïdzin yashduru n-naasu asytaataan li yurau a`maalahum. Fa man ya`mal mitsqaala dzarratin khairaan yarah, wa man ya`mal mitsqaala dzarratin syarraan yarah (Surat Az-Zalzalah ayat 6-8). Terjemahan harfiahnya: “Hari itu muncul manusia terpisah-pisah untuk melihat perbuatan mereka. Maka siapa yang berbuat seberat partikel kebaikan dia akan melihatnya, dan siapa yang berbuat seberat partikel kejahatan dia akan melihatnya”.

Pada hari kiamat nanti, manusia akan muncul secara terpisah-pisah dalam tiga kelompok. Hal ini dijelaskan dalam Surat Al-Waqi`ah. Kelompok pertama adalah penghuni surga kelas ‘elit’ (as-saabiquuna s-saabiquun). Kelompok kedua adalah penghuni surga kelas ‘biasa’ (ash abu l-maymanah). Sementara kelompok ketiga adalah penghuni neraka (ash abu l-masy’ämah). Setiap insan akan memperoleh ganjaran atas segala perbuatannya di dunia fana.

Gempa memang seharusnya dilihat dari dua sudut pandang: iptek dan imtak. Dengan iptek manusia dapat memahami bagaimana peristiwa gempa terjadi, apa penyebabnya, apa kerusakan, dan manfaat yang dibawanya, serta bagaimana memanfaatkannya. Sementara dengan imtak, manusia dapat meresapi kemahabesaran Allah dalam peristiwa gempa, menyadari kelemahan dirinya, sehingga dapat mempersiapkan diri menuju kampung akhirat kelak. Wallahu A’lam bishowab.

Categories: Tafsir
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: