Archive

Archive for the ‘Islam’ Category

Fatwa Merayakan Valentine Day

13 February 2012 Leave a comment

Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin, tanggal 5/11/1420 H yanq beliau tandatangani
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Akhir-akhir ini telah merebak perayaan valentin’s day -terutama di kalangan para pelajar putri-, padahal ini merupakan hari raya kaum Nashrani. Mereka mengenakan pakaian berwarna merah dan saling bertukar bunga berwarna merah.. Kami mohon perkenan Syaikh untuk menerangkan hukum perayaan semacam ini, dan apa saran Syaikh untuk kaum muslimin sehubungan dengan masalah-masalah seperti ini. Semoga Allah menjaga dan memelihara Syaikh.

Jawaban:
Tidak boleh merayakan valentin’s day karena sebab-sebab berikut:
1. Bahwa itu adalah hari raya bid’ah, tidak ada dasarnya dalam syari’at.
2. Bahwa itu akan menimbulkan kecengengen dan kecemburuan.
3. Bahwa itu akan menyebabkan sibuknya hati dengan perkara-perkara bodoh yang bertolak belakang dengan tuntunan para salaf.
Karena itu, pada hari tersebut tidak boleh ada simbol-simbol perayaan, baik berupa makanan, minuman, pakaian, saling memberi hadiah, ataupun lainnya.
Hendaknya setiap muslim merasa mulia dengan agamanya dan tidak merendahkan diri dengan menuruti setiap ajakan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kaum muslimin dari setiap fitnah, baik yang nyata maupun yang tersembunyi, dan semoga Allah senantiasa membimbing kita dengan bimbingan dan petunjukNya.

Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’ imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyah wal Ifta’ (21203) tanggal 22/11/1420 H.
Al-Lajnah Ad-Da’ imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyah wal Ifta’ ditanya: Setiap tahunnya, pada tanggal 14 Februari, sebagian orang merayakan valentin’s day. Mereka saling betukar hadiah berupa bunga merah, mengenakan pakaian berwarna merah, saling mengucapkan selamat dan sebagian toko atau produsen permen membuat atau menyediakan permen-permen yang berwarna merah lengkap dengan gambar hati, bahkan sebagian toko mengiklankan produk-produknya yang dibuat khusus untuk hari tersebut. Bagaimana pendapat Syaikh tentang:
1. Merayakan hari tersebut?
2. Membeli produk-produk khusus tersebut pada hari itu?
3. Transaksi jual beli di toko (yang tidak ikut merayakan) yang menjual barang yang bisa dihadiahkan pada hari tersebut, kepada orang yang hendak merayakannya?
Semoga Allah membalas Syaikh dengan kebaikan.

Jawaban.
Berdasarkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah, para pendahulu umat sepakat menyatakan bahwa hari raya dalam Islam hanya ada dua, yaitu Idul Fithri dan Idul Adha, selain itu, semua hari raya yang berkaitan dengan seseorang, kelompok, peristiwa atau lainnya adalah bid’ah, kaum muslimin tidak boleh melakukannya, mengakuinya, menampakkan kegembiraan karenanya dan membantu terselenggaranya, karena perbuatan ini merupakan perbuatan yang melanggar batas-batas Allah, sehingga dengan begitu pelakunya berarti telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri. Jika hari raya itu merupakan simbol orang-orang kafir, maka ini merupakan dosa lainnya, karena dengan begitu berarti telah bertasyabbuh (menyerupai) mereka di samping merupakan keloyalan terhadap mereka, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang kaum mukminin ber-tasyabbuh dengan mereka dan loyal terhadap mereka di dalam KitabNya yang mulia, dan telah diriwayatkan secara pasti dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

“Artinya : Barangsiapa menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk golongan mereka” (HR. Abu Dawud dalam Al-Libas (4031), Ahmad (5093, 5094, 5634).

Valentin’s day termasuk jenis yang disebutkan tadi, karena merupakan hari raya Nashrani, maka seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak boleh melakukannya, mengakuinya atau ikut mengucapkan selamat, bahkan seharusnya me-ninggalkannya dan menjauhinya sebagai sikap taat terhadap Allah dan RasulNya serta untuk menjauhi sebab-sebab yang bisa menimbulkan kemurkaan Allah dan siksaNya. Lain dari itu, diharamkan atas setiap muslim untuk membantu penyelenggaraan hari raya tersebut dan hari raya lainnya yang diharamkan, baik itu berupa makanan, minuman, penjualan, pembelian, produk, hadiah, surat, iklan dan sebagainya, karena semua ini termasuk tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan serta maksiat terhadap Allah dan RasulNya, sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

“Artinya : Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya” [Al-Ma’idah : 2]

Dari itu, hendaknya setiap muslim berpegang teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dalam semua kondisi, lebih-lebih pada saat-saat terjadinya fitnah dan banyaknya kerusakan. Hendaknya pula ia benar-benar waspada agar tidak terjerumus ke dalam kese-satan orang-orang yang dimurkai, orang-orang yang sesat dan orang-orang fasik yang tidak mengharapkan kehormatan dari Allah dan tidak menghormati Islam. Dan hendaknya seorang muslim kembali kepada Allah dengan memohon petunjukNya dan keteguhan didalam petunjukNya. Sesungguhnya, tidak ada yang dapat memberi petunjuk selain Allah dan tidak ada yang dapat meneguhkan dalam petunjukNya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya Allah lah yang kuasa memberi petunjuk.

Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Categories: Islam

Simbol Hari Kasih Sayang dalam Alquran

13 February 2012 1 comment

Simbol hati yang biasanya diidentikkan dengan kasih sayang telah tertanam dalam Alquran sejak diturunkan 15 abad yang lalu. Bahkan lambang hati ini terdapat di setiap juz Alquran. Apakah makna yang terkandung dalam fenomena ini?

Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW disusun dengan metode tertentu yang kemudian menjadi surat-surat yang lengkap. Misalnya, wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW dijadikan 5 ayat pertama surat Al ‘Alaq yang merupakan surat ke 96 dalam Alquran. Jadi, berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya yang disusun berdasarkan kronologi turunnya waktu, maka Alquran disusun dengan format yang sama sekali berbeda.

Titik terang penjelasan mengenai hal ini mulai dibuka dengan munculnya ciri-ciri lain dalam Alquran yang kemudian dikenal dengan istilah ‘ijaz adadi atau mukjizat bulangan/angka yang pertama kali dipublikasikan oleh Rasyid Khalifa pada 24 Januari 1973 di majalah terbitan Mesir, Akher Sa’a. Publikasi ini mengawali publikasi-publikasi lain tentang pola-pola numerik yang ditemukan dalam Alquran.

Apabila pola-pola numerik tersebut diplot dalam sebuah sistem koordinat, ternyata muncullah citra yang merepresentasikan pola numerik tersebut. Contoh yang paling mudah adalah melihat pola numerik setiap juz di dalam Alquran. Misalnya, juz 1 terdiri dari surat Alfatihah (nomor surat 1 ayat 1-7) dan surat Albaqarah (nomor surat 2 ayat 1-141). Apabila setiap pasangan nomor surat (NS) dan nomor ayat (NA) dimasukkan dalam sebuah tabel, maka akan diperoleh tabel seperti gambar di samping.

Selanjutnya, dengan memetakan NS dan NA menggunakan fasilitas pembuat grafik yang umum ada di setiap program spreadsheet (Microsoft Excel atau OpenOfficeCalc) dengan model grafik radar, akan diperoleh gambar berikut.

Teknik pemetaan seperti ini disebutkan dalam surat Alhadid, 57:12


Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, pada hari ini ada berita gembira untukmu, surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang banyak.

Dalam konsep biologi, laki-laki disimbolkan dengan “X” dan perempuan disimbolkan dengan “Y”, maka diperolehlah sebuah koordinat kartesian (X-Y) 2D. “Cahaya” adalah titik-titik perpotongan “di hadapan” sumbu X dan “di sebelah kanan” sumbu Y. “Surga” adalah visual/kurva/grafik yang diperoleh dari “mengalir”-kan atau menghubungkan titik-titik koordinat.

Kemudian, dengan mengikuti pola yang dijelaskan dalam Q.S. Al A’raf, 7:54; Ibrahim, 14:33; An Nahl, 16:12; Al Anbiya, 21:33; Yasin, 36:40; dan Fushilat, 41:37, maka tabel pertama di atas diberikan cermin di bawahnya. Salah satu dari ayat-ayat di atas menyatakan:

Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan binatang-binatang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahaminya (Q.S. 16:12).

Di dalam ayat tersebut dinyatakan “… malam dan siang, matahari dan bulan …” dan bukan “malam dan siang, bulan dan matahari” (gelap-terang – terang gelap) karena yang kita ketahui di malam hari ada bulan dan di siang hari ada matahari. Sedangkan di dalam ayat-ayat tersebut urutan pernyataan kedua selalu merupakan “pencerminan” dari urutan pernyataan pertama. Karena itulah, tabel di atas ditambahkan menjadi seperti gambar di samping.

Berdasarkan tabel di atas, maka akan diperoleh hasil pemetaan berupa gambar sebuah hati, lambang hari kasih sayang.

Dengan cara yang sama, kita akan mendapatkan gambar-gambar hati yang lain dari juz yang lain. Apakah ini suatu kebetulan? Wallahu a’lam…

Categories: Islam

Di Balik Nama Muhammad

11 February 2012 Leave a comment

Kata “Muhammad” dibentuk oleh huruf mim, ha, mim, dan dal. Jika kita gabungkan huruf-huruf tersebut, maka akan terbentuk sebuah sekesta rangka tubuh “manusia”. Sudah maklum adanya bahwa sebaik-baik mahluk yang diciptakan oleh Allah SWT di alam semesta ini adalah “manusia” dengan kelebihan aqalnya, sementara mahluk-makhluk lain yaitu hewan, tumbuhan, dan benda-benda angkasa yang penuh rahasia.

Bentuk kaligrafi huruf-huruf pembentuk kata “Muhammad”  yang digabungkan juga akan membentuk sketsa layaknya manusia yang sedang sujud dalam shalat. Dalam ritual shalat, sujud merupakan inti dari semua rukun-rukunnya, karena pada saat sujudlah manusia menundukkan 8 bagian tubuhnya di bumi sebaga bukti kepasrahan total kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta.


Imam Muslim meriwayatkan dari Jubair bin Mut’im RA bahwa Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya saya mempunyai nama-nama, saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi, yang mana Allah menghapuskan kekafiran karena saya, saya Al-Hasyir yang mana manusia berkumpul di kaki saya, saya Al-Aqib yang tidak ada Nabi setelahnya.
Kata “Ahmad”, jika kita cermati satu-persatu hurufnya, maka huruf-huruf itu akan menggambarkan sosok orang yang sedang melakukan shalat. Shalat merupakan sebaik-baik doa dan ibadah yang pernah diperintahkanNya.

Betapa rahasia Allah sangat menggetarkan hati, kita yakin masih banyak tersirat rahasia-rahaisa lain di balik sosok, nama, dan semua yang berkaitan dengan sang kekasih sejati ‘Habibullah: Muhammad’.

Categories: Islam

Romantisme ala Rasulallah SAW

11 February 2012 Leave a comment

Kenabian Rasulullah tidak lantas menghilangkan sisi manusiawi beliau, bahkan ditampakkannya sisi manusiawi yang begitu cemerlang dan patut diteladani bukan hanya oleh kaum muslimin akan tetapi oleh seluruh umat manusia, sesuai dengan misi beliau sebagai uswah hasanah dan rahmatan lil ‘alamin. Romantisme Rasulullah SAW terhadap istrinya dapat kita temukan dalam hadits-hadits yang diriwayatkan para sahabat.

1. Mengantar isteri saat pergi
Salah seorang isteri beliau, Shafiyyah binti Huyay menuturkan,”Suatu ketika Rasulullah sedang beri’tikaf. Kemudian aku mendatangi dan menjenguknya pada malam hari, dan berbincang-bincang dengan beliau. Ketika aku berdiri hendak kembali, beliau berdiri bersamaku untuk mengantarku (sampai pintu), sembari berkata, “jangan terburu-buru hingga aku mengantarmu.” H.R. Bukhari, no. 2033.
Jadikan saat mengantar isteri pergi sebagai  momen kecil untuk menyuburkan cinta kita. sadari juga saat itu bahwa sang isteri adalah living partner dan belahan jiwa yang harus disayang, dipelihara, dan didoakan keselamatannya.

2. Membelai isteri dengan sepenuh hati
Diceritakan dalam suatu hadist, seperti diriwayatkan oleh Imam Ahmad Rahimahullah, “Adalah Rasulullah tidak pernah melewati hari, melainkan beliau mesti mengelilingi kami (isteri-isterinya) seorang demi seorang. Beliau menghampiri dan membelai kami, tetapi tidak bersama, sehingga beliau sampai ke tempat isteri yang menjadi gilirannya dan bermalam di tempat tersebut.”
Membelai adalah bahasa tubuh untuk mengungkapkan rasa kasih sayang kepada yang dibelai. Lewat belaian mengalirlah perasaan sayang itu sehingga menumbuhkan perasaan cinta yang bertambah-tambah.

3. Memupuk cinta dengan hadiah
Suatu hari, Rasulullah pernah memberikan hadiah berupa seorang penyanyi (biduanita) kepada Aisyah Ra. untuk menyenangkan hati isterinya tersebut. dari Said bid Zaid Ra., bahwa ada seorang wanita menghadap Rasulullah. Beliau berkata,”wahai Aisyah, tahukah engkau siapakah orang ini?” Aisyah berkata, “Tidak, wahai Nabi Allah.”
Kemudian beliau berkata, “Ini budak yang pandai bernyanyi dari bani fulan. Sukakah bila dia bernyanyi untukku?” Aisyah menjawab, “Ya.” Kemudian beliau memberi wanita itu sebuah talam dan biduan itu pun menyanyi. (Isnadnya shahih, H.R. Ahmad (3/449) dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (7/158)

4. Bersandar di pangkuan isteri
Aisyah Ra menuturkan, Nabi SAW membaca Al Qur’an (mengulang hapalan) dan kepala beliau berada di pangkuanku sedangkan aku dalam keadaan haid.” H.R. Al Bukhari, No. 7945
Jangan ragu menyandarkan kepala Anda di pangkuan isteri atau sebaliknya karena saat seperti itu kenyamanan, kebersamaan, kemesraan dan keromantisan akan menyelimuti. Sambil bersandar lakukan hal-hal yang dapat menambah kemesraan seperti obrolan kecil, candaan ringan, atau bahkan saling mengecek hafalan Al Qur’an.
Kalau Anda malu melakukan ini karena dianggap seperti anak kecil, maka lakukanlah ditempat dan waktu yang tepat karena sesungguhnya kebutuhan akan kenyamanan bukan cuma untuk anak kecil saja.

5. Membersihkan noda merah isteri
Aisyah menuturkan, “Aku pernah tidur bersama Rasulullah di atas satu tikar. Saat itu aku sedang haid. Apabila darahku menetes di atas tikar itu, Rasulullah mencucinya pada bagian yang terkena tetesan darah dan Rasulullah tidak berpindah dari tempat itu, kemudian beliau shalat di tempat itu pula, lalu Rasulullah berbaring kembali di sisiku. Apabila darahku menetes lagi di atas tikar itu, Rasulullah mencuci pada bagian yang terkena tetesan darah itu saja dan tidak berpindah dari tempat itu, kemudian Rasulullah pun shalat di atas tikar itu.” (HR. Ahmad)
Wanita yang sedang haid cenderung mengalami ketidakstabilan secara fisik dan psikologis. Isteri berada dalam keadaan yang tidak optimal sehingga perlu banyak dilakukan pemakluman. Bantulah isteri dalam kondisinya tersebut. rasul mencontohkan dengan senantiasa menjaga kemesraan bahkan bersedia membersihkan noda darah haid isterinya. Pada sebagian wanita saat haid justru saat dirinya membutuhkan lebih banyak kasih sayang dari suaminya.

6. Membonceng dengan mesra
Anas bin Malik Ra pernah menuturkan, “Kami bersama Rasulullah SAW pulang dari Khaibar. Aku membonceng Abu Thalhah, sedangkan beliau mengendarai tunggangannya sendiri. Saat itu, salah seorang isteri Rasulullah membonceng di belakang beliau.” (HR Bukhari)

7.  Membantu isteri naik kendaraan
Suatu hari isteri Rasulullah SAW, Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab, ingin menaiki seekor unta. Dengan sangat bersahaja dan memuliakan sang isteri, Rasulullah kemudian duduk di sisi unta beliau. Kemudian beliau menekuk lututnya. Lalu, isteri beliau Shafiyyah Ra meletakkan kakinya di atas lutut Nabi hingga naik ke atas unta (Diriwayatkan oleh Bukhari Muslim).

8.   Beri kecupan sepenuh cinta
Suatu hari Rasulullah SAW ingin berangkat ke mesjid. Sebelum melangkah ke luar, beliau sempatkan untuk mencium mesra Siti Aisyah Ra. Aisyah menceritakan, “Rasulullah menciumku, kemudian beliau pergi (ke mesjid) untuk shalat tanpa memperbarui wudhu.” (HR. Abdul Razaq)

9.   Jalan-jalan romantis di malam hari
“Rasulullah apabila datang waktu malam, beliau berjalan bersama Aisyah dan berbincang-bincang dengannya.” (HR Bukhari, No. 5211 dan Muslim, No. 2445)

10.  Lomba lari dengan isteri
Suatu ketika dalam sebuah rombongan, Rasulullah menyuruh para sahabatnya untuk berjalan terlebih dahulu. Kemudian beliau berkata kepada Aisyah, “Ayo kemarilah. Kuajak kamu adu cepat lari.” Lalu Aisyah dan berhasil mengalahkan Nabi. Saat itu tubuh Aisyah masih terlihat kurus.
Pada kesempatan lainnya, Aisyah kembali menemani perjalanan Rasulullah. Lagi-lagi beliau meminta para sahabatnya untuk berjalan terlebih dahulu. Lalu beliau berkata kepada Aisyah, “Ayo kemarilah! Kuajak kamu adu cepat (lari).” Saat itu badan Aisyah sudah tidak sekurus dahulu pada saat perlombaan pertama, lalu Aisyah berkata, “Bagaimana aku bisa beradu cepat denganmu ya Rasulullah sedangkan badanku begini?” Rasulullah bersabda, “Ayolah lakukan!” Lomba lari pun dilakukan dan Rasulullah memenangkan perlombaan lalu dengan riangnya berkata, “Ini balasan atas kekalahanku yang dulu.”  Kisah ini di dapat dari HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad dalam riwayat Ibnu Majah, sanad hadist ini sahih menurut syarat Bukhari.

Agak mengejutkan bagi orang awam mengetahui fakta bahwa seorang pemimpin besar seperti Rasulullah melakukan hal yang sangat kekanak-kanakan seperti ini, namun justru inilah sisi terhebat dari teladan kita. Beliau tidak pernah melupakan fitrah manusia untuk bermain-main dengan pasangan hidup yang dicintainya untuk kemudian terus berkutat dalam urusan-urusan besarnya.

11.  Redam amarah dengan memegang hidung isteri
Diriwayatkan oleh Ibnu Sunni, Nabi SAW pernah memegang hidung Aisyah jika dia marah, dan Rasulullah berkata, “Wahai Uwaisy, bacalah do’a, ‘Wahai Tuhanku, Tuhan yang mengutus Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan.”
Inilah cara Rasul me-menej amarah isterinya. Anda tentu tidak perlu memegang hidung isteri untuk meredam amarahnya, karena inti dari tindakan Rasul di atas adalah untuk menimbulkan rasa relaks pada diri Aisyah. Alih-alih ikut terpengaruh marah, kenapa Anda tidak menjadi penyejuk jiwa isteri ketika dia marah? Syaratnya, anda jangan terpengaruh ikut marah juga (di sinilah tantangannya).

12. Layani dengan penuh cinta
Diriwayatkan oleh Aisyah ra ketika ditanya apa saja yang dilakukan Nabi ketika berada di rumahnya, Aisyah menjawab, “Ia melayani keluarganya” (HR Tirmizi).
Melayani isteri dicontohkan oleh Rasul SAW. Jadi kenapa kita tidak melakukannya ketika ada kesempatan. Bukankah isteri layak untuk dilayani setelah selama ini dia melayani kita dan hal ini sama sekali tidak akan menurunkan derajat suami.

Sungguh, contoh-contoh yang diberikan Rasulullah ini menjadi teladan bagi kita untuk lebih menjaga dan memupuk cinta kepada isteri. Sekali lagi, kepada istri, bukan pada wanita yang bukan mahram, yang terlarang kita melakukannya. Romantisme Rasul benar-benar romantisme yang jarang dilakukan oleh suami-suami jaman sekarang.

Categories: Islam

Renungan Maulid Nabi Muhammad SAW

10 February 2012 Leave a comment

Oleh Prof. Dr. M. Quraisy Shihab

Kenal Allah? Orang yang beriman pasti percaya kepada Allah. Nah kalo Anda kenal dan percaya pada Allah dan percaya bahwa Allah itu menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan Anda. Maukah Anda mengetahui apa yang disukai dan tidak disukai-Nya? Mau, kalau memang Anda percaya bahwa Dia adalah Wujud. Kalau orang yang beriman pasti percaya bahwa Dia yang mencipta dan mengatur alam semesta ini, lalu bagaimana berhubungan dengan Beliau? Apa sajakah yang Dia sukai dan apa sajakah yang tidak Dia sukai?

Di sini perlu ada yang menjelaskan kepada kita. Ada tidak yang menurut Anda orang yang lengah/salah? Pasti ada, perlukah orang tersebut diingatkan? Kalau kita sayang orang tersebut maka kita perlu mengingatkan. Ada tidak diantara manusia yang lengah? Banyak. Perlukah diingatkan? Perlu. Siapa yang memberitahu tentang Allah? Siapa yang mengingatkan yang lengah? Siapa yang menjelaskan apa yang Dia sukai dan tidak Dia sukai? Rasul. Allah menyampaikan pada Rasul. Rasul yang menyampaikan pada umatnya. Kita manusia, hati kita kotor, kecerdasan terbatas, tidak bisa langsung kepada Allah. Maka Allah memilih beberapa orang untuk menjadi rasul untuk dapat menyampaikannya kepada kita.

Itu yang disebut Allah dalam surat Al-Bayyinah ayat 1 :”Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata”. Maka Allah mengutus Rasul-Nya, seperti yang disebutkan dalam ayat 2: ”(yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran)”.
Read more…

Categories: Islam

Doa-doa Rasulallah SAW yang Tidak Dikabulkan

9 February 2012 4 comments

‘Amir bin Said dari bapaknya berkata bahwa satu hari Rasulullah Saw telah datang dari daerah berbukit. Ketika Rasulullah SAW sampai di masjid Bani Mu’awiyah lalu beliau masuk ke dalam masjid dan menunaikan sholat dua rakaat. Maka kami pun turut sholat bersama dengan Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW berdoa dengan doa yang agak panjang kepada Allah SWT. Setelah selesai berdoa maka Rasulullah SAW pun berpaling kepada kami lalu bersabda: “Aku telah memohon kepada Allah SWT tiga perkara, dalam tiga perkara itu Allah hanya memperkenankan dua perkara saja dan satu lagi Dia ditolak”.
1. Aku telah memohon kepada Allah SWT supaya tidak membinasakan umatku dengan musim susah yang berpanjangan. Permohonanku ini dikabulkan oleh Allah SWT
2. Aku telah memohon kepada Allah SWT supaya umatku ini jangan dibinasakan dengan bencana tenggelam (seperti banjir besar yang telah melanda umat Nabi Nuh s.a). Permohonanku ini dikabulkan oleh Allah SWT
3. Aku telah memohon kepada Allah SWT supaya umatku tidak dibinasakan karena perselisihan sesama mereka (peperangan, perselisihan antara sesama muslim). Tetapi permohonanku tidak dikabulkan oleh Allah SWT.

Doa Rasulullah lainnya yang tidak dikabulkan adalah ketika paman yang dicintainya meninggal dunia yaitu Abu Thalib meninggal bukan dalam keadaan islam. Saat itu Nabi berdoa agar Allah SWT mengampuni dosanya, tetapi tidak dikabulkan karena dia bukan dari golongan umat nabi Muhammah SAW.

Terakhir, saat akhir hayat Rasulullah SAW telah tiba, “Allah SWT menugaskan malaikat maut untuk melakukan tugasnya dengan catatan agar tidak menyakitinya dan jangan mengambilnya ruhnya jika beliau tidak berkenan. Malaikat Izrail pun datang ke rumah Muhammad SAW dengan mengetuk pintu terlebih dulu (subhanallah).
Saat Muhammad SAW diambil ruh dari jasadnya, beliau merasa sakit yang luar biasa (astagfirullah kekasih Allah SWT saja kesakitan saat diambil ruhnya), katanya lebih sakit daripada terinjak-injak ratusan gajah. Tetapi kemudian Rasul yang agung itu meminta kepada Allah agar seluruh rasa sakitnya sakaratul maut dari semua umatnya ditimpakan kepada beliau. Allah SWT menolak permohonan baginda.
Rasulullah SAW kemudian meminta kepada Izrail agar setengah dari rasa sakit yang dirasakan umatnya seluruh dunia pada saat dicabut nyawanya dikumpulkan jadi satu dan ditanggung Rasulullah. Permintaan tersebut dikabulkan, sehingga umat beliau tinggal merasakan setengahnya saja (sumber: 101 misteri alam kubur).

Categories: Islam

17 Dalil Muhammad SAW Rasul dan Nabi Terakhir

9 February 2012 Leave a comment

1. ”Bukanlah Muhammad itu bapak salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi” (Q.S. Al Ahzab, 33:40).

2. Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Perumpamaan saya dan para Nabi sebelum saya seperti orang yang membangun satu bangunan lalu dia membaguskan dan membuat indah bangunan itu kecuali tempat batu yang ada di salah satu sudut. Kemudian orang-orang mengelilinginya dan mereka ta’juk lalu berkata: ‘kenapa kamu tidak taruh batu ini.?’ Nabi menjawab: Sayalah batu itu dan saya penutup Nabi-nabi”.

3. Rasulullah SAW menegaskan: “Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir dalam jajaran Nabi-nabi”. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).

4. Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jubair bin Mut’im RA bahwa Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya saya mempunyai nama-nama, saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi, yang mana Allah menghapuskan kekafiran karena saya, saya Al-Hasyir yang mana manusia berkumpul di kaki saya, saya Al-Aqib yang tidak ada Nabi setelahnya”.

5. Rasulullah SAW menjelaskan: ‘Saya Muhammad, Saya Ahmad, Saya Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku. (Dengan kata lain, Kiamat adalah satu-satunya yang akan datang sesudahku); dan saya adalah Yang Terakhir dalam arti tidak ada nabi yang datang sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab-ul-Fada’il, Bab Asmaun-Nabi; Tirmidhi, Kitab-ul-Adab, Bab Asma-un-Nabi; Muatta’, Kitab-u-Asma-in-Nabi; Al-Mustadrak Hakim, Kitab-ut-Tarikh, Bab Asma-un-Nabi).

6. Abu Daud dan yang lain dalam hadist Thauban Al-Thawil, bersabda Nabi Muhammad SAW: “Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku nabi, dan saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku”.

7. Khutbah terakhir Rasulullah: ” …Wahai manusia, tidak ada nabi atau rasul yang akan datang sesudahku dan tidak ada agama baru yang akan lahir. Karena itu, wahai manusia, berpikirlah dengan baik dan pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepadamu. Aku tinggalkan dua hal: Al Quran dan Sunnah, contoh-contoh dariku; dan jika kamu ikuti keduanya kamu tidak akan pernah tersesat …”

8. Rasulullah SAW menjelaskan: “Suku Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada nabi yang akan datang sesudahku; hanya para kalifah yang akan menjadi penerusku (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).

9. Rasulullah SAW menyatakan: “Allah telah memberkati aku dengan enam macam kebaikan yang tidak dinikmati Nabi-nabi terdahulu: – Aku dikaruniai keahlian berbicara yang efektif dan sempurna. – Aku diberi kemenangan kare musuh gentar menghadapiku – Harta rampasan perang dihalalkan bagiku. – Seluruh bumi telah dijadikan tempatku beribadah dan juga telah menjadi alat pensuci bagiku. Dengan kata lain, dalam agamaku, melakukan shalat tidak harus di suatu tempat ibadah tertentu. Shalat dapat dilakukan di manapun di atas bumi. Dan jika air tidak tersedia, ummatku diizinkan untuk berwudhu dengan tanah (Tayammum) dan membersihkan dirinya dengan tanah jika air untuk mandi langka. – Aku diutus Allah untuk menyampaikan pesan suciNYA bagi seluruh dunia. – Dan jajaran Kenabian telah mencapai akhirnya padaku (Riwayat Muslim, Tirmidhi, Ibnu Majah)

10. Rasulullah SAW menegaskan: “Rantai Kerasulan dan Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan nabi sesudahku”. (Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik).

11. Rasulullah SAW menjelaskan: “Allah yang Maha Kuasa tidak mengirim seorang Nabi pun ke dunia ini yang tidak memperingatkan ummatnya tentang kemunculan Dajjal (Anti-Kristus, tetapi Dajjal tidak muncul dalam masa mereka). Aku yang terakhir dalam jajaran Nabi-Nabi dan kalian ummat terakhir yang beriman. Tidak diragukan, suatu saat, Dajjal akan datang dari antara kamu”. (Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Dajjal).

12. Abdur Rahman bin Jubair melaporkan: “Saya mendengar Abdullah bin ‘Amr ibn-’As menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah SAW keluar dari rumahnya dan bergabung dengan mereka. Tindak-tanduknya memberi kesan seolah-olah beliau akan meninggalkan kita. Beliau berkata: “Aku Muhammad, Nabi Allah yang buta huruf”, dan mengulangi pernyataan itu tiga kali. Lalu beliau menegaskan: “Tidak ada lagi Nabi sesudahku”. (Musnad Ahmad, Marwiyat ‘Abdullah bin ‘Amr ibn-’As).

13. Rasulullah SAW berkata: ”Allah tidak akan mengutus Nabi sesudahku, tetapi hanya Mubashirat”. Dikatakan, apa yang dimaksud dengan al-Mubashirat. Beliau berkata: Visi yang baik atau visi yang suci”. (Musnad Ahmad, marwiyat Abu Tufail, Nasa’i, Abu Dawud). (Dengan kata lain tidak ada kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan datang. Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi dari Allah, dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci).

14. Rasulullah SAW berkata: “Jika benar seorang Nabi akan datang sesudahku, orang itu tentunya Umar bin Khattab”. (Tirmidhi, Kitab-ul-Manaqib).

15. Rasulullah SAW berkata kepada ‘Ali, “Hubunganmu denganku ialah seperti hubungan Harun dengan Musa. Tetapi tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab Fada’il as-Sahaba).

16. Rasulullah SAW menjelaskan: “Di antara suku Israel sebelum kamu, benar-benar ada orang-orang yang berkomunikasi dengan Tuhan, meskipun mereka bukanlah NabiNYA. Jika ada satu orang di antara ummatku yang akan berkomunikasi dengan Allah, orangnya tidak lain daripada Umar. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib)

17. Rasulullah SAW berkata: “Tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku dan karena itu, tidak akan ada ummat lain pengikut nabi baru apapun”. (Baihaqi, Kitab-ul-Rouya; Tabrani).

Categories: Islam