Archive

Archive for the ‘Tafsir’ Category

Tafsir Surat Al Zalzalah

10 March 2012 Leave a comment

Pengantar
Kamis siang waktu setempat (8/3/2012), gempa berkekuatan 5,8 Skala Richter (SR) mengguncang China. Dalam situs resminya Kementerian Urusan Sipil China menyebutkan, 25 orang tewas akibat gempa di wilayah Yingjiang, Provinsi Yunnan. Sedang 250 orang lainnya menderita luka. Sebanyak 134 di antaranya dalam kondisi kritis. Lebih dari 127.000 orang telah dievakuasi dari lokasi gempa ke penampungan terdekat. Kepala Humas Pemerintah Yingjiang, Zhao Yunshan mengatakan sekira 1.200 rumah atau apartemen ambruk akibat gempa.

Gempa adalah Simulasi Kiamat
Surat Az-Zalzalah (keguncangan) menggambarkan gempa sebagai salah satu event kiamat. Ayat 1-5 surat ini berbunyi:
1. Idzaa zulzilati l-ardhu zilzaalahaa.
2. Wa akhrajati l-ardhu atsqaalahaa.
3. Wa qaala l-insaanu maa lahaa.
4. Yaumaïdzin tuhadditsu akhbaaraha,
5. bi anna rabbaka awhaa lahaa.

Terjemahan harfiahnya:
1. Apabila diguncangkan Bumi seguncang-guncangnya.
2. Dan mengeluarkan Bumi beban-beban beratnya.
3. Dan berkatalah manusia: ada apa dengannya?
4. Hari itu Bumi memberitakan kabar-kabarnya.
5. Bahwa Tuhanmu mewahyukan baginya.

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa guncangan yang terjadi ketika gempa, bukan hanya bersifat fisik. Gempa juga mengguncang jiwa dan iman manusia. Betapa menakutkannya melihat bumi bergoyang dengan hebat. Di Padang dan Aceh, ketika gempa, orang-orang sampai terduduk dan merangkak di jalanan. Tidak bisa berdiri, tidak sedikit pengungsi yang akhirnya bunuh diri karena frustrasi kehilangan harta dan keluarga.

Gempa umumnya terjadi karena proses pertumbuhan dan pelumatan lempeng lewat mekanisme tektonik lempeng. Kepulauan Indonesia duduk di sepanjang pertemuan tiga lempeng (triple junction) yang terus tumbuh berdesakan. Lempeng tersebut adalah Lempeng Pasifik, Indo-Australia dan Eurasia. Desakan ini menimbun energi stress di pertemuan lempeng-lempeng tersebut. Karena itu, potensi gempa di negeri ini sangat tinggi.

Gempa dapat diibaratkan seperti seorang wanita yang hendak melahirkan. Kontraksinya sudah sangat kuat sewaktu si jabang bayi akan keluar. Tapi kita tidak tahu persis kapan keluarnya. Para ahli seismologi telah mendeteksi tingginya stress di zona subduksi (penunjaman lempeng) sepanjang Sumatera dan Jawa, sebelum gempa Nias, Jogja, dan Padang. Namun mereka tetap tidak mampu memastikan bulan, pekan, apalagi tanggal kejadian gempanya.

Meski belum bisa diperkirakan, besarnya magnitudo gempa dapat diukur dengan seismograf, yang dinyatakan dalam skala richter. Magnitudo gempa tektonik umumnya di atas 7 skala richter (SR). Gempa vulkanik antara 5-7 SR. Gempa ini disebabkan karena gerakan magma ke permukaan menjelang meletusnya gunung berapi. Gempa lokal, karena longsoran atau runtuhnya tebing, biasanya di bawah 5 SR.

Intensitas kerusakan gempa dinyatakan dalam skala Mercalli. Intensitas ini bergantung pada jarak dan kedalaman suatu wilayah dari pusat gempa. Skala I (Instrumental) hanya bisa dideteksi seismograf. Skala V (Kuat) bisa dirasakan semua orang, barang-barang berjatuhan, pintu maupun jendela rusak. Pada skala tertinggi yaitu XII (Kataklismik), terjadi kehancuran total, benda-benda terlempar ke udara dan permukaan tanah tampak bergelombang. Gempa di atas 7 SR biasanya menimbulkan kerusakan di atas Skala VIII Mercalli.

Gempa dalam Skenario Kiamat
Ayat pertama Surat Az-Zalzalah bukan memberitakan gempa biasa. Yang dimaksud dengan zulzilat menurut Ibnu Abbas adalah digoncangkan dari dasar Bumi. Setelah itu, tidak akan pernah ada lagi guncangan. Dengan kata lain, guncangan yang diceritakan adalah peristiwa Hari Kiamat.

Gempa pada saat kiamat, berbeda dengan gempa yang pernah kita rasakan. Pada gempa bumi yang terjadi sekarang, yang berguncang hanyalah lapisan kulit bumi. Akan tetapi pada hari kiamat nanti, bumi akan diguncangkan seguncang-guncangnya. Tidak akan terukur oleh skala mana pun. Saat itu, bumi akan mengeluarkan beban-beban beratnya. Bukan hanya lapisan kulit bumi saja, selimut bumi dan pusat bumi pun akan ikut dimuntahkan.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Insyiqaq 3-4: Wa idzaa l-ardhu muddat, wa alqat maa fiihaa wa takhallat.
“Dan apabila Bumi dikempeskan, dan melemparkan segala yang di dalamnya sampai kosong!” Hal tersebut dapat saja terjadi, namun belum diketahui mekanisme apa yang mampu memuntahkan mantel, apalagi inti, sampai ke permukaan bumi.

Mekanisme gempa yang mungkin terjadi ketika kiamat adalah percepatan pergerakan lempeng. Lempeng-lempeng di muka bumi saat ini bergerak dengan kecepatan 7-12 cm per tahun. Gempa-gempa besar sekalipun seperti di Aceh tahun 2004 lalu, terjadi karena pergerakan lempeng dengan kecepatan tersebut.

Bagaimana percepatan tersebut mungkin terjadi? Konveksi di mantel yang menggerakkan lempeng-lempeng tektonik mungkin saja berjalan lebih cepat. Suhu inti bumi bisa saja meningkat tajam sehingga material mantel memanas dan memutar konveksi lebih cepat. Bagaimana suhu inti bumi dapat melonjak, belum dapat dijelaskan.

Mengenai apa yang dikeluarkan bumi pada saat kiamat, kata “atsqola” adalah bentuk plural dari “tsaqil” yang menurut Ibnu Manzhur berarti barang tambang seperti emas dan perak. Bisa juga berarti orang-orang yang mati (al-mauta) sebagaimana pendapat para ulama salaf.

Hal ini senada dengan ayat Alquran lainnya, “Wa idzal ardhu muddat wa alqot ma fiha wa takhollat” (Al-Insyiqaq: 3-4). Ayat ini dikomentari Rasulullah SAW melalui riwayat Imam Muslim. Beliau berkata bahwa nanti pada hari kiamat semua barang tambang seperti emas dan perak dikeluarkan untuk menjadi saksi bahwa manusia saling membunuh, mencuri, dan memutuskan silaturahmi.

Hal lain yang menarik dari surat ini, adalah pernyataan ayat 4 bahwa ketika gempa, bumi “mengabarkan beritanya”. Para ahli seismologi, memang mendapat banyak sekali informasi mengenai bumi dari gelombang gempa. Model bumi yang berlapis-lapis mulai dari kerak sampai inti, lahir dari penafsiran atas perbedaan cepat rambat gelombang gempa. Sifat-sifat masing-masing lapisan pun ditafsirkan berdasarkan perbedaan cepat rambat tersebut.

Terkait makna kata “akhbaroha” dalam ayat ke-4, menurut riwayat Imam Ahmad, tatkala Rasulullah SAW membaca ayat ini, beliau bertanya kepada para sahabatnya, “Apa yang kalian ketahui tentang maksud ‘akhbaroha’? Para sahabat menjawab, “Allahu wa rasuluhu a’lamu” (Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui). Lalu Rasulullah berkata, “Bahwa yang dimaksud akhbaroha adalah bumi nanti pada hari kiamat akan menjadi saksi atas apa yang dilakukan oleh setiap hamba di atas punggungnya dengan mengatakan: ‘Kamu telah melakukan A pada hari A”. Hadits dengan redaksi hampir sama juga diriwayatkan oleh Imam At-Thabrani dalam kitabnya Al-Mu’jam.

Pada ayat kelima, kata “bianna robbaka” berarti “karena sesungguhnya Tuhanmu”. Selanjutnya, kata “auha laha” menurut penafsiran Imam Bukhari, semakna dengan “auha ilaha” yang mempunyai pengertian ‘adzina laha’. Artinya, Allah mengizinkan atau memerintahkan kepadanya. Seakan-akan ayat ini menginformasikan kepada manusia bahwa bumi tidak akan bergoncang melainkan atas izin atau perintah Allah SWT.

Gempa: Antara Iptek dan Imtak
Selain mengakibakan kerusakan, gempa juga memberikan manfaat. Mekanisme tektonik lempeng membentuk basin (cekungan) di bagian back arc, yaitu di balik zona subduksi (penunjaman lempeng). Basin ini menjadi tempat penimbunan sedimen yang menjadi batuan reservoar minyak bumi dan gas alam. Gaya-gaya tektonik juga membentuk struktur patahan dan lipatan yang memerangkap minyak bumi atau gas di satu tempat. Bahkan gempa mendorong minyak mengisi struktur perangkap tersebut.

Selain minyak dan gas alam, tektonik lempeng juga mendorong beraneka mineral keluar dari perut bumi. Di lautan, mineral yang terbentuk di rekahan tengah samudera umumnya berada di sebelah kiri sistem periodik. Rekahan tersebut akibat pergerakan divergen lempeng. Sementara di daratan, mineral yang terbentuk dari letusan gunung api, umumnya berada di sebelah kanan sistem periodik.

Yaumaïdzin yashduru n-naasu asytaataan li yurau a`maalahum. Fa man ya`mal mitsqaala dzarratin khairaan yarah, wa man ya`mal mitsqaala dzarratin syarraan yarah (Surat Az-Zalzalah ayat 6-8). Terjemahan harfiahnya: “Hari itu muncul manusia terpisah-pisah untuk melihat perbuatan mereka. Maka siapa yang berbuat seberat partikel kebaikan dia akan melihatnya, dan siapa yang berbuat seberat partikel kejahatan dia akan melihatnya”.

Pada hari kiamat nanti, manusia akan muncul secara terpisah-pisah dalam tiga kelompok. Hal ini dijelaskan dalam Surat Al-Waqi`ah. Kelompok pertama adalah penghuni surga kelas ‘elit’ (as-saabiquuna s-saabiquun). Kelompok kedua adalah penghuni surga kelas ‘biasa’ (ash abu l-maymanah). Sementara kelompok ketiga adalah penghuni neraka (ash abu l-masy’ämah). Setiap insan akan memperoleh ganjaran atas segala perbuatannya di dunia fana.

Gempa memang seharusnya dilihat dari dua sudut pandang: iptek dan imtak. Dengan iptek manusia dapat memahami bagaimana peristiwa gempa terjadi, apa penyebabnya, apa kerusakan, dan manfaat yang dibawanya, serta bagaimana memanfaatkannya. Sementara dengan imtak, manusia dapat meresapi kemahabesaran Allah dalam peristiwa gempa, menyadari kelemahan dirinya, sehingga dapat mempersiapkan diri menuju kampung akhirat kelak. Wallahu A’lam bishowab.

Categories: Tafsir

Tafsir Surat Al Ikhlas

22 February 2012 Leave a comment

Makna Ahad
Hanya ada dua surat dalam Alquran yang judul atau namanya justru sama sekali tidak disebut di dalam suratnya. Kedua surat tersebut adalah Alfatihah (surat pertama) dan al-Ikhlas (surat ke 112). Selain keunikan tersebut, surat al-Ikhlas mengandung penjelasan pandangan Islam tentang ketuhanan, yaitu tauhid, yang juga unik atau berbeda dibandingkan pandangan agama-agama lain.

Berdasarkan keterangan Imam Qatadah, Dhahak dan Muqatil, surat ini turun atas pertanyaan beberapa orang Yahudi kepada Rasulullah SAW. Mereka berkata, “Terangkan kepada kami wujud Tuhan-mu, karena di dalam Taurat Dia hanya menerangkan sifat-Nya. Jelaskan kepada kami terbuat dari apa Dia? Dari jenis apa? Apakah dari emas atau perak? Apakah Dia makan dan minum? Dari siapa Dia mewarisi dunia dan kepada siapa Dia mewariskannya?” (Asbab Al-Nuzul lil Wahidi Al-Naisaburi).

Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, melalui riwayat Imam Ahmad, disebutkan bahwa kaum musyrikin datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya kepada Beliau, “Terangkan kepada kami bagaimana wujud Tuhanmu”. Lalu turunlah surat al-Ikhlas di Makkah untuk menjawab pertanyaan mereka. Masih banyak lagi riwayat yang secara redaksi hampir sama, berkisar pertanyaan orang-orang musyrik akan wujud Tuhannya Muhammad SAW.

Kata ikhlas berasal dari akar kata “khalasha” dalam bahasa Arab, yang berarti murni, atau pemurnian. Surat Al-Ikhlas ini memang berbicara soal pemurnian tauhid, pemurnian ketaatan kepada Allah SWT.

Ayat pertama dalam surat al-Ikhlas adalah Qul huwa l-laahu ahad. Terjemahan harfiahnya: “Katakanlah: Dia ALLAH Yang Esa.” Untuk menelusuri asal-usul istilah ALLAH sebagai nama Tuhan, kita harus menggali bahasa Mesopotamia purba, sebab bangsa Arab merupakan keturunan Nabi Ibrahim a.s. yang berasal dari Mesopotamia.

Tuhan dalam bahasa Mesopotamia disebut El atau Il (nama negeri Babilonia dari Bab-El atau Bab-Il berarti ‘Pintu Tuhan’). Anak cucu Nabi Ibrahim a.s. kelak, yaitu bangsa Ibrani dan bangsa Arab, memodifikasi nama ini dengan penambahan huruf Ha (‘Dia’), masing-masing menjadi Eloh dan Ilah. Ibrahim sendiri bukan bangsa Ibrani ataupun Arab, namun ia adalah bapak dari dua bangsa tersebut.

Nama yang terakhir ini kemudian diberi kata sandang (isim makrifat/artikel definitif) Al-, menjadi Al-Ilah atau Allah. Kata Allah ini dalam konsensus bahasa Arab merupakan isim mudzakar (menunjukkan maskulinitis), sedangkan ciptaannya  yaitu langit dan bumi, juga ruh menggunakan isim muannats (menunjukkan feminitas). Istilah El dan Il sebagai nama Tuhan masih dijumpai dalam bahasa Ibrani dan Arab pada nama-nama Gabriel (Jibril), Michael (Mikail), Yishma`el (Isma`il), Yisrael (Israil), dan sebagainya.

Jadi, orang-orang Arab sebelum Islam sudah menggunakan istilah ALLAH untuk menamai Sang Khaliq yang menciptakan langit dan bumi. Hal ini diterangkan dalam surat al-Ankabut 61:
Wa laïn saältahum man khalaqa s-samaawaati wa l-ardha wa sakhkhara sy-syamsa wa l-qamar, la yaquulunna l-laah, fa annaa yu’fakuun
(“Dan sekiranya engkau menanyai mereka: siapa yang menciptakan langit dan Bumi serta menyediakan Matahari dan Bulan, mereka pasti mengatakan ‘Allah’, maka betapa mereka dipalingkan”). Akan tetapi orang-orang Arab itu mempersekutukan Allah dengan berbagai ilah yang lain.

Itulah sebabnya ayat pertama ini menggunakan kata ahad. “Esa”, yang betul-betul satu, yang harus di’satu’kan, yang merupakan ‘satu-satunya’, bukan urutan bilangan. Bukan sekadar wahid  atau “satu” sebagai nama bilangan. Maksud bahwa “Ahad bukan bilangan” artinya Allah bukan merupakan hasil dari ½  + ½ atau dengan kata lain bukan hasil koalisi. Bukan pula bermakna 2 – 1 yang merupakan hasil dari perebutan kekuasaan. Jadi “Allahu Ahad” berarti Allah itu satu secara mutlak dalam segala hal: Esa dalam wujud-Nya, Esa dalam sifat-Nya, dan Esa dalam karya-Nya.

Kata “ahad” merupakan istilah untuk menegasikan keberadaan yang lain. Ahad juga bisa berarti tidak ada yang sebanding. Sedangkan kata “wahid” merupakan bilangan pertama dalam hitungan yang artinya “satu”. Tatkala disebutkan wahid (satu), ada kemungkinan berbilang menjadi dua atau tiga. Sehingga dari ayat ini kita dapat memahami bahwa Allah itu tunggal, tidak berbilang sebagaimana keyakinan orang-orang di luar Islam.

Kata Allah dalam Alquran, selalu disandingkan dengan kata ahad. Berbeda tatkala Allah mewakilkan diri-Nya dengan kata ilah (Tuhan) yang selalu bersandingan dengan kata wahid. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan manusia di dunia ini akan adanya Tuhan tidak hanya satu, tetapi berbilang tergantung keyakinan masing-masing orang.

Tanpa padanan, tanpa bandingan
Ayat kedua surat al-Ikhlas adalah: Allaahu sh-shamad. Terjemahan harfiahnya: “Allah tang tiada terbagi”. Ayat kedua merupakan khabar (yang menerangkan) dari mubtada (yang diterangkan) pada ayat pertama. Dalam istilah disiplin ilmu Alquran, hal ini dikenal sebagai tafsir Alquran bil Quran, maksudnya ayat Alquran ditafsirkan (dijelaskan) oleh ayat Alquran yang lainnya.

Tafsir “ash-shamad” pada umumnya adalah “tempat bergantung”. Tafsiran tersebut muncul dari (salah satu) makna kata “ash-shamad” yaitu menuju, sengaja, dan bisa juga diartikan berpegang pada sesuatu. Ibnu Abbas melalui riwayat Ikrimah mengatakan bahwa “ash-shamad” adalah “bermuaranya segala kebutuhan dan masalah makhluk kepada-Nya. Namun, tafsir ini tidak mampu menunjukkan hubungan (munasabah) dengan ayat sebelumnya yaitu Qul huwa l-laahu ahad, maupun ayat setelahnya Lam yalid wa lam yuulad.

Para ahli tafsir lainnya mengatakan bahwa “ash-shamad” adalah “Dzat yang tidak ada celah pada dirinya atau tidak berlubang (al-mushmat)”. Dinding yang tak berjendela disebut “haith mushmat” dan kuda yang tidak bercampur dengan warna lain disebut “farsun mushmat” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4 halaman 575).

Ash-shamad berasal dari kata kerja “shamida, yashmadu” yang artinya “memadatkan”, maka ayat ini memiliki arti “sesuatu yang padat, tidak berongga, tidak dapat dibagi-bagi”.  Mufassir termasyhur, Abu Ja`far Muhammad Ibn Jarir Ath-Thabari (wafat 310/ 922), dalam buku tafsirnya, Jaami`u l-Bayaan `an Ta’wili l-Qur’aan (sering disebut Tafsir Thabari saja), menegaskan bahwa arti ash-shamad adalah laa jawfa lahuu (“tiada rongga bagi-Nya”).

Ash-shamad pada ayat kedua ini lebih tepat diletakkan sebagai penjabaran dari sifat ahad pada ayat pertama. Allah itu Esa secara mutlak. Keesaan Allah itu sedemikian “padat”-nya sehingga tidak dapat dibagi-bagi lagi. Berbeda dengan ajaran Nasrani yang juga beriman kepada Tuhan Yang Esa, tetapi membagi-baginya menjadi “tiga pribadi” (Trinitas): Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Tuhan Ruh Kudus. Juga bukan seperti ajaran Hindu yang mengakui adanya Tuhan Yang Esa, tetapi membagi-baginya menjadi ‘tiga wajah’ (Trimurti): Tuhan Pencipta (Brahma), Tuhan Pemelihara (Wisnu), dan Tuhan Pembinasa (Syiwa).

Ash-shamad secara fisika dapat ditafsirkan sebagai “bebas dari ruang dan waktu”. Segala sesuatu di alam semesta ini berpasang-pasangan, setiap hal berbeda satu sama lain. Masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan namun saling membutuhkan dan melengkapi. Tidak demikian halnya dengan Allah yang bersifat ahad. Karena Dia tunggal, hanya ada satu-satunya, tidak memiliki pasangan, tidak memiliki kekurangan ataupun kelebihan, maka Dia tidak membutuhkan apapun. “Padat” atau tidak berongga dengan demikian bisa bermakna “tidak membutuhkan sesuatu yang lain untuk mengisi”.

Ayat ketiga surat al-Ikhlas adalah Lam yalid wa lam yuulad. Terjemahan harfiahnya: “Tidaklah Dia beranak dan tidaklah Dia diperanakkan.”
Karena Allah bersifat ahad (esa) dan shamad (tak terbagi), maka jelas Dia tidak pantas mempunyai anak (meskipun dalam arti kiasan), dan Dia tidaklah diperanakkan oleh sesuatu.

Ayat ketiga ini menegaskan sesatnya ajaran Nasrani yang menganggap adanya Tuhan Bapa (Allah), Tuhan Anak (Isa al-Masih, yang sering mereka latinkan menjadi ‘Jesus Kristus’), dan Tuhan Ruh Kudus (Jibril atau ‘Gabriel’)  Sebagaimana tercantum dalam Surat al-Ma’idah 73: Laqad kafara l-ladziina qaaluu inna l-laaha tsaalitsu tsalaatsah. Wa maa min ilaahin illaa ilaahun waahid (Sungguh benar-benar kafir mereka yang mengatakan ‘sesungguhnya Allah itu ketiga dari yang tiga’, padahal tiada Tuhan selain Tuhan Yang Esa).

Sekaligus Allah menegaskan sesatnya ajaran orang-orang Arab sebelum Islam yang mengatakan bahwa Lata, `Uzza dan Manat adalah anak-anak perempuan Allah, sebagaimana disindirkan Allah dalam surat an-Najm 19-21: Afa raäytumu l-laata wa l-`uzzaa, wa manaata ts-tsaalitsata l-ukhraa,  alakumu dz-dzakaru wa lahu l-untsaa (Maka apakah kamu menganggap Lata dan `Uzza, serta Manat yang ketiga lainnya, sehingga untuk kalian anak lelaki dan untuk-Nya anak perempuan?).

Kesimpulan Surat Al-Ikhlas terletak pada ayat keempatnya yaitu Wa lam yakun lahuu kufuwan ahad. Terjemahan harfiahnya: “Dan tidaklah ada bagi-Nya yang setara satupun!”.
Tidak ada yang sekutu (sebanding) dengan Allah. Hal ini dijabarkan oleh Allah sendiri dalam surat Al-Isra’ ayat 111: Wa quli l-hamdu li l-laahi l-ladzii lam yattakhidz waladaa, wa lam yakun lahuu syariikun fi l-mulk, wa lam yakun lahuu waliyyun mina dz-dzull, wa kabbirhu takbiiraa (“Dan katakanlah: Segala puji bagi Allah yang tidak pernah mengambil anak, dan tidaklah ada baginya sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidaklah perlu baginya penolong dari keterbatasan, serta agungkanlah Dia seagung-agungnya).

Categories: Tafsir

Tafsir Surat Al Muthaffifin

19 February 2012 1 comment

Dalam tinjauan Mushaf Utsmani, surat ini berada pada urutan 83. Akan tetapi dari segi tarikh nuzulil ayat atau sejarah turunnya ayat, surat ini berada pada urutan ke-68, setelah Surat Al-Ankabut dan sebelum Al-Baqarah. Menurut pendapat yang paling masyhur, ayat 29-36 surat ini diturunkan pada tahun ke-13 kenabian (fase terakhir dakwah Rasulullah di Makkah). Sebaliknya, ayat 1-28 diturunkan di Madinah.

Dalam hadits Imam An-Nasa’i dan Ibnu Majah, disebutkan bahwa asbabun nuzul surat ini terkait kondisi ketika Nabi SAW. hijrah ke Madinah. Beliau melihat, di pasar Madinah para pedagang terbiasa melakukan penipuan dan kecurangan. Dalam sebuah hadits diceritakan bagaimana beliau menemukan seorang pedagang yang barang dagangannya di bagian atas terlihat bagus. Namun ketika Rasulullah memasukan tangannya sampai ke tengah hingga bawah, ternyata barang dagangan itu busuk.

Melihat hal tersebut Rasulullah SAW bersabda: “Ada lima perkara yang biasa membawa kecelakaan. Pertama, seseorang atau suatu kaum yang sering melanggar perjanjian atau kesepakatan, maka akan timbul ketidakpercayaan di antara mereka. Akibatnya musuh dapat masuk memecah belah dan kemudian menguasai mereka. Kedua, apabila manusia berpaling dari hukum Allah, maka ia akan ditimpa musibah.”

Rasul melanjutkan, “Ketiga, apabila manusia terang-terangan berbuat maksiat dan dosa maka akan banyak nyawa melayang, manusia mudah membunuh sesamanya. Keempat, apabila manusia melakukan kecurangan dalam timbangan dan takaran, maka akan terjadi musim paceklik yang berkepanjangan dan tumbuh-tumbuhan akan sulit tumbuh. Kelima, apabila manusia menahan zakat maka hujan akan ditahan olehAllah SWT”. Akhirnya Allah SWT menurunkan Surat Al-Muthaffifin.

Kitab yang ditandai
Surat ini dimulai dengan peringatan bagi orang-orang yang curang.
1. Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.
2. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.
3. dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.
4. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.
5. pada suatu hari yang besar.
6. (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam.
7. Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin.
8. Tahukah kamu apakah sijjin itu?
9. (Ialah) kitab yang bertulis.

Dari segi akar kata, sijjinin berasal dari “sijnun” yang artinya penjara, seolah-olah Allah menggambarkan bahwa kitab catatan amal perbuatan orang-orang yang berbuat durhaka, betul-betul dipenjara, tidak ada makhluk lain yang mengubah catatan tersebut.

Ada pula yang mengartikan sijjinin berasal dari “sijjil” atau lumpur, seolah-olah Allah ingin mengatakan bahwa amal perbuatan orang-orang yang durhaka itu lebih layak ditulis dengan tinta dari lumpur, berbeda dengan amal perbuatan orang-orang yang baik, yang dicatat seolah-olah dengan tinta emas.

Terlepas dari penafsiran-penafsiran tersebut, sijjinin dapat dipahami sebagai nama salah satu kitab catatan. Hal ini dijelaskan dalam ayat 8 bahwa sijjinin itu adalah “kitabun marqumun” atau kitab yang ditulis. Kata “marqumun” itu sendiri artinya menurut Imam Al-Biqa’i dalam Nazmud Dhurar, adalah “yang ditandai atau yang dicirikan”.

Ayat 7 dan 8 terkait erat dengan ayat 18-21:
18. Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu tersimpan dalam ‘Illiyyiin”
19. Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu?
20. (yaitu) kitab yang bertulis
21. yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah).

Ayat 18 menggunakan kata `Illiyina, yang akar katanya berasal dari kata a’la yang berarti “sesuatu yang tinggi”. Ayat 19 menjelaskan bahwa kata `Illiyina adalah juga kitabun marqumun atau kitab yang ditandai. Dalam ayat 21 disebutkan bahwa kitab yang ditandai tersebut disaksikan oleh para al-Muqarrabuna. Kembali terdapat dua tafsiran;  pertama, al-Muqarrabuna adalah orang-orang yang beriman, mereka akan didekatkan ke sisi Allah SWT. Kedua, mereka adalah para malaikat, yang memang berada lebih dekat dengan Allah SWT.

Rekaman yang jujur
Penafsiran lain dari Istilah “kitabun marqumun” secara harfiyah adalah “kitab rekaman”. Tafsiran “kitab rekaman” tersebut bisa didapat dengan mengorelasikan ayat 9 dan 20 surat al-Mutaffifin dengan ayat ke-13 surat al-Isra yaitu “kitaban yalqahu mansyura”.

Ayat tersebut ditafsirkan oleh mufassir-mufassir kontemporer sebagai berikut:
1. a record which he will find wide open (Muhammad Asad, The Message of The Qur’an)
2. a scroll which he will see spread open (Abdullah Yusuf Ali, The Holy Qur’an)
3. “berupa buku yang akan kita jumpai terbuka lebar” (Maulana Muhammad Ali, The Holy Qur’an)

Penafsiran-penafsiran para mufassir kontemporer ini mengantarkan asosiasi Taufiq Pasiak, seorang ahli neurologi, kepada bentuk fisik “kulit otak” (neokorteks). Kulit otak ini tergulung dan terlipat-lipat sedemikian rupa agar dapat menempati dan menutup kedua belahan otak besar (serebrum).

Fungsi terpenting neokorteks ini antara lain adalah berpikir, merasa, dan mengingat. Kulit otak mengingat melalui rekaman pada sel-sel sarafnya. Ia merekam aktivitas manusia yang bersangkutan, baik kegiatan motorik, kegiatan sensorik, maupun kegiatan asosiatif. Pembagian kerja untuk kegiatan-kegiatan ini disebut homunculus otak. Jadi, ketika tampil utuh di pengadilan Padang Mahsyar nanti, boleh jadi homunculus otak kita itulah yang akan menjadi bukti seluruh rekaman aktivitas kita di dunia.

Senada dengan pendapat Taufik Pasiak, pakar fisiologi ITB, Lulu Lusianti Fitri menyatakan bahwa lembaran yang bergulung-gulung itu memang ada di dalam bagian otak yang disebut gyrus. Bagian tersebut memang berlipat-lipat dan jumlah sel sarafnya jauh lebih banyak dibandingkan bagian otak lain. Jumlah sel saraf otak sendiri menurut sebuah penelitian adalah 1012 – 1014 sel.

Penafsiran “kitabun marqumun” sebagai lembaran kulit otak terkait dengan proses pembelajaran yang terekam dalam otak; memori disimpan di dalam synaps; synaps adalah hubungan antara satu sel saraf dengan sel saraf lain. Dalam satu sel saraf bisa terdapat puluhan synaps. Selain membuat suatu hubungan, sel saraf juga membuat networking. Otak mengambil ingatan dari informasi-informasi yang disimpan sebelumnya.

Yang menarik, otak sebenarnya tidak pernah melupakan apapun. Kita mungkin bisa lupa karena ada berbagai peristiwa yang terjadi secara bersamaan. Atau mungkin ada yang kita anggap tidak perlu. Tetapi hal itu dilupakan karena kita tidak mau menyadarinya. Otak merekam segala sesuatu, namun yang kita ingat hanyalah yang ingin kita ambil.

Keberadaan`illiyina dan sijjinin dalam otak memang masih harus dibuktikan. Kita tidak tahu tempatnya khusus atau tidak, tapi diyakini ada di synaps. Dengan EEG (electro echephalograph), sekarang baru diteliti 20 tempat di dalam otak, padahal sebenarnya ada 328 kumpulan synaps.

Berkaitan dengan pandangan yang menyatakan bahwa perbuatan baik dan buruk manusia dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid dan nantinya akan diberikan kepada kita, sebagian tafsir menyatakan bahwa malaikat itu tidak selalu harus berarti sesosok makhluk. Aparat Allah seperti gaya, momentum, partikel, dan lain-lain bisa saja tergolong malaikat. Jadi penafsiran tersebut tidak bertentangan dengan keberadaan malaikat.

Categories: Tafsir

Tafsir Surat At Tiin

16 February 2012 Leave a comment

Dua pohon, dua tempat
Surat At-Tiin adalah surat yang ke-95 di dalam mushaf Al-Qur’an. Surat ini diwahyukan di Makkah, sebagai wahyu yang ke-28, turun sesudah Surat Al-Buruuj dan sebelum Surat Al-Quraisy. Surat ini terdiri atas 8 ayat.

(1) Wa At-Tiini Wa Az-Zaytuuni “Demi At-Tiin dan Az-Zaytuun”. (2) Wa Thuuri Siiniina “dan Thuuri Siiniina”, (3) Wa Hadhaa Al-Baladi Al-’Amiini “dan negeri yang aman ini”.
Dalam ayat-ayat 1-3, Allah SWT bersumpah dengan empat kata benda. Keempatnya untuk menyatakan paradigma penciptaan (dalam ayat ke-4): bahwa Dia telah menciptakan manusia dalam “sebaik-baik bentuk“.

Keempat benda tersebut mencakup 2 pohon/buah-buahan dan 2 tempat. Dari keempatnya, yang disepakati oleh semua mufassir adalah yang benda yang ke-4, yaitu bahwa yang dimaksud dengan “negeri yang aman ini” adalah Makkah Al-Mukarramah. Thur Sina jelaslah nama suatu bukit yaitu Bukit Sinai. “Yang masih menimbulkan perbedaan pendapat, di manakah bukit itu gerangan?”

Tiin dan zaytuun adalah nama pohon sekaligus buahnya. Wajarlah bila sebagian mufassir menjelaskan keutamaan buah tiin dan buah zaytuun, terkait dengan penggunaannya di dalam sumpah-sumpah Allah  tersebut. Namun mengingat runtutan sumpah tersebut sampai ke Makkah Al-Mukarramah, negeri tempat pengutusan Rasulullah Muhammad SAW, At-Tiin dan Az-Zaytuun itu juga menunjukan nama-nama tempat.

Sebagian besar mufassir menunjukkan tempat yang dimaksud dengan At-Tiin dan Az-Zaituun itu adalah Palestina, tempat di utusnya Rasulullah Isa as. Tafsiran ini mungkin muncul karena kedua jenis tanaman tersebut banyak terdapat di Palestina. Sementara Bukit Sinai adalah bukit di antara Teluk Suez dan Teluk Aqaba, tempat Rasulullah Musa AS menjumpai Allah SWT. untuk menerima wahyu Taurat. Taurat juga lazim dinamai Tabut Perjanjian, atau Sepuluh Perintah Tuhan (The Ten Commandments).

Adapun “negeri yang aman ini” pastilah Makkah Al-Mukarramah, tempat diutusnya Rasulullah Muhammad saw. Jadi, Allah SWT bersumpah dengan tiga tempat yang menjadi tempat diutusnya tiga nabi besar: ’Isa AS, Musa AS, dan Muhammad SAW, untuk menegaskan bahwa manusia diciptakan-Nya dalam sebaik-baik bentuk.

Keistimewaan buah tiin dan zaytuun
Buah tiin  di Indonesia dikenal sebagai buah ara. Dalam bahasa Inggris buah ini disebut buah figs. Sebenarnya kedua buah ini tidak persis betul, namun mereka berada dalam genus yang sama. Kadang-kadang tanaman ini tumbuh di tembok, bahkan di dinding pinggiran selokan. Berdaun lebar, tanaman ini berbuah mirip beringin, hanya saja ukurannya lebih besar.

Tanaman tiin, ara dan beringin (ficus benjamina) memang satu keluarga, yaitu keluarga beringin (ficus). Keluarga beringin yang juga dikenal luas adalah tanaman karet (ficus elastica). Pohon tiin juga satu keluarga dengan ficus religiosa atau populer sebagai pohon kalpataru. Pohon kalpataru adalah pohon bodhi yang menjadi tempat Pangeran Sidharta tercerahkan dan menjadi Budha Gautama. Pohon kalpataru ini banyak tumbuh di Candi Mendut dan juga di Pulau Bali.

Kehebatan tanaman ini adalah kekokohannya, sebagaimana dapat kita saksikan pada batang-batang beringin. Selain itu, kemampuannya bertahan hidup juga mengagumkan. Bagaimana mungkin tanaman berdaun serimbun itu tumbuh di tanah Timur Tengah yang kering? Karena dia menarik air dari tempat yang jauh, sehingga bahkan di sekitarnya muncul kolam atau kubangan air.

Buah tiin adalah sumber pangan yang disiapkan ketika makanan lain belum ada, bisa hidup di mana-mana. Banyak spesies hewan dan manusia yang terbantu penyebarannya dengan adanya buah ini.  Karbohidratnya sangat tinggi, manis ketika matang. Karena itu, di Timur Tengah buah tiin sering dibuat manisan.

Adapun buah zaytuun, banyak tumbuh di daerah pinggiran Laut Mediterania (Spanyol, Italia, Yunani, Maroko dll.). Ada dua varian, satunya warna kehitaman, satunya lagi hijau. Sebenarnya buah zaytuun yang asli sangat pahit dan pekat, membuat lidah mengerut karena beracun. Karena itu buah ini perlu diasinkan. Pizza Italia yang asli biasanya juga diberi potongan-potongan zaitun yang kecil di atasnya. Selain menjadi teman makan, buah zaytuun juga diambil minyaknya untuk keperluan kosmetik dan diet.

Penafsiran lain mengenai tiin dan zaytuun dari Abdullah Yusuf Ali yang menyatakan bahwa penyebutan buah tiin dan zaytuun dimaksudkan sebagai perumpamaan jiwa manusia. Buah tiin dari luar kelihatannya bagus, namun di dalam biasanya berulat. Ini perumpamaan tentang manusia yang dari luar kelihatannya baik, namun di dalam jiwanya busuk. Lawannya adalah buah zaytuun yang sering diambil minyaknya dan melambangkan kemurnian jiwa.

Keagungan dan kejatuhan manusia
Sumpah dengan tiin dan zaytuun pada ayat-ayat sebelumnya adalah untuk menunjukkan keagungan penciptaan manusia.
(4) Laqad Khalaqnaa Al-’Insaana Fii ‘Ahsani Taqwiimin “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk”. (5) Thumma Radadnaahu ‘Asfala Saafiliina “Kemudian kami kembalikan dia lebih rendah ketimbang tempat-tempat yang rendah”. (6) ‘Illaa Al-Ladhiina ‘Aamanuu Wa `Amiluu Ash-Shaalihaati Falahum ‘Ajrun Ghayru Mamnuunin “kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh; maka bagi mereka imbalan yang tiada putus-putusnya”.

Dalam ayat 4 Allah SWT menggunakan ungkapan Al-’Insaana dan ‘Ahsani Taqwiimin. Kata Al-’Insaan muncul dalam Al-Qur’an sebanyak 65 kali di dalam 63 ayat. Sebanyak 14 di antaranya membicarakan  tentang penciptaan manusia, termasuk ayat yang sedang kita bahas ini. Ayat ini menegaskan bahwa Allah telah menciptakan manusia dalam ‘Ahsani Taqwiimin, bentuk yang sebaik-baiknya.

Pada umumnya, para mufassir menyatakan bahwa ungkapan ’sebaik-baik bentuk’ itu tidak semata-mata merujuk kepada dimensi fisikal saja. Kesempurnaan tubuh  manusia hanyalah salah satu yang dikaruniakan Allah SWT kepadanya. Namun keistimewaan yang lebih utama adalah dimensi nonfisikalnya, berupa tiupan ruh (Q.S. 15 ayat 29, Q.S. 32 ayat 9). Dengan perkataan lain, dimensi mental dan spiritual manusialah karunia Allah SWT yang tak ada tolak bandingnya. Potensi dan fakultas spirituallah yang memungkinkan manusia mengemban akal, diajari Qur’an, dan asma (Q.S. 55 ayat 1-4, Q.S. 2 ayat 31).

Potensi mental dan spiritual manusia, berdasarkan temuan modern ilmu-ilmu kedokteran khususnya neurologi dan fsiologi, seolah-olah mencerminkan betapa luar biasanya makhluk ciptaan Allah yang satu ini. Namun segera ayat 5 mengingatkan, “Kemudian kami kembalikan dia lebih rendah ketimbang tempat-tempat yang rendah.”

Dramatik sekali. Apa sebenarnya makna ayat ke-5 ini? Ada tiga pendapat mufassir tentang ‘Asfala Saafiliin, yaitu :
1. Neraka dan kesengsaraan di dalamnya,
2. Keadaan kelemahan fisik dan psikis manusia di masa tuanya,
3. Keadaan ketika manusia belum diberi tiupan ruh oleh Allah SWT.

Makna ke-2 kurang relevan, makna ke-1 dan ke-3 lah yang lebih tepat. Makna ke-1 dikuatkan oleh Q.S. 7:179, sementara makna ke-3 disandarkan kepada Q.S. 76:1. Menarik untuk dikutip, pendapat dua cendekiawan muslim kontemporer dari Sunni dan Syi’i yang secara otonom satu  sama lain sampai kepada kesimpulan yang sama. Muhammad Quthb dalam buku Jahiliyyah Abad Dua Puluh, dan Ali Syari’ati  dalam buku Tentang Sosiologi Islam, menyimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang bertabiat kembar.

Manusia diciptakan dari “tanah” dan tiupan ruh ciptaan Allah, dua unsur yang berpadu, berjalan dan tak terpisahkan. Manusia tidak semata-mata diciptakan dari “tanah” sehingga kedudukannya merosot setaraf dengan benda atau binatang. Tidak pula ia diciptakan dari tiupan ruh semata-mata,  sehingga ia akan dipertuhan atau mempertuhankan diri sendiri. Perpaduan ruh dan “tanah” itulah yang membuat manusia menjadi makhluk yang istimewa, lebih mulia ketimbang makhluk apapun juga. Namun, pada saat yang sama, ia dapat merosot ke tempat yang paling rendah, bahkan lebih rendah ketimbang binatang. Makna ‘Asfala Saafiliin, yaitu kejatuhan manusia ke tempat yang lebih rendah dari yang rendah.

Bentuk terbaik dan tempat terendah
(4) Laqad Khalaqnaa Al-’Insaana Fii ‘Ahsani Taqwiimin “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk”. (5) Thumma Radadnaahu ‘Asfala Saafiliina “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”, (6) ‘Illaa Al-Ladhiina ‘AAmanuu Wa `Amiluu Ash-Shaalihaati Falahum ‘Ajrun Ghayru Mamnuunin “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”.

Makna potongan ayat (4) di atas, berkaitan erat dengan konsep ‘Asfala Saafiliina atau “tempat serendah-rendahnya”, dan ‘Illaa Al-Ladhiina ‘AAmanuu Wa `Amiluu Ash-Shaalihaati “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh” pada ayat-ayat berikutnya.

Selain keistimewaan manusia dari dimensi nonfisiknya, bentuk tubuh manusia pun adalah batas imajinasi manusia tentang kesempurnaan.  Coba lihat bentuk dewa-dewa Yunani dan India. Dalam mitologi Yunani atau Hindu, dewa-dewa tersebut memiliki bentuk seperti manusia. Bahkan Zeus sekalipun yang merupakan rajanya para dewa, tetap berbentuk manusia. Sedang dalam kepercayaan Hindu, meskipun Ganesha mengandung bentuk gajah, tetap serupa dengan manusia karena memiliki tangan.

Karena itu, yang diungkap dalam kalimat Al-’Insaana Fii ‘Ahsani Taqwiimin manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” dapat pula dipahami sebagai keistimewaan bentuk fisik manusia. Salah satu bentuk keistimewaan tersebut adalah kemampuan manusia menggunakan kedua tangannya untuk memegang dan memakai berbagai jenis alat. Beberapa kerabat terdekat manusia secara genetis, seperti simpanse dan gorila, memang mampu menggunakan batu-batuan untuk memecahkan biji. Namun hanya manusia yang mampu dengan sempurna menggunakan alat karena struktur telapak tangannya yang mampu mengggenggam.

Menurut penelitian, perbedaan manusia dengan kera terletak pada bentuk jempol atau ibu jarinya. Kera memiliki jempol yang lebih pendek sehingga sulit digunakan untuk menggenggam. Kera mengunakan tangannya lebih banyak untuk berjalan.

Tangan manusia mampu menggenggam dan menggunakan perkakas. Kemampuan yang tidak dimiliki hewan lain ini, disebabkan adanya jari jempol. Jika seseorang kehilangan jari-jari selain jempol, tangannya masih bisa dipergunakan untuk menggenggam. Namun bila jempol hilang maka tangan tidak bisa lagi dipergunakan menggenggam. Kekuatan jempol bahkan setara dengan empat jari lainnya. Inilah sebabnya mengapa jempol disebut ibu jari.

Penafsiran “manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” yang mengacu pada bentuk fisik manusia, akan berpengaruh pada penafsiran ayat berikutnya yaitu ayat (5). Dalam ayat Thumma Radadnaahu ‘Asfala Saafiliina “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”, yang dimaksud dengan ‘Asfala Saafiliina adalah kelemahan fisik dan psikis manusia di masa tuanya.

Dalam sudut pandang biologi, ada dua jenis orang tua. Pertama, orang jompo, yaitu orang yang pikun dan juga lemah fisiknya. Hal ini karena ketika masa muda, ia kurang melatih kerja otak dan fisiknya. Jenis yang kedua adalah orang bijak. Orang ini ketika masa tuanya menjadi bijak karena ketika muda terbiasa menggunakan otaknya. Dengan banyak berpikir, sel-sel otak menjadi terus beregenerasi.

Penafsiran lain berkaitan dengan ‘Asfala Saafiliina adalah neraka, berdasarkan surat Al-A’raf ayat 179:
Wa Laqad Dhara’naa Lijahannama Kathiiraaan Mina Al-Jinni Wa Al-’Insi Lahum Quluubun Laa Yafqahuuna Bihaa Wa Lahum ‘A`yunun Laa Yubshiruuna Bihaa Wa Lahum ‘Aadhaanun Laa Yasma`uuna Bihaa ‘Uulaa’ika Kaal’an`aami Bal Hum ‘A?allu ‘Uulaa’ika Humu Al-Ghaafiluuna
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Ayat tersebut bisa mengakomodasi  penafsiran ‘Asfala Saafiliina, baik sebagai kelemahan fisik di hari tua maupun keterjerumusan ke dalam neraka. Ayat di atas dapat ditafsirkan bahwa jika seseorang tidak menggunakan mata, telinga, dan pikirannya untuk mengolah informasi apapun, maka lama kelamaan ia akan menjadi pikun. Secara khusus, jika informasi yang dimaksud adalah ayat-ayat Allah, maka ia pun juga akan terjerumus ke dalam neraka.

Amal yang baik, benar dan indah
Ayat 4  dan 5 bersambung dengan ayat 6 yaitu ‘Illaa Al-Ladhiina ‘AAmanuu Wa `Amiluu Ash-Shaalihaati Falahum ‘Ajrun Ghayru Mamnuunin “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. Jika dibaca bersambung, maka cara agar masa tua menjadi mulia dan tidak pikun adalah dengan memperbanyak ibadah.

Amalan seperti shalat, dzikir, dan puasa diyakini dapat memperpanjang usia seseorang tanpa mengalami kepikunan atau kejompoan. Begitu pula dengan membaca Al-Qur’an. Secara ilmu qiraah, ketika membaca Al-Qur’an, ada huruf yang mengharuskan kita menghembuskan nafas dan ada huruf yang mengharuskan kita menahannya. Karena itu, membaca Al-Qur’an juga merupakan latihan pengolahan nafas. Seorang ulama menyatakan, “Apa yang dilakukan pada masa muda akan membekas di masa tua”.

Dari sisi lain, dalam ayat 6 tersebut, Allah SWT menegaskan bahwa ada segolongan manusia yang tidak dikembalikan ke posisi yang sangat hina dan rendah tersebut. Mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Iman artinya membenarkan semua yang dibawa oleh Rasulullah SAW, baik berupa Al-Qur’an maupun berupa sunnah Rasul Muhammad SAW.

Sedangkan ‘amal shalih ialah amal yang benar, baik, dan indah menurut Allah SWT dan Rasul-Nya. Amal shalih juga berarti amal yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan Sunnah Rasul-Nya, serasi dengan titik tolak ikhlas dan titik tujuan ridha Allah SWT secara generik. ’Amal shalih ialah amal yang selaras dengan ayat-ayat Allah, baik yang Kauniyah maupun yang Qur’aniyah. Bagi mereka inilah pahala dan ganjaran yang tiada henti-hentinya.

Surat At-Tiin ini ditutup dengan pertanyaan retoris: (7) Famaa Yukadhdhibuka Ba`du Bid-Diini “Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?” (8) ‘Alaysa Allaahu Bi’ahkami Al-Haakimiina “Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?”

Telah demikian jelas dan gamblang posisi dan peran yang diamanatkan kepada manusia oleh Allah SWT. Karena itu wajar jika dalam ayat (7), Allah menggugat manusia, “Maka sesudah itu, (setelah begitu  jelasnya posisi kamu), apa sebabnya kamu dustakan  ad-Diin?” Mengapa kamu dustakan Musa AS, mengapa kamu dustakan Isa AS, dan juga mengapa kamu dustakan utusan terakhir-Ku, Muhammad SAW? Padahal kalian tahu, Allah SWT adalah hakim yang seadil-adilnya. Lalu mengapa kalian tetap mendustakan utusan-utusan-Ku?

Categories: Tafsir

Tafsir Surat Ath Thariq

14 February 2012 Leave a comment

Ath Thariq: komet pembawa kehidupan di bumi
Dalam bahasa Arab, Ath-Thaariq berarti “tamu penting yang datang tiba-tiba pada malam hari”. Ayat kedua dan ketiga (Wa maa adraaka maa th-thaariq? dan An-najmu ts-tsaaqib) menjelaskan bahwa “tamu” tersebut adalah “benda langit” (najm) yang mempunyai sifat “melubangi” (tsaaqib).

Sementara menurut sejarah, Surat Ath-Thaariq turun pada tahun 618 M (tahun kedelapan masa kenabian). Pada tahun yang sama, menurut catatan astronomi, muncul komet besar di langit yang kini termasyhur sebagai Komet Halley.  Komet memang “melubangi” permukaan Bumi. Pada awal proses pembentukan tata surya kita, komet-komet membombardir permukaan planet-planet, termasuk bumi, dan menghasilkan lubang-lubang kawah raksasa.

Menurut catatan astronom lain diketahui bahwa komet Haley melintasi bumi bukan pada tahun 618 M, melainkan pada 607 M. Ternyata, periode lintasan Komet Haley terus berubah sejak dulu sesuai dengan ukuran massanya yang terus mengecil. Meski demikian, bukan berarti tidak ada benda langit yang melewati bumi pada tahun 618 M tersebut. Datangnya benda langit juga tercatat dalam asbabun nuzul Surat Ath Thariq ini.

Saat itu, Abu Thalib mendatangi Rasulullah dengan membawa roti dan susu. Ketika Abu Thalib duduk, sebuah bintang meluncur sehingga daerah sekitarnya seakan dipenuhi api, saking terangnya cahaya bintang tersebut. Abu Thalib bertanya kepada Rasulullah, “Apa ini?” Rasulullah menjawab, “Ini bintang yang dilemparkan dan merupakan satu dari sekian banyak tanda-tanda kekuasaan Allah”. Dan Allah lalu menurunkan ayat ini (Asbab Nuzulil Qur’an, al Wahidi).

Berdasarkan deskripsi dari kisah Abu Thalib tersebut, Ath-Thaariq adalah meteor yang masuk ke dalam atmosfer bumi. Walaupun demikian, tetap terbuka kemungkinan bahwa Ath-Thaariq yang dimaksud bisa saja komet, meteor, ataupun asteroid. Yang jelas, ia adalah benda langit yang jarang terlihat oleh manusia.

Komet, asteroid, meteorid
Komet dan asteroid adalah sisa-sisa pendinginan Nebula pada saat pembentukan bintang berikut planet dan satelit-satelitnya. Ukuran komet dan asteroid berkisar dari puluhan meter hingga ratusan kilometer. Mengklasifikasikan sebuah benda langit non-planet sebagai komet atau asteroid tidaklah mudah. Meski mereka berbeda, seiring peredaran orbitnya, komet dan asteroid menjadi semakin mirip.

Setidaknya terdapat dua perbedaan utama antara asteroid dan komet. Pertama, material asteroid lebih padat dan umumnya terdiri dari bebatuan serta logam. Sementara material komet hampir seluruhnya (5/6 bagian) terdiri atas gas dan es. Sehingga ketika komet bergerak mendekati Matahari, es dan gas di permukaannya menguap terkena panas dan membentuk ekor panjang yang kita saksikan.

Perbedaan kedua, orbit komet jauh lebih elips dan luas dibandingkan sebagian besar asteroid. Di tatasurya kita, umumnya komet beredar di antara orbit Mars dan Jupiter. Periode orbital komet bervariasi mulai dari hanya beberapa tahun, sampai ratusan bahkan ribuan tahun.

Sebenarnya, terdapat sejumlah benda langit yang masuk ke dalam kelompok komet dan asteroid sekaligus. Ada beberapa hal yang menjadi sebabnya. Ketika es dan gas yang dimilikinya habis, komet akan kehilangan ekor dan tampak sangat mirip dengan asteroid yang tidak berekor.

Sebaliknya, banyak asteroid yang belakangan diklasifikasikan sebagai komet karena menampakkan aktivitas komet, yaitu mengeluarkan ekor atau rambut. Asteroid-asteroid yang memiliki orbit berbentuk elips yang luas, kemungkinan besar adalah komet yang masih “tidur” atau telah kehilangan lapisan es dan gasnya. Meteoroid umumnya lebih kecil dibandingkan asteroid dan komet. Secara konvensional, benda langit apapun yang berukuran kurang dari 10 meter, biasanya dikelompokkan sebagai meteoroid.

Berbeda dengan komet dan asteroid, orbit meteoroid sangat dekat dengan bumi. Seringkali pecahan meteoroid masuk ke dalam atmosfer Bumi, terbakar dan menghasilkan nyala terang. Pecahan yang masuk tersebut dikenal sebagai meteor. Jika meteor tidak habis terbakar, sisanya yang disebut sebagai meteorit, akan jatuh ke permukaan bumi.

Komet juga membawa H2O dalam bentuk es yang kemudian terperangkap dalam lapisan-lapisan bumi. Es tersebut kemudian mencair, muncul kembali ke permukaan dan mengisi kawah-kawah tersebut menjadi lautan yang kita kenal sekarang.

Penafsiran ayat-ayat berikutnya, khususnya ayat ketujuh “yang keluar dari shulb (sesuatu yang keras) dan taraa’ib (sesuatu yang lunak)” masih menyisakan perbedaan pendapat. Ada yang menyatakan bahwa yang dimaksud ayat tersebut bukanlah sperma, karena sperma tidak diproduksi dalam tulang punggung ataupun tulang dada. Shulb dan taraa’ib pun, dengan demikian tidak lagi dapat ditafsirkan sebagai “tulang punggung” dan “tulang dada” sebagaimana tafsir klasik selama ini, melainkan air dalam arti H2O murni.

Surat ini secara keseluruhan bercerita tentang air, dan menantang manusia bagaimana mengeksplorasi air. Air pada kenyataannya, memang tersimpan di dalam batuan keras (sandstone/batu pasir ataupun limestone/gamping) yang ditutupi oleh batuan cap rock yang lebih lunak seperti claystone (lempung) ataupun silt (lanau).

Akan tetapi, penafsiran shulb dan taraa’ib sebagai “tulang punggung” dan “tulang dada” masih dianggap sahih. Jika kita menarik garis lurus sejajar tulang punggung dan dada kita, maka tidak ada satu pun organ tubuh yang berada di luar kedua garis tersebut. Karena itu, tidaklah keliru jika ayat ketujuh diartikan sebagai sperma, mengingat organ testis yang menghasilkan sperma juga berada di antara tulang punggung dan tulang dada.

Di sisi lain, penafsiran shulb dan taraa’ib tetap harus dikaitkan dengan penciptaan manusia. Ayat keenam dan ketujuh adalah penjelasan atau jawaban dari ayat kelima yang berbunyi falyanzhuri l-insaanu mimma khuliq (maka hendaklah manusia menalari dari apa dia diciptakan). Lagipula, air dalam ayat ini adalah isim fa’il sehingga bermakna mempunyai kemampuan sendiri untuk memancar. Meski ada juga ulama tafsir yang mengelompokkannya ke dalam isim maf’ul yang bermakna dipancarkan.

Langit yang mengembalikan dan bumi yang membelah
Keberadaan siklus di langit maupun di bumi diisyaratkan dalam ayat ke-11 maupun ke-12 surat Ath-Thaariq. Ayat ke-11 berbunyi wa s-samaa’i dzaati r-raj`i. Jika diterjemahkan secara harfiah berarti, “demi langit yang mempunyai sesuatu yang kembali”.

Berdasarkan konteks ayat-ayat awal dari surat Ath-Thaariq ini, ada dua kemungkinan tafsiran mengenai ar-raj`i (sesuatu yang kembali). Pertama adalah komet (thaariq), yang memang selalu kembali mengunjungi bumi dalam periode tertentu. Kedua, mungkin pula dia adalah air (maa’), yang selalu “pergi dan kembali” dalam siklus hidrologi.

Siklus hidrologi bermula dari air permukaan yang menutupi 70 persen permukaan bumi, dan 97 persennya berada di samudera. Setiap hari, sekitar sepertiga energi sinar matahari yang sampai ke bumi dipergunakan untuk menguapkan kira-kira 1.000 km kubik (satu triliun meter kubik) air samudera, sungai, danau dan telaga.

Uap air lalu menyebar di lapisan atmosfer untuk mengatur kelembaban dan suhu. Kemudian uap air mengalami kondensasi dan turun ke permukaan bumi berupa hujan atau salju. Akhirnya air yang terkumpul di darat mengalir dalam bentuk sungai-sungai untuk kembali menuju samudera.

Sementara ayat ke 12 surat Ath-Thaariq yang berbunyi wa l-ardhi dzaati sh-shad`i jika diterjemahkan secara harfiah menjadi “demi bumi yang mempunyai belahan”. Kata as-shad’i bermakna lempeng-lempeng tektonik. Lempeng-lempeng ini menyetel secara tepat seakan-akan dilekatkan oleh seorang tukang kayu yang piawai. Itulah sebabnya mereka dinamai lempeng-lempeng tektonik (bahasa Yunani, tektones, berarti tukang kayu).

Keterkaitan siklus langit dan bumi
Walaupun secara umum ar-raj’i berarti “sesuatu yang kembali”, para ulama tafsir sejak dulu umumnya menafsirkan ar-raj’i sebagai air yang turun dalam bentuk hujan. Padahal, jika diterjemahkan secara luas, ar-raj’i dalam konteks saat ini dapat bermakna sebagai bagian dari “siklus”. Hujan hanyalah salah satu bagian dari siklus hidrologi.

Menariknya, siklus tidak hanya terjadi di langit, akan tetapi juga di bumi. Bahkan kedua siklus tersebut bukan saja mirip, melainkan berkaitan erat. Kata as-shad’i (belahan), sangat dekat dengan istilah fault (sesar) dan fracture (rekahan) dalam ilmu geologi.

Pada skala benua atau samudera, as-shad’i menggambarkan benioff zone. Zona ini adalah bagian subduction zone, yaitu zona tempat lempeng samudera menghunjam masuk ke bawah lempeng benua ataupun lempeng samudera lain. Benioff zone menjadi lokasi pusat gempa-gempa di bumi atau lazim dikenal sebagai hiposentrum.

Jadi, as-shad’i dapat berarti bumi membentuk rekahan atau membelah membentuk lempeng-lempeng tektonik. Teori bahwa permukaan bumi tersusun atas lempeng-lempeng tektonik pertama kali diusulkan oleh Alfred Wegener, seorang ahli meteorologi pada 1915. Wegener awalnya mengira bagian bumi yang membelah tersebut hanyalah benua-benua yang mengapung di atas lautan. Konsep ini terilhami oleh kecocokan geometris antara garis pantai benua Afrika dan Amerika Selatan. Seiring perkembangan ilmu geologi, semakin banyak penemuan ilmiah yang mendukung teori ini.

Hal ini terkait erat dengan pergerakan atau siklus material panas yang berada di bawah lempeng-lempeng tersebut. Arthur Holmes pada 1928, menyebutkan bahwa baik kerak benua maupun samudera mengapung di atas astenosfer. Astenosfer adalah material magma yang panas dan bersifat plastis. Karena suhunya yang panas, material ini bergerak naik ke permukaan, dan keluar di tengah-tengah kerak samudera. Material panas tersebut dengan cepat membeku menjadi batuan baru dan mendorong material batuan lama di lempeng samudera menjauh. Material lempeng tersebut kemudian menghunjam masuk ke dalam astenosfer di zona subduksi. Material ini lantas meleleh dan kembali menjadi material magma. Demikian siklus magma dan batuan terus berjalan, mendorong lempeng-lempeng bergerak membentuk cekungan samudera dan memisahkan benua.

Jelas terlihat bahwa baik di langit maupun di bumi terjadi siklus yang sama-sama berlangsung secara konveksi: material panas naik ke permukaan digantikan oleh material dingin yang turun ke bawah yang selanjutnya dipanasi kembali. Tanpa siklus di bumi, tidak akan terjadi siklus di langit, sebab tanpa siklus di bumi, tidak akan terbentuk cekungan samudera. Akibatnya tidak akan terkumpul air dalam jumlah besar untuk memulai siklus hidrologi. Karena keterkaitan antara siklus di langit dan di bumi inilah, ayat 11 dan 12 surat Ath-Thaariq sebenarnya terkait satu sama lain.

Langit yang mengembalikan
Selain siklus hidrologi, di langit juga berlangsung berbagai siklus lain. Salah satu siklus yang paling mudah diamati di langit adalah siklus atau perubahan fase penampakan bulan. Bulan berubah dari bentuk sabit yang teramat tipis (hilal), berangsur membesar hingga mencapai purnama penuh, dan kembali lagi menjadi sabit tipis hingga hilang sama sekali dari pandangan (bulan mati). Siklus penampakan bulan berpengaruh pada siklus lain di bumi, yaitu siklus pasang surut.

Siklus lain yang terjadi di langit adalah siklus saros, yaitu siklus antara terjadinya satu gerhana (gerhana bulan maupun matahari) dengan satu gerhana lain yang identik. Pengetahuan tentang siklus saros memungkinkan manusia meramalkan terjadinya gerhana matahari maupun bulan.

Di samping siklus saros, matahari dan bulan juga mengalami siklus metonik. Satu siklus metonik panjangnya 19 tahun matahari (satu tahun matahari lebih kurang sama dengan 365 hari kalender). Setiap satu siklus metonik, bulan kembali pada posisi dan fase yang persis sama di langit.

Selain bermakna siklus, ar-raj’i dapat pula diterjemahkan ‘memantul’. Ibaratnya, langit adalah “atap”. Hal ini menarik karena di atmosfer memang terdapat lapisan ionosfer yang memantulkan gelombang short wave (SW). Gelombang ini umum dipakai untuk komunikasi jarak jauh seperti siaran radio internasional serta komunikasi antar pesawat terbang dan kapal laut. Tanpa lapisan ionosfer yang memantulkan gelombang SW, komunikasi jarak jauh akan memerlukan banyak sekali stasiun relay.

Ada juga yang menafsirkan dalam fungsinya sebagai “atap”, langit memantulkan gelombang sinar ultraviolet ataupun partikel berbahaya lain yang datang dari luar bumi. Namun yang menjadi permasalahan adalah bagaimana menyandingkan penafsiran-penafsiran tentang “atap” tersebut dengan ayat berikutnya yang berbicara tentang as-shad’i (belahan).

Sumpah yang terkait
Keyakinan bahwa ayat 11 dan 12 surat Ath-Thaariq terkait satu sama lain, didukung oleh penelaahan kedua ayat tersebut dalam disiplin ilmu bahasa Arab. Huruf wauw yang mengawali ayat wa s-samaa’i dzaati r-raj`i adalah wauw qasam yang bermakna sumpah. Berarti ayat ini adalah sumpah yang baru, sumpah yang berbeda dengan sumpah pada ayat pertama surat Ath-Thaariq yang berbicara mengenai Ath-Thaariq.

Sementara huruf wauw yang mengawali ayat wa l-ardhi dzaati sh-shad`i adalah wauw athaf yang bermakna menyambungkan ayat tersebut dengan ayat sebelumnya. Hal ini berarti kedua ayat tersebut adalah satu kesatuan.

Hal lain yang menarik dari telaah kebahasaan adalah kata ar-raj’i dan as-shad’i itu sendiri. Penelitian yang telah dilakukan sampai saat ini, tidak menemukan makna khusus dari kedua kata tersebut dalam komunitas Arab manapun. Oleh karena itu, kata tersebut bisa bermakna umum.

Adapun huruf alim lam yang mengawali kedua kata tersebut tidaklah menunjukkan pengkhususan. Makna huruf tersebut mirip dengan alim lam dalam kalimat alhamdulillah, yang bermakna “segala”. Dengan kata lain, secara bahasa, berbagai pemaknaan ar-raj’i maupun ash-shad’i dapat diterima sebagai tafsir.

Categories: Tafsir