Archive

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Mitos Valentine Day

13 February 2012 1 comment

Menurut berbagai sumber on the net, ternyata hari valentine (hari kasih sayang) memiliki sejarah yang rancu. Dugaan yang beredar memiliki beberapa versi dibawah ini.

Asal Muasal Hari Valentine
Perayaan hari Valentine termasuk salah satu hari raya bangsa Romawi paganis (penyembah berhala), di mana penyembahan berhala adalah agama mereka semenjak lebih dari 17 abad silam. Perayaan valentin tersebut merupakan ungkapan dalam agama paganis Romawi kecintaan terhadap sesembahan mereka.

Perayaan Valentine’s Day memiliki akar sejarah berupa beberapa kisah yang turun-temurun pada bangsa Romawi dan kaum Nasrani pewaris mereka. Kisah yang paling masyhur tentang asal-muasalnya adalah bahwa bangsa Romawi dahulu meyakini bahwa Romulus (pendiri kota Roma) disusui oleh seekor serigala betina, sehingga serigala itu memberinya kekuatan fisik dan kecerdasan pikiran. Bangsa Romawi memperingati peristiwa ini pada pertengahan bulan Februari setiap tahun dengan peringatan yang megah. Di antara ritualnya adalah menyembelih seekor anjing dan kambing betina, lalu dilumurkan darahnya kepada dua pemuda yang kuat fisiknya. Kemudian keduanya mencuci darah itu dengan susu. Setelah itu dimulailah pawai besar dengan kedua pemuda tadi di depan rombongan. Keduanya membawa dua potong kulit yang mereka gunakan untuk melumuri segala sesuatu yang mereka jumpai. Para wanita Romawi sengaja menghadap kepada lumuran itu dengan senang hati, karena meyakini dengan itu mereka akan dikaruniai kesuburan dan melahirkan dengan mudah.

Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan berlari-lari di jalanan kota Roma sambil membawa potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai dijalan. Sebagian ahli sejarah mengatakan ini sebagai salah satu sebab cikal bakal hari valentine.
Read more…

Advertisements
Categories: Uncategorized

Demi Esok yang Melewati Ruang dan Waktu

6 January 2012 Leave a comment

Sesuatu yang baru selalu memberi nuansa harapan, baik itu barang baru ataupun momen baru. Sadar atau tidak, momen baru seringkali direspon dengan sebuah keinginan dan optimisme bahwa masa yang akan kita masuki dapat memberi lebih banyak kebaikan. Momen baru bisa berupa hari baru, tahun baru, ataupun umur baru.

Ya, misalnya, tahun baru yang selalu diperingati di mana-mana. Tetapi di lain sisi, tahun baru sering juga dipandang sebagai momen untuk menengok ke belakang, “Sebetulnya apa saja yang sudah kita lakukan selama ini?” Dengan mengutarakan pertanyaan itu kepada diri sendiri, kita jadi tahu seberapa banyak capaian kita dan seberapa besar usaha kita. Harapannya, kita menyadari di titik mana kita berada dan mengerti betul usaha macam apa yang harus kita lakukan untuk merealisasikan mimpi akan hari baru yang lebih baik.

Begitulah yang banyak dilakukan manusia di seluruh penjuru dunia. Memang yang lebih nampak adalah harapan agar tahun baru membawa keberkahan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya sehingga diperingati dalam bentuk hura-hura dan tidak mencerminkan pentingnya evaluasi. Bisa jadi di bawah sadarnya manusia mencoba untuk melupakan kesedihan tahun-tahun sebelumnya dan hal itu diungkapkan ke dalam bentuk pesta.

Sesungguhnya tahun baru merupakan milestone dalam kerangka waktu, yang mengingatkan bahwa kita semakin mendekati akhir perjalanan. Bahasa lugasnya, usia kita semakin berkurang. Kesadaran akan hal ini seharusnya dapat mendorong peningkatan dan akselerasi kita dalam beramal soleh. Tentunya, akselerasi membutuhkan usaha yang lebih keras. Lalu apa deskripsi nyata ‘usaha yang lebih keras’ itu?

Islam mengajarkan kita untuk senantiasa menyempatkan diri bertanya: sudah sejauh apakah kita melakukan sesuatu agar hari esok lebih baik dari hari ini. Dan bagi kita hari esok sesungguhnya tidak terbatas di dunia, karena kita diajarkan untuk melihat jauh ke depan, melewati batas ruang dan waktu di dunia ini. Terbukti dengan doa sapu jagad yang menjadi pegangan kita sehari-hari: Ya Tuhan, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta hindarkanlah kami dari azab neraka. Alhasil, kedatangan momen baru pun diperingati sebagai kesempatan untuk berkontemplasi, “Apakah yang kita lakukan selama ini sudah cukup menjadi bekal kita?” Sehingga ketika tiba saatnya kita menengok ke belakang secara keseluruhan, kita tidak akan mempunyai penyesalan dan Allah pun ridho dengan kita.

Pemahaman akan nilai waktu adalah hal mutlak. Kita ingat, Q.S Al-Ashr, dimana Allah bersumpah demi waktu. Waktu yang hilang tidak tergantikan. Karena itu, sebaiknya kita tidak berani bermain-main dengan waktu. Hal kedua adalah menyadari bahwa kualitas ketaqwaan tidak berbatas. Jika kita menyandingkan pemahaman mengenai sempitnya waktu dan tidak berbatasnya kualitas ketaqwaan, kita tidak akan berani membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak terkait dengan peningkatan kualitas itu. Kesadaran bahwa kualitas taqwa itu tidak mengenal batas atas maka kita tidak akan pernah merasa telah berada di puncak dan tidak pula merasa lebih tinggi dibanding yang lain.

Categories: Uncategorized

Penegasan Homoseksual dalam Alkitab NIV 2011

6 January 2012 Leave a comment

Komite Penerjemahan Alkitab yang diketuai oleh Dr. Douglas J. Moo, yang juga menjabat sebagai Ketua Wessner Studi Alkitabiah di Wheaton College, merilis New International Version (NIV) 2011 tahun lalu. Peluncuran alkitab NIV ini dilatarbelakangi oleh adanya perdebatan di antara penganut kristen selama 20 tahun terakhir berkaitan dengan pengajaran alkitab tentang homoseksual yang memicu minat ilmiah yang cukup besar berkaitan dengan kata-kata dan teks yang relevan.

Versi terbaru dari terjemahan alkitab NIV merevisi ayat-ayat yang berkaitan dengan pengecaman praktik homoseksual. Klarifikasi ini termasuk ayat dalam 1 Korintus 6:09. Dalam NIV 1984 menggunakan frase “homosexual offenders” (pelanggar homoseksual), sedangkan dalam terjemahan NIV 2011 diubah menjadi “men who have sex with men” (laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua kata Yunani dalam ayat ini ditujukan pada pelaku aktif dan pelaku pasif dalam aktivitas homoseksual.

Kemudian ayat dalam Roma 1:26, “even their women exchanged natural relation for unnatural ones” diubah menjadi “even their women exchanged natural sexual relations for unnatural ones“. Sementara di Imamat 18:22, “Do not lie with a man as one lies witha woman” diubah menjadi “Do not have sexual relations with a man as one does with a woman“. Salah satu perubahan dramatis adalah 1 Timotius 1:10, kata “perverts” dalam NIV 1984 diubah menjadi “those practicing homosexuality“.

sumber

Categories: Uncategorized

Menelusuri Akar Budaya Natal

16 December 2011 Leave a comment

Istilah natal sesungguhnya berasal dari bahasa Latin yang berarti lahir. Secara terminologi, natal adalah ritual agama kristen untuk memperingati hari dilahirkannya Isa al Masih yang oleh umat Kristiani disebut Tuhan Yesus. Tapi, bernahkah Isa al Masih (Yesus) dilahirkan pada tanggal 25 Desember? Bagaimana pula asal-usul pohon natal dan santa claus? Mari simak uraian berikut.

Tanggal Kelahiran Yesus
Untuk menyibak tabir misteri natal, kita telusuri terlebih dahulu Bibel, yang dalam Lukas 2:1-8 dikisahkan: Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian juga Yusuf, pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud supaya didaftarkan bersama-sama dengan maria, tunangannya yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ, tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin, dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.

Dalam Matius 2:1,10,11 dikisahkan: Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Herodus, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersuka citalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat anak itu besama Maria, ibunya.

Dari kedua Bibel di atas kita dapatkan perbedaan informasi; menurut Lukas, Yesus dilahirkan pada masa kekaisaran Agustus. Sedangkan menurut Matius, Yesus dilahirkan pada zaman Herodus. Akan tetapi kedua injil tersebut tidak menyebutkan secara eksplisit bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember. Malahan informasi dari injil Lukas, bahwa saat Yesus dilahirkan saat itu gembala-gembala tinggal di padang rumput menjaga kawanan ternak pada malam hari menunjukkan kondisi musim panas. Sedangkan bulan Desember di kawasan Palestina suhunya sangat rendah (musim dingin) sehingga mustahil kawanan ternak akan berdiam di padang rumput pada malam hari karena sangat mungkin padang rumput akan dipenuhi salju.

Hal ini bahkan dinyatakan dengan tegas oleh Uskup Barns dalam bukunya Rise of Christianity, “Kepercayaan bahwa 25 Desember adalah hari lahir Yesus yang pasti tidak ada buktinya. Kalau kita percaya cerita Lukas tentang hari lahir itu, dimana gembala-gembala waktu malam menjaga di padang dekat Betlehem, maka hari lahir Yesus tentu tidak di musim dingin di saat suhu di negeri pegunungan Yudea sangat rendah sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil“.

Jika Yesus tidak dilahirkan tanggal 25 Desember, lalu kenapa umat Kristiani merayakan hari kelahirannya pada tanggal tersebut? Penelusuran mengenai hal ini membawa kita mundur jauh ke suatu masa ketika berhala dijadikan sesembahan.

25 Desember dan Budaya Penyembahan Berhala
Secara resmi, perayaan natal baru dijadikan ritual keagamaan Kristen Katolik pada abad ke-4 Masehi karena Bibel sama sekali tidak memerintahkan untuk melaksanakannya. Begitu pula Yesus, tidak pernah mengajarkan/menyuruh murid-muridnya menyelenggarakan peringatan kelahirannya.

Selain itu, pada periode abad ke-1 hingga abad ke-4, dunia dikuasai oleh imperium Romawi yang menganut paham paganis politheisme. Namun pada saat Kaisar Konstantin dan rakyatnya memeluk agama Katolik, mereka tidak mau meninggalkan budaya pagan yang selama ini dianutnya, termasuk perayaan hari kelahiran dewa matahari setiap tanggal 25 Desember. Oleh karena itu, dilakukanlah sinkretisme (penyatuan agama & budaya menyembah berhala) dengan cara menyatukan perayaan kelahiran sun of god (dewa matahari) dengan kelahiran son of god (anak Tuhan = Yesus).

Sinkretisme tersebut dilakukan pada konsili tahun 325. Konstantin memutuskan untuk menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Selain itu, hari Minggu (sunday = hari beribadah menyembah dewa matahari) dijadikan pengganti hari Sabat yang sebelumnya selalu dilaksanakan setiap hari Sabtu. Konstantin juga memerintahkan untuk membuat patung Yesus sebagai pengganti berhala (dewa matahari).

Asal-usul Pohon Natal
Kepercayaan paganis politheisme yang dianut masyarakat Romawi merupakan warisan dari kepercayaan pagan yang sesat zaman Babilonia. Tentang hal ini, H.W. Armstrong menjelaskan dalam bukunya The Plain Truth About Christmas, Worldwide Church of God:

Nimrod (Namrud) cucu Ham, anak Nabi Nuh adalah pendri sistem kehidupan masyarakat Babilonia Kuno. Nama Nimrod dalam bahasa Hebrew (Ibrani) berasal dari kata “marad” yang artinya membangkang atau “murtad” (dalam istilah Islam), antara lain dengan keberaniannya mengawini ibu kandungnya sendiri bernama Semiramis. Namun usia Nimrod tidak sepanjang usis ibu sekaligus istrinya. Maka, setelah Nimrod mati, Semiramis menyebarkan ajaran bahwa ruh Nimrod tetap hidup selamanya walaupun jasadnya telah mati. Dibuatlah olehnya perumpamaan pohon “evergreen” yang tumbuh dari sebatang kayu yang mati. Di saat hari kelahirannya, setiap tanggal 25 Desember, dinyatakan bahwa Nimrod selalu hadir di pohon evergreen dan meninggalkan bingkisan yang digantungkan di ranting-ranting pohon itu. Inilah asal-usul pohon natal.

Selanjutnya, Semiramis dianggap sebagai “ratu langit” oleh masyarakat Babilonia, sedangkan Nimrod dipuja sebagai “anak suci dari surga”.

Asal-usul Santa Claus


Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa perayaan natal berasal dari budaya masa Babilonia dan Romawi. Selain menyembah dewa matahari sebagai dewa tertinggi, masyarakat Romawi juga menyembah dewa Saturn dengan cara mengadakan ritual keagamaan pada bulan Desember yang disebut Saturnalia. Saturn adalah dewa yang paling keji dalam budaya pagan, dia meminta anak kecil untuk dikorbankan.

Meski orang Romawi pada periode berikutnya tidak lagi mengorbankan nyawa manusia, tapi darah mash tertumpah dalam perayaan saturnalia pada bulan Desember yaitu dengan pertaruangan para gladiator. Johann D. Fuss, (dalam buku Roman Antiquities hal. 359) menyatakan bahwa “The gladiatorial shows were sacred (to Saturn)“. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Justus Lipsius (dalam buku Saturnalia Sermonum Libri Duo, Qui De Gladiatoribus, lib. i. cap. 5), “The gladiators fought on the Saturnalia, and … they did so for the purpose of appeasing and propitiating Saturn“.

Festifal Saturnalia masih dirayakan hingga kini oleh penganut Kristen di seluruh dunia dalam wujud perayaan natal. Pohon natal dihiasi oleh lampu yang dalam tradisi asalnya adalah lilin yang dibuat dari lemak mayat bayi yang dikorbankan pada dewa Saturn. Pohon natal juga digantungi bola-bola, tradisi asalnya adalah kepala-kepala bocah yang dikorbankan untuk dewa Saturn. Bahkan dewa Saturn sendiri diadaptasi menjadi sosok imajiner Santa Claus, seorang tua dengan janggut panjang yang selalu dikelilingi anak-anak.

Epilog
Dalam hal akidah, jelas ada perbedaan yang tegas antara Islam dan Kristen, termasuk juga Yahudi. Adalah benar dan telah terbukti janji iblis yang ingin menyesatkan manusia dari kemurnian akidah hingga datangnya hari kiamat. Faktanya dapat kita saksikan dengan pewarisan budaya pagan yang kemudian dianggap sebagai ritual keagamaan seperti perayaan natal. Oleh karena itu, Mahabenar Allah yang telah berfirman, “Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah’. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)’ (Q.S. Ali Imran, 3:64).

Categories: Uncategorized

Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta

5 December 2011 1 comment

Bila malam sudah beranjak mendapati subuh, bangunlah sejenak.  Lihatlah istri anda yang sedang terbaring letih menemani bayi anda.  Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap.  Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.

Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari.  Disaat anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, tubuh letih istri anda barangkali belum benar-benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri anda pula yang harus mencucinya.

Di saat seperti itu, apakah yang anda pikirkan tentang dia?  Masihkan anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng, sementara di saat yang sama anda menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam berbicara, halus dalam memilih setiap kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.

Sekali lagi, masihkan anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut?  Tentu saja ini tidak berarti membiarkan istri membentak anak-anak dengan mata membelalak.  Tidak. Saya hanya ingin mengajak anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara suami tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tak sabar. Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Di saat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak menjerit karena cubitannya yang bikin sakit.

Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada anda. Sementara gejolak-gejolak jiwa memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah anda akui keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak.

Jangankan istri anda yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi SAW tak mau mendengarkan melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi SAW hanya diam menghadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.

Ketika menginginkan ibu anak-anak anda selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu anda berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu anda berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari. Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta, dan kasih sayang. Ada ketulusan yang harus anda usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak anda, sepenat apapun ia.

Ada lagi yang lain: PENGAKUAN. Meski ia tak pernah menuntut, tetapi mestikah anda menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, tak adakah yang bisa anda lakukan sekedar mengucapkan terima kasih atau menyatakan sayang bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta. Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka,”ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untukmu?”

Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya meyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau anda terlibat dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridha Allah, sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang anda lakukan. Anda tidak akan mendapati amal-amal anda saat berjumpa dengan Allah di yaumil-qiyamah. Alaakullihal, apa yang ingin anda lakukan, terserah anda. Yang jelas, ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih.

Semoga dengan kerelaan anda untuk menyatakan terima kasih, tak ada airmata duka yang menetes baginya, tak ada lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang anda berikan kepadanya, kelak istri anda akan berkata tentang anda sebagaimana Bunda ‘Aisyah RA berucap tentang suaminya, Rasulullah SAW,”Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku”.

Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya. Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan. Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia.

Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu.  Marilah anda ingat kembali ketika Rasulullah SAW berpesan tentang istri. “wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah.” kata Rasulullah SAW melanjutkan. ” kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan ikatan Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurusi istri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk selalu berbuat baik.”

Anda telah mengambil istri anda sebagai amanah dari Allah. Kelak anda harus melaporkan kepada Allah Ta’ala bagaimana anda menunaikan amanah dari-Nya. Apakah anda mengabaikannya sehingga guratan-guratan dengan cepat menggerogoti wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah, anda sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istri. Semoga anda memberi ungkapan yang lebih agung untuk istri anda.

Categories: Uncategorized

7 Keajaiban Dunia vs Keajaiban Tuhan

5 December 2011 Leave a comment

Suatu hari di sebuah kelas, para siswa sedang mempelajari “Tujuh Kejaiban Dunia”. Pada awal pelajaran mereka ditugaskan untuk menuliskan tujuh keajaiban dunia yang mereka ketahui saat ini. Walaupun ada beberapa yang tidak sesui, namun secara garis besar mereka menuliskan tujuh kejaiban dunia tersebut:
1. The Great Wall, China
2. Petra, Jordan
3. Christ Redeemer, Brazil
4. Machu Picchu, Peru
5. Chichen Itza, Mexico
6. The Taj Mahal, India
7. The Roman Colosseum, Italy

Ketika mengumpulkan daftar tujuh kejaiban dunia dari para siswa, sang guru memperhatikan seorang gadis kecil pendiam, yang belum mengumpulkan tugasnya. Lalu sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan tugasnya. Gadis pendiam itu menjawab, “Iya bu, saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya”.

Lalu sang guru berkata, “Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki, mungkin kami bisa membantu memilihnya”. Gadis kecil itu ragu sejenak, kemudian membaca, saya pikir tujuh keajabian dunia adalah:
1. Bisa melihat
2. Bisa mendengar
3. Bisa menyentuh
4. Bisa menyayangi

Dia ragu sebentar, dan kemudian melanjutkan

5. Bisa merasakan
6. Bisa Tertawa
7. Dan bisa mencintai

Ruang kelas seketika senyap, dalam benaknya sang guru berpikir, “Alangkah mudahnya kita menyebut hasil karya manusia sebagai “kejabaiban”, kita lupa “keajiban” berupa nikmat yang Allah berikan kepada kita tiap detik, dan menganggapnya sebagai hal yang “biasa”.

Semoga kita dapat merenungkan tentang segala hal yang betul-betul ajaib dalam kehidupan kita. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. Ar-Rahmaan)

Categories: Uncategorized

Kasih Sayang Ibu

3 December 2011 Leave a comment

Bulan Desember dalam tradisi kita identik dengan kasih sayang ibu. Di pekan pertama bulan ini, ada kisah menarik yang mudah-mudahan memberikan hikmah untuk mengingatkan kita akan besarnya jasa dan pengorbanan ibu.

Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya. Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu itu sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak menggendong ibunya  sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak pun menurunkan ibunya.

“Bu, kita sudah sampai”, kata si anak. Ada perasaan sedih di hatinya. Entah kenapa dia tega melakukannya. Si ibu, dengan tatapan penuh kasih berkata: “Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang”.

“Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan”. Setelah mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.

Mungkin cerita di atas hanya dongeng. Tapi di jaman sekarang, tak sedikit kita jumpai kejadian yang mirip cerita di atas. Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya sibuk bisnis atau urusan lain. Orangtua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. Kadang hanya dimasukkan ke panti jompo, dan ditengok jika ada waktu saja. Kiranya cerita di atas bisa membuka matahati kita, untuk bisa mencintai orangtua dan manula. Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, di saat mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan Yang Maha Kuasa. Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini.

Categories: Uncategorized